Minggu, 15 Desember 2013

Please deh...!!!

Masih terbayang jelas kejadian kemarin. Sungguh, sampai hari ini masih membuatku geleng kepala dan bertanya "kok bisa ya?"

Setiap orang seharusnya bisa menahan diri, menahan emosi. Aku pun bukan termasuk orang yang pandai menahan emosi, tapi setidaknya tidak untuk hal-hal yang kurang penting. Karena menahan emosi dan menahan diri dalam hal apapun itu penting. Agar tidak menyakiti orang lain, merusak suasana, dan membuang energi dengan percuma.

Dan kemarin, mereka seperti membuang energi percuma. Bagaimana tidak, mereka memperdebatkan sesuatu yg seharusnya tidak perlu diperdebatkan. Karena bisa ditanyakan, dibahasakan, dan dibicarakan dengan santai. Jadi, tidak ada yang merasa tersinggung, tidak ada yang merasa disusahkan, tidak ada yang terdzolimi pada akhirnya.

Tapi semua sudah terjadi, di depanku mereka saling berargumen, menjelaskan hal-hal yang seakan ditarik-tarik untuk menambah pembahasan, sampai ada yang setengah berteriak. Oh, andai mereka tau kalau aku gemetar menyaksikan itu dan aku cuma bisa diam menggeser-geser layar ponsel. Bahkan untuk pergi dari ruangan itu pun aku tidak bisa. Seperti dipaku.
Bukannya aku tidak pernah menyaksikan orang yang saling berteriak, aku pernah dan sama seperti kemarin, jantung berdebar dan gemetar.
Lalu apa bedanya?
Perbedaannya terletak pada apa yang dibahas, kalau perdebatan sebelumnya yang dibahas adalah uang masalah yang sensitif. Sedangkan kemarin hanya masalah sentimen pribadi, itu menurutku.

Memang sih, ditempat itu sering mempermasalahkan dan memperdebatkan hal-hal sepele karena satu orang tidak senang dengan satu, dua atau lebih orang lain. Tapi please deh...mau sampai kapan?
Jangan membuat orang lain jadi terganggu dong...

Dijaga lagi perkataannya, dipikir ulang setiap kaya yang mau diucapkan, seperti kita yang tidak ingin terluka karena perkataan orang lain

Sabtu, 30 November 2013

Menunggu



Menunggu...
Semua orang yang mendengar kata itu pasti tidak suka. Ya, semua orang tidak suka menunggu, tidak mau menunggu dan tidak sabar menunggu. Begitu juga aku. Buatku menunggu adalah pekerjaan yang paling membosankan dan menyebalkan. Bagaimana tidak, saat menunggu waktu kita terbuang begitu saja. Apalagi kalau menunggu dalam waktu yang lama. Banyak sekali pekerjaan yang bisa diselesaikan. Menurutku orang yang membuat orang lain menunggu adalah orang yang tidak mengerti betapa menyebalkannya menunggu.

Entah kenapa dari dulu sampai sekarang, bisa dibilang hampir semua temanku sering sekali membuat aku menunggu. Atau dengan kata lain aku punya banyak teman yang mengalami penyakit "jam karet". Mulai dari yang hobi "ngaret" cuma 15 menit sampai satu jam pun ada. Ini beneran, aku pernah nunggu mulai dari sabar sampai kesal selama satu jam. Dan yang ditunggu datang dengan santai, tersenyum tanpa rasa bersalah karena sudah membuatku menunggu satu jam plus tanpa minta maaf. Aku cuma bisa pasang muka cemberut karena sudah tidak punya tenaga untuk sekedar bertanya alasannya.

Eits, bukan cuma temanku. Beberapa acara entah itu yang formal semacam rapat, seminar, workshop, pelatihan dan lain-lain juga sering "ngaret". Dapat undangan rapat jam 09.00, mulainya ternyata 09.30 atau kadang jam 10.00. Aku pernah tergabung dalam kepanitiaan yang menyelenggarakan sebuah acara yang juga "ngaret". Jujur, maunya aku mulai acara tepat waktu. Tapi panitia bukan cuma aku, ada beberapa orang yang meminta untuk menunggu jumlah peserta yang hadir banyak. Jadi aku juga pernah membuat orang menunggu. Melakukan hal yang aku sendiri tidak menyukainya.

Jadi sepertinya aku sudah terbiasa dengan menunggu. Aku pernah menyiasati agar tidak menunggu terlalu lama dengan mencoba untuk "ngaret". Berhasil ? tentu tidak, aku tetap yang pertama sampai di tempat janjian dan harus menunggu. Sampai-sampai ada satu temanku yang mungkin tidak enak denganku pernah bilang, "Duluan aja ya..aku ga usah ditungguin. Soalnya bakalan telat"
Tuh kan saking terbiasanya jadi seperti dijadwalkan untuk telat.

Sekarang aku sudah mulai terbiasa, ambil positifnya saja. Allah mengajarkan aku terus melatih kesabaran. Bahkan dalam hal jodoh pun, Allah melatih kesabaranku. Sekarang aku mulai melakukan hal-hal yang bisa membunuh kejenuhan saat menunggu. Kalau ada buku baru, aku selipkan di tas jika aku pergi ke suatu tempat dan janjian dengan teman. Tidak ada buku, handphone jadi andalan teman menunggu. Bisa main game, buka sosial media, browsing, sampai menulis di blog. Kadang juga tilawah. Tapi, jika semua sudah dilakukan masih tetap harus menunggu, jurus pamungkasku adalah memperhatikan kondisi sekitar.

Dan...kalau ditanya lebih baik menunggu atau ditunggu?, jawabanku adalah aku tidak suka keduanya. Tidak ada yang lebih baik dari keduanya. Menunggu membuat jenuh, membosankan dan menjengkelkan, sedangkan ditunggu membuat orang lain jenuh, bosan dan jengkel. Yang lebih baik adalah bersama. Kalau berjanji datang disuatu tempat dan diwaktu tertentu, maka datang bersamaan adalah yang lebih baik. Bersama berjalan atau bergerak sampai bertemu disatu titik. Tanpa harus da yang menunggu atau ditunggu.

Senin, 25 November 2013

Kiriman dari Jogja

Dua hari yang lalu, kiriman buku dari Jogja sudah sampai. Tiga buku dengan harga promo. Tiga buku yang akan menjadi bekal ilmu buatku.

Dari ketiganya, salah satu buku berwarna orange campur merah sepertinya tidak akan aku buka, apalagi membacanya. Buku itu akan aku hadiahkan kepada seseorang yang menjadikan aku halal baginya. Hadiah istimewa untuk orang teristimewa.

Dua buku lainnya aku baca berurutan mulai dari yang berjudul "Wonderfull Family", setelahnya baru buku yang berwarna pink "Menyayangi Anak Sepenuh Hati" yang terakhir "dilahap".

Konsep Diri Untuk Mengoptimalkan Diri


“…Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan; maka mereka akan mendapat pahala yang tidak ada putus-putusnya…” (Q.S. At-Tin : 4-6)

Dari penggalan ayat di atas, dapat kita ambil pelajaran bahwa jika kita tidak ingin menjadi orang yang dikembalikan ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), maka kita harus beriman dan mengerjakan kebajikan. Dan bagaimana bisa terus mengerjakan kebajikan?, maka kita harus bisa mengoptimalkan potensi diri terus memperbaiki diri. Karena pada hakikatnya manusia harus terus memperbaiki diri atau berubah menjadi lebih baik sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat akal yang telah diberikanNya.

Lalu bagaimana cara mengoptimalkan diri?

Caranya dengan belajar mengenal diri sendiri, belajar konsep diri.

Konsep diri adalah persepsi seseorang terhadap dirinya sendiri, pengakuan akan kemampuan, tentang perannya serta penilaian atas dirinya. Kategori dari konsep diri dibagi menjadi tiga, yaitu :
1.      Aku diri : aku seperti aku pahami
2.      Aku sosial : aku seperti yang orang lain nilai
3.      Aku ideal : aku seperti yang aku inginkan

Dari ketiga konsep itu haruslah seimbang. Jika aku diri lebih besar dari aku sosial, maka kita akan menjadi orang yang sombong. Jika aku sosial lebih dominan dari aku diri, maka kita menjadi orang yang tidak percaya diri. Dan, jika aku ideal lebih besar dari yang lain, maka kita menjadi orang yang tidak realistis. So, ketiganya harus seimbang. Memahami diri sendiri sesuai porsinya, menanggapi penilaian orang lain akan diri kita sesuai dengan porsinya dan menentukan target, tujuan, atau misi hidup.

Saat konsep diri sudah dikuasai, kePDan akan muncul dengan sendirinya. PD atau percaya diri adalah pemahaman terhadap kemampuan diri. Orang yang percaya diri mengetahui kelebihan dan kelemahannya. Tidak sibuk dengan kelemahannya dengan cara menutupinya, tapi mengoptimalkan segala kelebihannya. Sehingga dia akan sibuk bekerja dengan segala potensinya yang ada, bekerja semaksimal yang dia mampu. Orang yang percaya senang mencoba hal-hal baru, tidak diam, dan tidak senang berlama-lama di zona nyaman. Kebalikannya, orang yang tidak percaya diri maka dia sudah tentu menghambat optimalisasi dirinya dan senang berada di zona nyaman serta tidak suka dengan tantangan atau hal-hal baru.

Ada beberapa prinsip untuk memperkuat percaya diri, antara lain :
1.      Tumbuhkan mental positif, dengan selalu berbicara dan berpikir positif dengan diri
2.  Bijaksana dalam menentukan target atau menganut prinsip SMART (specific, measurable, achieve, realible, dan time bond) dalam membuat target
3.      Belajar cara bergaul
4.      Perhatikan penampilan fisik dan psikis
5.      Bergaul dengan orang yang memiliki percaya diri tinggi

Sedangkan, untuk mengoptimalkan diri dapat dilakukan dengan langkah-langkah seperti :
1.      Mengenal diri, belajar konsep diri
2.      Menentukan standar-standar tertinggi
3.      Membangun prinsip profesionalisme
4.      Menemukan hal-hal baru atau berinovasi



Rabu, 20 November 2013

Angkot (part 5) "Sebuah Kenangan"

Menikmati perjalanan ke Serang sendiri dengan angkutan umum, seperti membangkitkan kembali memori saat SMA.

Setiap pagi, kurang lebih pukul 06.00 hampir setiap hari kecuali minggu sudah berdiri di depan jalan, menunggu angkot ke arah serang. Waktu itu angkot masih lumayan jarang, jadi menunggu angkot kosong pagi hari bisa sampai 10 menit. Tidak seperti sekarang, belum nyebrang saja sudah ditunggu. Kalau sudah di angkot, posisi paling favorit adalah pojok. Sepanjang perjalanan mata tak pernah lepas dari pemandangan yang ada di sepanjang jalan. Untuk orang lain, perjalanan Cilegon-Serang tidak ada yang menarik. Tidak ada pemandangan indah, yang ada hanya rumah-rumah, tanah kosong atau ruko.Tapi tidak bagiku. Sepanjang perjalanan selalu ada yang menarik. Entah itu suatu tempat yang selalu aku lewati atau orang-orang yang aku lihat selama perjalanan.

Mulai dari setelah perempatan Serdang, tepatnya mulai memasuki Toyomerto, di sebelah kiri jalan terhampar tanah kosong dan persawahan. Luas seakan tak berujung. Dari jalan aku bisa melihat samar-samar mobil yang melintas di jalan tol Merak-Jakarta. Kalau lewat tempat ini tuh seperti di pedesaan, apalagi musim padi sudah mulai agak besar, hijau sampai ujung. Hanya beberapa menit aku bisa memandangi pemandangan itu, setelahnya berganti deretan kios-kios bunga dan tanaman yang seakan mempercantik jalan.

Pejaten, biasanya disini ada satu temanku yang naik, Mas Munyus-aku biasa memanggilnya seperti itu. Tegur sapa sebentar dengan dia lalu kembali fokus karena aku tidak mau tertinggal satu momen yang aku tunggu. Sebuah rumah di sisi kiri jalan di sebelah jembatan. Aku selalu menunggu untuk bisa memandangi rumah itu dari dalam angkot. Rumahnya kecil, sederhana dan selalu sepi dengan pohon mangga di depannya. Ada apa dengan rumah ini? Ah cukup aku saja yang tau. Biar menjadi rahasia saja.

Lewat Kramat Watu, di daerah Taman sebelum gerbang komplek kopasus. Tempat ini masih bagian komplek kopasus, ada sebuah rawa tapi mungkin lebih tepat kalau disebut kubangan karena kecil. Biarpun kecil, tapi buatku rawa ini indah. Setiap hari teratai-teratai di rawa itu tidak pernah absen memekarkan bunganya yang berwarna merah muda. Indah. Diantara hijau rumput dan pepohonan di kanan kiri, tersembul warna merah muda.

Setelah Taman, perjalananku hampir sampai di pemberhentian pertama. Tidak ada tempat yang aku tunggu untuk aku lihat, semua serba biasa. Biasanya aku mulai meladeni obrolan teman satu sekolah yang juga kebetulan satu angkot. Atau bahkan aku mulai sadar akan sesuatu. Misalnya saja, saat air minum yang ku bawa tumpah. Aku baru sadar beberapa menit sebelum sampai di Pocis, tempat pemberhentian pertama. Rok sudah basah, apalagi buku-buku dalam tas, semuanya sudah terbanjiri air. Tinggal aku yang panik bukan kepalang. Bukan cuma soal buku, tapi dengan rok yang basah hampir di seluruh bagian. Malunya minta ampun. Sampai di sekolah, aku seperti orang yang baru dari kamar kecil, pipis dan tersebor air.

Perjalanan selama 3 tahun itu penuh cerita dan kenangan.

Dan kali ini aku kembali menyusuri jalan yang sama, tapi semuanya sudah berubah. Tidak ada lagi sawah dan tanah kosong karena sudah dibangun perumahan. Rumah kecil itu semakin sepi, meski sudah mengalami perbaikan tapi tetap selalu sepi seperti dulu. Tidak ada lagi teratai di rawa, bahkan rawanya sudah terlihat. Sudah terlalu banyak bangunan baru, perumahan baru, dan ruko-ruko baru. Hampir semua berubah seperti kondisiku yang juga banyak berubah. Tapi, tiap kali melewati jalan yang sama, masih ada kesenangan dan kenangan yang tiba-tiba saja muncul.


20 Oktober 2013

Selasa, 08 Oktober 2013

Bahagia di Sekolah

"Kok betah sih ngajar? Kan gajinya kecil. Kurang pantas deh kalau S1 tapi dapat gaji sebesar itu"

Begitu kira-kira yang sering disampaikan orang-orang padaku. Mulai dari teman, keluarga jauh sampai keluarga terdekat komentarnya sama.
Aku cuma bisa senyum menanggapi komentar seperti itu, karena rasanya percuma aku jelaskan juga belum tentu mereka paham dengan apa yang menjadi pendapatku, apa yang aku yakini.

Aku sudah yakin, menjadi guru adalah profesi yang akan aku jalani sampai Allah mengambil kesanggupanku untuk melakukannya, sampai aku berpulang kepadaNya.
Aku terlanjur jatuh cinta dengan pekerjaanku ini, malah semakin cinta. Bahkan ini bukan lagi menjadi pekerjaan tapi sudah semacam kebiasaan, hobi, bahkan kebutuhan.

Anak-anak di sekolah yang selalu membuat warna berbeda setiap harinya. Hari ini mereka bertingkah manis sekali, besok mereka bisa jadi menyebalkan sekali. Hari ini mereka semangat sekali, besok mereka bisa jadi malas semua, ngantuk semua kompak. Tidak pernah sama tiap harinya. Itu yang membuat aku semakin cinta. Sesumpek apapun keadaanku, bagaimanapun kondisiku saat berhadapan dengan mereka seakan memberi aku waktu untuk berbahagia, bahagia di sekolah dan tersenyum lewat canda dan celetukan-celetukan aneh yang keluar.

Bukan berarti siswa-siswa ku tidak membuat aku pusing. Ada juga, tapi aku sebut yang beberapa itu dengan oknum. Karena itu lagi dan lagi orang yang bermasalah, yang menjadi bahan pembicaraan guru-guru. Tapi yang oknum itu bisa juga bersikap manis. Ya begitulah, mereka tetap anak-anak yang masih mencari jati diri. Tingkah mereka tanpa terkecuali yang membuat aku selalu merasa diliputi oleh kebahagiaan.

Jadi, aku tidak pernah memperdulikan berapa gaji yang aku terima. Karena bukan itu yang membuat aku merasa bahagia. Aku bekerja sebagai bentuk rasa syukur atas ilmu yang aku punya, atas kebahagiaan yang aku terima, atas rahmat dan kesempatan yang diberikan kepadaku. Dan aku mendapatkan lebih dari apa yang seharusnya aku dapatkan. Wajah-wajah calon pengganti yang bisa aku tatap setiap hari.

Kalau kata orang bahagia itu sederhana, aku setuju. Aku cuma perlu terus menemani calon-calon pengganti di sekolah untuk mendapatkan salah satu kebahagiaanku, yang akan menyempurnakan kebahagiaanku yang lain.

Jumat, 04 Oktober 2013

Harapan Sederhana

Tahukah kamu, aku memilihmu
Memilihmu diantara milyaran pria di dunia ini
Dan aku mau kamu tahu harapanku tentangmu

Harapanku sederhana
Sesederhana tatapanmu

Aku mau kamu yang datang ke rumahku
menemui orang tuaku dan memintaku

Aku mau kamu menjadi orang yang pertama aku lihat
ketika aku membuka mata
Menjadi orang terakhir yang aku pandang
ketika aku menutup mata

Aku ingin kamu yang menemaniku
disaat kuat dan rapuhku
disaat senang dan susahku

Sederhana bukan?

Aku masih terus berharap
tak mempedulikan apa yang ada
tak mengindahkan sinyal-sinyal yang memudarkan harapan

Berkali-kali aku menyerah
tapi sebanyak itu pula harapanku tumbuh

Mencoba untuk tahu diri
mengerti bahwa kamu cukup jauh
tapi sesaat itu pula aku yakin
kamu dekat, semakin mendekat

Dan kali ini
harapan itu membesar
seakan dekat dengan kenyataan
senyata kamu yang semakin dekat

Sabtu, 28 September 2013

Nutrisi hati #1

Seperti kita yang akan menuangkan air dari botol ke dalam gelas, maka botol itu harus berisi air. Demikian analogi dalam proses belajar, jika mau mengajarkan "sesuatu" maka yang akan mengajar pun harus terlebih dahulu diisi "sesuatu".

Belajar lagi
Lagi
dan
Lagi

Rabu, 18 September 2013

Istirahat(lagi)

Saat banyak hal yang harus dikerjakan dan diselesaikan, malam ini aku cuma bisa berbaring di tempat tidur sambil menekan tombol-tombol keyboard di ponsel, merangkai kata-kata, mengadu pada diri sendiri kondisiku sendiri.

Badanku sudah minta jatahnya untuk lebih diperhatikan. Kali ini aku harus mengesampingkan semangat yang menggebu dan pekerjaan yang seakan berteriak minta diselesaikan, tapi badan lebih menjerit untuk dipenuhi haknya.

Maka kali ini aku mencoba penuhi. Aku tidak mau dzolim pada diriku sendiri yang akan berakibat lebih parah lagi. Mungkin kali ini aku hanya butuh berbaring, butuh tidur yang lebih lelap, butuh tidur yang berkualitas. Jadi besok pagi semua akan kembali seperti semula. Semangat bersinergi dengan kondisi badan untuk menyelesaikan semuanya.

Aku beristirahat lagi. Istirahat yang lebih berkualitas.

Ayolah isi kepala bersahabatlah, ayo hati mengertilah, ayo tubuh kali ini aku butuh lebih banyak endorfin untuk lebih tenang dan merasa senang.

Tensi darah normal

Kandungan oksigen dalam darah normal

Suhu badan normal

Tidak lesu

Sehat

Sehat

Sehat

Jumat, 13 September 2013

Dekat

Aku merasa semakin dekat
Dekat hingga aku tak perlu berlari
Hanya sepelemparan pandang

Saat aku pejamkan mata
Aku bisa merasakan kedekatan itu semakin menjadi
Seperti tak berjarak

Setiap tarikan nafas terasa berat
Tersengal padahal hanya berjalan
Setapak demi setapak
Menikmati tiap sentuhan telapak kaki dengan tanah

Ah...energi seakan habis
Entah berapa peluh yang jatuh
Berapa kalori yang terbuang
Berapa kali jatuh bangkit
Menyerah saja
Tapi ini dekat

Coba..coba cium wanginya
Tidakkah ini harum sekali
Rasakan angin yang lembut menyapa wajah
Seakan memanggil untuk segera
Ayolah bukan saatnya berhenti

Yang dibutuhkan hanya terus berjalan
Terus menikmati sentuhan kaki ke tanah
Nikmati dan tak perlu tergesa untuk melepasnya
Karena ini sudah dekat
Dekat sekali....

Minggu, 08 September 2013

It's Like Dejavu

Menurut Wikipedia dejavu adalah sebuah frasa Perancis yang artinya secara harfiah adalah "pernah melihat" atau "pernah merasa". Maksudnya adalah mengalami sesuatu pengalaman yang dirasakan pernah dialami sebelumnya. Fenomena ini disebut dengan istilah paramnesia dari bahasa Yunani para yang artinya "sejajar" dan mnimi "ingatan".
Atau kalau diartikan secara gampannya dejavu itu merasa kalau kejadian yang dia alami saat itu seperti sudah pernah dialami sebelumnya.

Hal itu sering aku alami, bukan cuma aku tapi orang lain pun pasti pernah mengalami hal yang sama. Hanya saja beberapa hari ini seperti setiap hari mengalami dejavu. Dalam aktifitasku yang padat aku berhenti beberapa detik dan bilang pada diriku sendiri, "tunggu, aku pernah seperti ini". Tidak berhenti sampai disitu, bahkan kadang aku bisa tau setelah ini pasti begini dan tebakanku selalu benar.

Seperti kemarin, waktu di kelas aku beberapa kali berhenti beberapa detik dan merasa aku pernah berada dalam kondisi seperti ini. Sama persis, dan lagi-lagi ketika berhenti sejenak aku selalu bilang, "setelah ini pasti Si A bakal ngomong seperti ini dan ditanggapi dengan Si B dan lainnya seperti ini dan nanti akan begini....", semuanya benar. Selalu benar dan selalu seperti itu dan aku tidak suka dengan kondisi seperti ini.

Berdasarkan pengertian di atas, kalau aku pikir dejavu itu hanya sampai merasa pernah mengalami bukan sampai bisa menebak apa yang akan terjadi berikutnya, begitu kan?
Atau malah apa yang aku rasakan juga termasuk dejavu?
Entahlah, yang pasti aku sangat tidak suka.

Ah, aku ingat aku pernah bertanya ke salah satu dosen psikologi tentang apa yang biasanya aku rasakan. Dan beliau menjawab, kondisi seperti itu biasanya dialami pada orang yang kondisi psikologisnya sedang tidak stabil atau dapat dikatakan sedang mengalami gangguan psikologis. Aku kaget dengan jawaban itu. Tapi beliau mencoba menenangkan bahwa gangguan psikologis itu bermacam-macam, dari yang ringan sampai yang berat. Apa yang aku alami termasuk tipe yang ringan. Mungkin aku sedang dalam kondisi terlalu banyak pikiran, jenuh, atau kurang beristirahat sehingga muncul pikiran-pikiran seperti itu.
Dan saat ini kondisinya aku sedang jenuh.

Aku butuh istirahat bukan hanya untuk fisik tapi juga psikis, butuh sesuatu yang bisa menyegarkan kembali pikiranku. Kalau fisik yang lelah, cukup tidur lelahnya hilang. Tapi psikis butuh lebih dari sekedar tidur. Dan aku butuh itu sekarang.
Saatnya beristirahat untuk kesegaran fisik dan psikisku.
Selamat beristirahat...................

Sabtu, 07 September 2013

Random

Hari ini pengen banget update blog tp bingung mau nulis apa. Terlalu banyak yang pengen aku tulis, terlalu random. Kayak jadwal dan aktifitas aku sepekan ini. Ngacak nggak jelas walaupun sudah disusun sebisanya.

Oke, dari yang banyak itu coba aku tarik satu persatu. Dimulai dari aku yang coba jujur dengan diri sendiri, terbuka dengan kondisi yang ada tanpa mencoba untuk berpura-pura. Awalnya ragu dan segan karena pasti dapat cap cengeng, nggak sesuai apa yang diomongin atau cemen, kalah dengan kondisi. Tapi emang itulah aku, kali ini aku kalah dengan kondisi, kalah melawan gempuran kemunduran dan akhirnya berniat mundur pelan-pelan. Keputusan sudah diambil dan sudah disampaikan. Terserah mau dibilang apa dan nggak peduli dengan respon yang ada.

Setelah itu ada lagi satu hal yang sebenernya nggak penting tapi nggak ngerti kenapa aku malah merasa keganggu dengan itu. Ditanya sesuatu yang seharusnya nggak ditanyain ke aku buatku itu mengganggu. Kenapa nggak langsung ke orangnya?
Aku tuh paling nggak suka orang yang ngedumel di belakang tapi di depan orang yang dimaksud malah seperti nerima-nerima aja. Mencoba patuh. Kalau emang nggak sepemikiran, nggak sependapat, atau nggak suka kenapa nggak langsung ngomong aja. Sesuatu yang terpaksa itu akan membuang energi yang lebih banyak jadinya malah cepet capek. Suka aneh dengan orang yang sering membuang energinya sia-sia untuk hal-hal kayak gitu.
Ups...kadang nggak bisa pungkiri aku juga pernah kayak gitu.

Itu tadi dua hal dari banyak hal yang nggak penting tapi cukup mengganggu. Selain dua hal tadi, pekan ini diisi dengan kegiatan yang nggak ngasih kesempatan aku untuk tidur siang biar cuma 15 menit. Berangkat pagi, pulang sore. Kayaknya pekan ini beneran kurang menikmati hari. Cuma bengong pas sadar hari ini sudah sabtu lagi. Dan hari ini pun padat pagi sampai sore. Sabtu ketemu sabtu yang padat, ngacak, dan menguras energi..-_-'

Senin, 02 September 2013

Pelajaran dari Syeikh di Mesir

Suatu keberkahan bisa bertemu dengan mahasiswi Al azhar Mesir. Maka kesempatan pun tidak disia-siakan. Pertanyaan demi pertanyaan meluncur penuh semangat seakan tak mau kehilangan kesempatan emas.

Bagaimana kondisi Mesir saat ini?
Bagaimana ritme kuliah di Al Azhar?
Bagaimana kebiasaan-kebiasaan masyarakatnya?
Bagaimana dukungan Kedubes Indonesia?

Semua pertanyaan dijawab dengan detail olehnya. Disambut dengan anggukan sampai komentar yang lebih panjang dariku dan teman-teman.

Cerita tentang suasana kampus Al Azhar, khususnya mesjidnya adalah hal yang paling didambakan olehku. Suasana belajar yang seakan tidak pernah berhenti. 24 jam penuh, para syeikh di sana siap melayani siapapun yang mau belajar, setoran hafalan Al-Qur'an, dan lainnya secara gratis.
Tak terbayang tumpukan pahala yang diterima para syeikh karena amal jariyahnya. Ingin rasanya menjadi murid dari salah satu syeikh di sana. Kalaupun tidak punya kesempatan itu, cukup cerita itu menjadi motivasi aku untuk terus berbuat baik sebagai bekal hidup di akhirat kelak nelalui sedikit ilmu yang aku punya. Ikhlas dalam beramal dan totalitas dalam bekerja itu poin utamanya.

"Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Sabtu, 31 Agustus 2013

Semangat Kembali

Beberapa hari ini seperti diberi jalan untuk menemukan tulisan-tulisan inspiratif. Mulai dari penulis sungguhan sampai yang amatir, yang hanya ingin bercerita tentang dirinya di blog seperti aku. Dan sungguh itu membuat aku bersemangat untuk rajin meluangkan waktu beberapa menit memainkan jari-jari ini. Walaupun sekedar menyampaikan apa yang aku rasa.

Dari mereka aku semakin memantapkan hati bahwa menulis bukan lagi sekedar hobi atai kebiasaan tapi kebutuhan. Seperti halnya beribadah, membaca ataupun menuntut ilmu. Bahwa sesempit apapun waktu yang ada, sepadat apapun kegiatan harus selalu meluangkan waktu beberapa menit untuk memenuhi kebutuhan itu. Ini seperti waktu berharga buat aku. Tidak peduli apa yang aku tuangkan dalam tulisan, tidak peduli nantinya akan ada yang membaca atau tidak, tidak peduli bahasanya acak-acakan, semua mengalir begitu saja.

Begitulah amatir, yang penting hati senang. Perasaan bahagia ketika merangkai kata-kata dan membacanya setelah titik terakhir sudah cukup tanpa harus memikirkan yang lain. Berbeda dengan penulis profesional yang mungkin akan memikirkan isi, alur cerita, bahkan EYD. Yang setelah selesai menulis, secara sukarela mengedit tulisannya, membuang bagian-bagian yang kurang penting, menambahkan pemanis disana sini agar tulisannya bukan sekedar utuh tapi enak untuk dibaca lebih dari satu kali.

Ada keinginan untuk menjadi penulis profesional, bahkan menjadi salah satu impian dalam hidup. Dimana kelak aku bisa membaca sebuah buku yang disampulnya tertera namaku. Menuliskan sesuatu di halaman persembahan dan membubuhkan tanda tangan untuk para pembaca. Bukan apa-apa, rasanya pasti senang sekali mengetahui apa yang aku tulis dibaca oleh orang banyak bahkan orang yang tidak aku kenal. Tapi itu butuh waktu, butuh keseriusan sedangkan saat ini saja aku belum bisa rutin meluangkan waktu setiap hari untuk menulis.

Entah sudah berapa cerpen yang tidak aku selesaikan. Ada yang baru setengah jalan, lebih parah lagi ada yang tinggal menentukan akhir ceritanya saja tapi aku biarkan karena mentok bingung mau dibuat seperti apa. Alhasil semuanya aku relakan hilang waktu komputernya harus diinstal ulang.
Menulis puisi apalagi, hampir tidak pernah. Aku seperti kehilangan kata-kata indah, bahkan untuk membuat sebait puisi. Entahlah.

Dan dari tulisan-tulisan yang aku temukan dan aku baca akhir-akhir ini aku seperti menemukan kembali semangat menulis seperti saat masih sekolah. Semangat bercerita kepada diri sendiri melalui tulisan. Menemukan kembali teman terbaik untuk berbagi. Dan yang pasti menemukan sebuah kebahagian lagi dengan cara yang berbeda. Semoga hari ini dan seterusnya tetap bersemangat.

Selasa, 27 Agustus 2013

Only Hope

There's a song that's
inside of my soul.
It's the one that I've tried
to write over and over
again
I'm awake in the infinite
cold.
would you sing to me
over and over again
So, I lay my head back
down.
And I lift my hands and
pray
To be only yours, I pray, to
be only yours
I know now you're my only
hope.
Sing to me the song of the
stars.
Of your galaxy dancing and
laughing and laughing again.
When it feels like my dreams
are so far
Sing to me of the plans
that you have for me over
again.
So I lay my head back down.
And I lift my hands and
pray
To be only yours, I pray, to
be only yours
I know now, you're my only
hope.
I give you my destiny.
I'm giving you all of me.
I want your symphony,
singing in all that I am
At the top of my lungs, I'm
giving it back.
So I lay my head back down.
And I lift my hands and
pray
To be only yours, I pray, to
be only yours
I pray, to be only yours
I know now you're my only
hope.

#Mandy Moore-Only Hope

Senin, 26 Agustus 2013

Kontemplasi Embun

Setiap manusia punya hidupnya masing-masing, punya ceritanya masing-masing. Mungkin ada beberapa bagian yang sama tapi tidak akan sama persis dari awal sampai akhir. Seperti sifatnya yang tidak akan pernah sama, jalan ceritanya pun demikian. Ibarat sebuah produk yang mempunyai kode produksi yang berbeda satu sama lain.

Takdir sudah menuliskannya seperti itu. Memang ada takdir yang bisa dirubah dengan ikhtiar manusia itu sendiri, tapi semua kembali lagi kepada keputusan Sang Pemilik Hidup.
Misalnya saja manusia sudah bekerja banting tulang tapi rizkinya, penghasilannya tetap saja pas-pasan. Kalau sudah seperti itu yang dibutuhkan adalah tawakal dan berbaik sangka, bahwa itulah bagian dia dan kondisi seperti itulah yang terbaik untuknya.

Yang terbaik. Tentu bukan menurut pandangan dan kriteria manusia tapi menurut pandangan dan kriteria Sang Pemilik manusia.
Bisa jd menurut manusia baik, belum tentu menurut Dia baik.
Misalnya saja manusia merasa membutuhkan sesuatu, sudah berdo'a dan berusaha tapi belum mendapatkannya. Bisa jadi itu karena menurutNya manusia tersebut belum terlalu membutuhkan. Kalau sudah seperti itu ya tinggal tawakal, terus berusaha dan berdo'a sampai mendapatkan apa yang dibutuhkan. Sampai dipantaskan untuk mendapatkan apa yang dibutuhkan. Ternyata yang di dapat tidak sesuai keinginan, tidak usah kecewa. Disyukuri.

Akhirnya tidak akan ada keluh kesah berkepanjangan, tidak ada kata putus asa. Ketika mulai mengeluh itu tidak akan menjadi kondisi yang lama. Hanya sebentar kemudian kembali bersemangat untuk berusaha. Ketika datang perasaan sedih, itu pun sesaat. Kemudian tersenyum menatap jalan panjang yang harus dilalui. Semua karena keyakinan bahwa setiap manusia akan selalu mendapatkan yang terbaik menurut kriteria Sang Pemilik manusia.

Sabtu, 24 Agustus 2013

Sebait Do'a Atas Nama Ukhuwah

Ikatan karena ukhuwah memang luar biasa. Ikatan yang terjalin karena rasa cinta pada Allah, terjalin karena aqidah. Bukan karena kepentingan atau hanya sekedar ikatan pertemanan.
Kadang tidak perlu diungkapkan, kadang tidak perlu selalu sering tegur sapa, kadang tidak perlu selalu bertemu. Tapi semuanya terikat kuat, menimbulkan kerinduan yang muncul tiba-tiba, menghadirkan kebahagiaan, dan merasakan kesedihan. Berbagi rasa tanpa satu sama lain saling tahu. Kadang.

Seperti malam ini, dada ini tiba-tiba sesak dan tanpa terasa butiran bening jatuh satu persatu, saat aku baca status salah seorang teman di facebook.
Seorang teman yang aku kenal saat aku kuliah akta 4. Kedekatan kami semakin terjalin begitu saja. Terjalin karena Allah menjalinkan begitu saja.

Pribadinya luar biasa. Sederhana namun mempunyai semangat luar biasa. Bahkan aku hampir tidak percaya saat dia cerita, kalau jantungnya bermasalah. Masya Allah, dia bercerita sangat ringan seperti biasanya, dengan gaya khasnya seakan itu biasa. Sangat biasa. Aku pandangi wajahnya diam-diam, aku tersenyum. Luar biasa sekali orang ini. Keimanannya pada Allah membuatnya begitu santai dengan kondisi jantungnya. Entahlah apa yang dia rasakan, apa yang dia pikirkan. Aku belajar banyak darinya bukan hanya dari hal yang aku ceritakan tadi.

Dan dari statusnya yang aku baca malam ini aku tahu kondisinya tidaklah baik. Kebocoran di jantungnya semakin membesar dan harus ditambal.
Ya Allah, betapa sedih mendengar kabar itu. Entah apa yang dia rasakan sekarang?
Apakah dia masih tetap bersemangat dan tersenyum?
Untuk yang terakhir aku yakin masih.

Keajaiban ukhuwah yang membuat aku merasa seperti ini. Meneteskan air mata, merasa sesak. Padahal sudah sangat lama aku tidak berkomunikasi dengannya. Setahun setelah lulus dari akta 4, praktis tidak ada komunikasi dengannya. Aku jarang update facebook. Status di timeline pun hanya aku read.
Sesekali menemukan statusnya di timeline. Status seperti biasa. Tapi status yang dia tulis siang tadi,... T_T

Ya Allah..
Aku titipkan sebait do'a untuknya.
Sebait do'a tulus dari saudara seaqidah dan atas nama ukhuwah yang Engkau jalinkan.
Agar Engkau mudahkan proses pengobatannya.
Agar Engkau memulihkan kondisinya.
Agar Engkau memberinya kesehatan.
Agar Engkau melimpahkan cintaMu padanya.
Aamiin...Aamiin...Aamiin...

Jumat, 09 Agustus 2013

Getting Older

Kedua orang tuaku sudah mulai lanjut usianya.

Ayah, yang dulu badannya berisi bahkan cenderung gemuk kini sudah mulai mengurus. Saat berkesempatan memijat kakinya, aku sadar betisnya tidak lagi sekekar dulu. Tangannya pun demikian. Tinggal perut yang sudah terlanjur membuncit.
Rambutnya sudah banyak yang putih, walaupun tidak terlihat karena sering dicabut. Bukan apa-apa, karena uban yang tumbuh membuat gatal kayanya.

Ibu, sama saja. Terlihat lebih kurus. Saat mencium tangannya, aku mulai merasakan hidungku beradu dengan tulang punggung tangannya. Saat mencium pipinya, tidak lagi membal karena pipi tembemnya. Tapi menempel lembut, bersentuhan dengan kulit yang mulai keriput. Rambutnya, sudah mulai kalah yang hitam dengan yang putih. Apalagi di bagian depan.

Fisik mereka menunjukkan betapa mereka sudah mulai lanjut, sudah menjadi pengingat bagi anak-anaknya dan seakan berkata, "sekaranglah waktu kalian".
Sekarang waktunya untuk lebih berbakti, lebih membuat bangga, lebih membuat bahagia, lebih perhatian, lebih dan lebih.
Walaupun semua kalimat itu tidak terucap dari bibir mereka. Ya, hanya tampilan fisik yang memberi isyarat alami.

Namun, bagaimanapun mereka. Meski fisik mulai berubah, mereka tetaplah sandaran kami setelah Allah. Terutama aku. Tidak ada teman untuk bercerita dan berbagi kisah senyaman mereka.
Mereka masih tetap menjadi orang yang paling dicari saat pulang dari kegiatan luar rumah.
Menjadi alasan untuk segera pulang.

Sehat selalu ya ayah dan amih..
I love you so much more..

Rabu, 07 Agustus 2013

Melepas dengan Berat

Berat rasanya melepas Ramadhan, sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Tapi kali ini lebih-lebih.

Karena target banyak yang tidak tercapai.
Karena mimpi tidak terwujud.
Karena ibadah seperti tidak maksimal.
Karena belum menikmati benar momentumnya.
Ditambah dengan "tamu" yang datang di awal dan akhir.
Ditambah teguran fisik yang tiba-tiba.

Dan waktu tidak bisa diputar balik, ia dengan gagahnya akan terus bergerak, berganti tanpa peduli. Menyisakan hari ini, hari terakhir di Ramadhan tahun ini. Bergerak cepat menyambut Syawal. Meninggalkan aku yang terseok-seok mengimbangi dengan manajemen yang amburadul.
Aku dengan hati yang entah seperti apa.
Aku dengan mata tergenang, basah.

Ramadhan...Aku mohon izinkan aku bertemu lagi denganmu.
Dengan kondisi yang lebih baik, dengan persiapan yang lebih baik, dengan manajemen yang lebih baik. Walaupun pada akhirnya tetap dengan rasa berat aku melepas pergimu.

Senin, 22 Juli 2013

Rumah Impian

Kelak saat aku punya rumah sendiri, aku mau yang sederhana tapi nyaman. Menjadi tempat yang dirindu, melepaskan penat dan sumber keberkahan bagiku, keluargaku dan tetanggaku.

Tidak perlu terlalu besar. Aku hanya ingin cahaya matahari masuk ke setiap kamar, saat aku di dalam kamar aku bisa menatap senja yang aku suka. Menikmati bulan dan bintang-bintang saat malam tiba. Hingga aku bisa dapat langsung mengagumi kebesaran Allah sambil menggali inspirasi.

Aku mau ada halaman belakang yang cukup luas. Ruang terbuka hijau yang bisa aku tanami tanaman buah, tanaman hias dan bunga-bunga terutama mawar. Halaman belakang difungsikan sebagai tempat berkumpul keluarga selain ruang keluarga dan meja makan. Tempat mengikat cinta antara anggota keluarga melalui interaksi+interaksi ringan yang mengukuhkan. Ketika anak-anakku masih kecil mereka bisa merasakan permainan-permainan yang lebih beragam tanpa takut atau khawatir bahaya main di jalan. Mereka bisa mengajak teman-temannya bermain di halaman belakang. Ketika sudah sekolah, bisa menjadi tempat kerja kelompok yang nyaman.

Halaman belakang rumah juga bisa untuk tempat pengajian. Jadi suasana pengajian tidak terlalu membosankan karena selalu diadakan di dalam ruang. Sambil mengaji bisa sambil menikmati semilir angin di bawah pohon. Teman-temanku yang membawa anak bisa membiarkan anak-anaknya bermain. Jadi ibu-ibu fokus dengan pengajian dan anak-anak asyik bermain.

Awalnya tidak terpikir tentang halaman belakang. Di benakku yang terlintas adalah teras depan. Aku hanya butuh tempat terbuka di belakang rumah untuk jemuran. Tapi seorang ibu menginspirasiku tentang halaman belakang, maka munculah angan-angan halaman belakang dan fungsinya.
Teras depan tetap dalam mimpiku, hanya tidak sedetail halaman belakang. Yang penting di depan rumah ada pot-pot bunga dan kursi di teras.

Jika Allah berkenan memberkahiku dengan rumah yang luas tanahnya luas sekali, aku ingin membuat sebuah bangunan di samping rumahku yang bisa difungsikan sebagai tempat belajar dan lainnya. Di dalamnya tersedia rak-rak berisi buku-buku, baik buku pelajaran, buku cerita, novel dll. Semacam perpustakaan kecil untuk keluargaku dan orang lain khususnya tetanggaku. Setiap bulan di tempat itu di adakan acara, entah itu pengajian, bedah buku, diskusi, lomba masak untuk ibu-ibu atau apapun yang pasti menjadi tempat yang sangat bermanfaat.

Itu impianku, rumah yang sederhana tapi nyaman untukku dan keluarga serta bermanfaat.
Berharap sekali Allah berkenan mewujudkan rumah impianku. Aamiin...

Sabtu, 20 Juli 2013

Jika hati ditutupi amarah, maka kebencian akan menutup semua kebenaran. Tidak ada ketenangan, yang ada hanya amarah dan prasangka. Bahkan senyum sangat tulus sekalipun dianggap sebuah kepura-puraan.
Begitulah amarah mengalahkan manusia.

Rabu, 26 Juni 2013

Andai

Bukan itu maksudku,tapi ini
Bukan itu yang aku mau,tapi ini
Bukan itu yang aku harap,tapi ini

Ah...
Andai aku diam
Andai bicaraku dimengerti
Andai maksudku diketahui
Andai aku dipahami
Andai aku tidak berandai-andai

Senin, 24 Juni 2013

Membuat Penilaian

Dalam berinteraksi dengan orang lain kita perlu memahami seperti apa orang yang diajak berinteraksi. Supaya paham maka biasanya kita akan menilai orang tersebut karakternya seperti apa. Karena setiap orang mempunyai "cetak biru"nya masing-masing. Tidak ada orang yang sama persis, bahkan dengan saudara kembarnya sekalipun.
Dengan melakukan penilaian diharapkan komunikasi bisa terjalin efektif dan interaksi akan menjadi mudah.

Perkara nilai menilai orang itu butuh keahlian. Harus betul-betul dicermati, jadi tidak asal menilai orang yang sebenarnya belum kita kenal baik. Karena jika seperti itu maka bisa jadi yang ada adalah salah memberikan penilaian. Bukan pemahaman dan komunikasi efektif yang di dapat, melainkan perselisihan tak penting.

Keahlian tersebut harus diasah. Bagaimana? Ya dengan banyak-banyak berinteraksi dengan orang lain. Sehingga semakin banyak karakter orang yang kita jumpai kemudian akhirnya kita bisa menentukan harus bersikap seperti apa kepada orang yang kita ajak berinteraksi. Bisa juga dengan membaca buku-buku yang membahas tentang bagaimana mengenal karakter orang.
Bukan hanya itu, menjadikan diri sendiri sebagai orang yang harus memahami orang lain terlebih dahulu akan sangat membantu jika dibandingkan menuntut orang lain untuk memahami kita terlebih dahulu. Menjadikan kita sebagai penonton, pengamat dari setiap sikap, tingkah laku dan mimik dari orang lain. Selain itu mengenal dan menilai diri sendiri. Bagaimana mengenal orang lain dengan baik jika diri sendiri saja tidak kenal. Bagaimana bisa memberikan penilaian yang baik untuk orang lain jika diri sendiri tidak dinilai dengan baik. Mengapresiasi diri sendiri kemudian mengapresiasi orang lain.

Tapi, meski langkah-langkah seperti yang diuraikan di atas sudah dilakukan, tidak menutup kemungkinan kita masih saja salah menilai orang. Meski sudah bertahun-tahun mengetahui dan berinteraksi, belum tentu kita betul-betul mengenal pribadi lawan kita berinteraksi. Karena hakikat mengenal itu tidak cukup sekali, tidak dibatasi waktu. Selama kita masih berinteraksi dengan seseorang maka selama itu proses saling mengenal dan menilai karakternya dilakukan.

##Tulisan ini bukan berdasarkan data ilmiah, melainkan berdasarkan pada pengalaman pribadi. Maka ketidaksesuaian ataupun ketidakcocokan dengan kondisi masing-masing orang akan sangat mungkin terjadi.
Hanya sekedar berbagi pengalaman.

Minggu, 23 Juni 2013

Kesetiaanmu kepada pasanganmu akan terus diuji, bahkan sampai pasanganmu mendahului menghadap Sang Pencipta. Apakah tetap kau jaga cinta yang dulu kau agungkan ataukah terkikis dan hilang begitu saja karena kebutuhan atau tawaran cinta lain.

Lelaki Tua dengan Kemeja Tua

Lelaki tua dengan kemeja hitam yang sudah tidak bisa lagi disebut hitam karena warnanya memudar. Bahkan kemejanya pun sudah bisa dibilang tua. Tubuhnya kurus, pendek, ditambah pipi yang kempot seakan memperlihatkan secara jelas kondisi dia sebenarnya.

Lelaki tua itu menggelar plastik yang cukup lebar di samping halte yang berada di luar sebuah pusat perbelanjaan. Di samping kirinya terdapat satu karung besar dan dua plastik hitam juga dengan ukuran besar. Dia menarik karung, membuka ikatannya, dan mengeluarkan isinya satu persatu. Mainan anak-anak yang sudah dibungkus dengan plastik seadanya, dia tata di atas plastik yang tadi dia gelar. Dan, bukan hanya mainan. Dia mengeluarkan dua bungkus kerupuk yang biasa dijual di warung-warung dan disimpan di sebuah toples kaleng besar. Dia terus mengeluarkan isi karungnya, dia tata sedemikian rupa. Mungkin pula sambil berdo'a ada yang tertarik dan berniat membeli dagangannya.

Aku terus memperhatikan dia dari dalam angkot yang aku naiki. Kebetulan angkot yang aku tumpangi berhenti cukup lama untuk mencari penumpang. Menperhatikan satu demi satu barang yang dia keluarkan. Memperhatikan dia dengan begitu hati-hati menata dagangannya. Tapi aku tidak tahu apa isi dalam kedua kantong plastik hitam. Belum selesai semua isi dalam karung dikeluarkan, angkot sudah jalan.

Ah, ada rasa menyesal ketika menyadari aku cuma bisa memperhatikan. Tidak turun membeli barang yang dia gelar. Waktunya tidak pas memang. Saat itu sudah masuk maghrib, adzan dari berbagai mesjid sudah terdengar bersahutan dan aku memilih untuk pulang.

Hanya bisa memandanginya dari dalam angkot. Aku belum pernah melihat dia sebelumnya, meski hampir tiap hari aku lewat tempat tadi. Atau mungkin aku tidak sadar keberadaannya yang tertutupi dengan ramainya pengunjung pusat perbelanjaan itu.

Setua itu masih bersusah-susah mencari uang. Dimana anak dan cucunya?
Aku tidak tau kondisi keluarga dia. Tapi selayaknya orang setua itu tidak lagi harus bersusah-susah, berdagang untuk mencari uang. Seharusnya dia berada di rumah saja, melakukan aktivitas yang bukan untuk mencari uang, dimuliakan oleh anak cucunya. Tapi sekali lagi aku tidak tahu dia, tidak tahu apa yang dia butuhkan, tidak tahu alasan mengapa dia sesore itu berada di tempat tadi. Dan pasti dia juga tidak menginginkan hal itu terjadi kalau saja tuntutan hidup tidak memaksanya melakukan itu.
Dan apa yang dilakukannya adalah dalam rangka memenuhi kebutuhan juga memuliakan dirinya. Dia tidak menghinakan dirinya sendiri dengan berkeliling dari rumah ke rumah, atau duduk di pinggir jalan dengan menengadahkan tangan kepada orang lain. Dia tidak memilih itu, walaupun dengan konsekuensi pulang tanpa rupiah sepeserpun.

Kamis, 20 Juni 2013

Angkot (part 4)

Jujur,ada ketidaknyamanan setiap kali berada d angkot yang penuh sesak dengan penumpang. Bukan karena tidak leluasa duduk, bukan pula karena bau keringat, bau parfum, dan bau-bau lainnya campur jadi satu. Tapi karena angkot belum ada yang khusus perempuan. Laki-laki dan perempuan campur dalam satu angkot.

Jika kebetulan penumpangnya perempuan semua maka tidak akan menjadi masalah. Tapi saat penumpang beragam, ditambah mendapatkan tempat duduk yang bersebelahan dengan laki-laki, rasa tidak aman itu muncul. Sangat mengerti jika penumpang laki-laki di sampingku tidak akan berbuat macam-macam. Tapi kondisi seperti itu sangat kontras dengan prinsipku. Aku sebisa mungkin menjaga jarak - dalam arti sebenarnya maupun tidak - dengan laki-laki yang bukan muhrim. Takut jika kelak dijilat api neraka karena bersentuhan dengan laki-laki yang bukan muhrim. Tapi di angkot, sulit sekali. Angkot bukan punya pribadi yang dengan leluasa bisa kita atur posisi duduk penumpangnya.

Memilih angkot yang tidak penuhpun bukan hal yang mudah. Jumlah penumpang angkot saat naik sampai turun tidak bisa diprediksi, sama sekali.
Bisa jadi pada saat naik cuma satu dua orang, begitu diperjalanan angkotnya penuh. Karena angkot penuh terus adalah do'a semua sopir angkot.
Belum lagi kondisi angkot yang sepi kadang menimbulkan kecemasan yang berbeda. Banyak berita di berbagai media, terutama televisi, yang memberitakan tentang kejahatan yang dilakukan di dalam angkot. Dan pengalaman pribadi yang pernah satu kali menyaksikan pencopetan di angkot tapi tidak bisa berbuat apa-apa dan dua kali hampir dicopet, beruntung Allah masih melindungi.

Trauma yang membekas menjadikan aku kadang berprasangka buruk jika di angkot sepi dan menemukan penumpang dengan gelagat yang mencurigakan. Biasanya aku menjadi tidak tenang, rasanya ingin cepat sampai. Dan trauma itu yang membuat aku selalu waspada dan lebih berhati-hati di dalam angkot.
Trauma itu tidak menyebabkan aku menjadi kapok untuk menggunakan jasa angkot, karena sampai saat ini aku masih sangat membutuhkan untuk mobilisasi.

Akhirnya hanya bisa berdo'a, semoga Allah mengampuniku dan melindungiku dari segala bentuk kejahatan. Aamiin...

Senin, 17 Juni 2013

Bijak Berkomunikasi

Perkembangan teknologi saat ini sangatlah cepat. Seakan satu kecanggihan demi kecanggihan lainnya muncul tiap hari dan sudah barang tentu sangat mempengaruhi semua hal dalam segala bidang kehidupan.

Telepon selular misalnya, semua produsen berlomba-lomba mengeluarkan seri terbarunya yang didukung oleh fitur-fitur canggih, yang membuat sebuah telepon selular bukan hanya sekedar telepon biasa - hanya dapat digunakan untuk telepon dan sms - yang bisa digunakan untuk mengakses internet, mengabadikan gambar, dan melakukan aktivitas yang biasa dilakukan di depan komputer. Jadi kalau biasanya seseorang membutuhkan 3 barang untuk melakukan komunikasi, mengabadikan sebuah momen dalam gambar atau video, dan mengerjakan kegiatan ketik mengetik, menyelesaikan tugas kantor misalnya. Sekarang cuma butuh satu barang dan itu bisa masuk dalam tas, atau bahkan cuma segenggaman tangan.

Semua serba mudah dan praktis. Tiap orang bisa mengabarkan apa yang sedang dia lakukan dimanapun dan melihat kejadian-kejadian disuatu tempat yang berjarak ribuan kilometer langsung seperti hadir ditempat tersebut.

Kemudahan itupun berlaku dalam hal berkomunikasi. Kalau dulu ada telegram, surat atau kartu pos untuk berkomunikasi jarak jauh. Lebih maju sedikit, telepon baik itu telepon rumah atau ponsel. Sekarang, berbagai macam sosial media dan aplikasi-aplikasi khusus untuk berkomunikasi bermunculan.
Pertama, ada chating lewat internet. Kemudian muncul sosial media. Friendster (ini sosial media pertama yang dikenal penulis), bukan cuma sekedar menuliskan berita tapi bisa disertai gambar. Setelah itu bermunculan yang lainnya, ada facebook, twiter, google +, instagram, path dan lainnya. Fasilitas chating pun lebih canggih lagi, bukan cuma yahoo messanger tapi sudah ada whatsapp, line, we chat, kakao talk, Gtalk, entah apa lagi. Yang bukan hanya menyediakan layanan chating tapi juga telepon.

Hanya saja beberapa orang kurang bijak dalam memanfaatkan kemudahan dan kecanggihan yang ada. Mengumbar apapun tentang dirinya di sebuah sosial media, sehingga untuk mengenal orang cukup dengan melihat akun sosial medianya. Tidak semua memang, tapi kebanyakan seperti itu.
Berlomba-lomba memiliki banyak teman atau follower, entah kenal atau tidak. Efek negatifnya, banyak sekali korban penipuan dan kejahatan lainnya yang pelakunya adalah teman di jejaring sosialnya. Memanfaatkan teknologi bukan pada tempatnya.

Ada lagi fenomena baru yang muncul akibat sosial media dan fasilitas chating yang menjamur. Beberapa organisasi, LSM, pedagang, pejabat publik sampai presiden menggunakan fasilitas itu sebagai media untuk publikasi, sarana informasi atau sekedar membuat pencitraan baik pada semua orang.
Tidak jarang sebuah organisasi,komunitas atau kelompok-kelompok menggunakan sosial media untuk melakukan komunikasi dan koordinasi. Misalnya saja, karena masing-masing susah untuk bertemu langsung maka rapat dilakukan di grup chatting. Atau mengirimkan informasi, sharing bahkan mungkin sampai berdebat lewat sosial media melalui grup-grup tertentu dalam sebuah aplikasi obrolan.
Maka beruntunglah orang yang sering menengok akun sosial medianya atau minimal ponselnya sudah bisa selalu terhubung sehingga selalu mendapatkan pemberitahuan. Maka beruntunglah orang yang ponselnya sudah mendukung untuk mengunduh aplikasi-aplikasi obrolan yang sudah disebutkan di atas, selalu bisa memantau apa yang terjadi dan mendapatkan informasi terbaru.

Tapi akan menjadi orang yang tertinggal informasi jika jarang menengok akun sosial medianya kemudian ponselnya juga tidak mendukung, karena biasanya informasi hanya dibagikan lewat sosial media atau grup tadi. Jadi, seperti kurang bersahabat dengan pengguna ponsel yang cuma bisa telepon dan sms. Saat baru manggut-manggut mengerti, teman-teman yang lain sudah bisa bergerak.
Dalam rapat-rapat pun terkadang hanya membahas ulang apa yang sudah dibahas dalam diskusi grup lewat internet tadi, ada sih sedikit tambahan. Kadang terlalu sedikit sehingga membuat orang yang sudah menyimak sebelumnya malas berlama-lama hadir dalam sebuah rapat nyata, toh dia sudah menyimak di rapat online.

Mungkin fenomena ini hanya terjadi pada sebagian kecil orang, tapi setidaknya bisa menjadi bahan pertimbangan untuk orang lainnya. Bolehlah sesekali memanfaatkan teknologi komunikasi tapi bertemu langsung itu akan lebih baik kan?
Kita bisa melihat ekspresi wajah lawan bicara kita sehingga bisa mengerti maksud yang akan disampaikan.
Jadi biarlah sosial media dan kecanggihan komunikasi menghubungkan kita dengan orang yang benar-benar berjarak dengan kita.
Jangan sampai ungkapan kalau sosial media atau apapun itu bisa mendekatkan yang jauh tapi menjauhkan yang dekat, menjadi benar adanya. Karena komunikasi itu penting dalam interaksi manusia. Gara-gara salah komunikasi hubungan dua orang atau lebih bisa tidak baik. Silaturahim pun terputus.

Sikap bijak kita sebagai pengguna menjadi poin penting.
Bijak menyikapi teknologi. Bijak dalam berkomunikasi.
Jika tidak bijak, maka efek negatif yang didapat. Jika bijak, maka manfaat kemudahan itu akan sangat terasa.

Selasa, 11 Juni 2013

Hikmah Hari Ini

Semua sudah diatur oleh Allah.
Setiap manusia dan apapun di dunia ini,masing-masing sudah dibuatkan skenario terindah oleh Allah. Dan semua tinggal menjalankannya dengan baik

Minggu, 02 Juni 2013

Ya Allah Mampukanlah...

Hari ini mendapatkan cerita dari seorang yang baru saja pulang dari tanah suci, baru pulang dari umroh. Cerita yang sanggup membuatku terus-terusan berdecak kagum, merinding bahkan berkaca-kaca.

Kisah yang beliau ceritakan sungguh membuatku semakin ingin menginjakan kaki di tanah suci.
Beliau bilang, disana panas tapi beliau tidak berkeringat, bisa menatap langsung ka'bah dan bisa shalat langsung di hadapannya, berziarah di makam Rasulullah dan para sahabat, mengunjungi tempat-tempat bersejarah, dan kata beliau langit di sana bersih. Oh Allah...di tempatku sekarang saja aku sudah senang, sangat suka melihat langitMu, apalagi dapat melihat langitMu yang berada tepat di atas ka'bah. Membayangkannya saja aku sudah luar biasa senangnya, apalagi jika Engkau mengizinkannya melihat langsung ya Allah.

Aktivitas-aktivitas di sana yang semuanya harus baik. Harus selalu berpikiran baik, berprasangka baik, dan melakukan kebaikan-kebaikan sekecil apapun.
Do'a-do'a yang tidak hanya di dengar tapi dikabulkan, bahkan langsung. Subhanallah....

Allah...biaya untuk bisa menjadi tamuMu sangatlah besar, tapi jika Engkau sudah memanggil, jika Engkau sudah meridhoi maka semua biaya itu akan menjadi murah, semuanya akan menjadi mudah. Jika kali ini aku, orang tuaku, saudara-saudaraku tidak mampu, maka aku mohon mampukanlah kami semua menjadi tamuMu.
Mampukanlah kami semua untuk bisa merasakan keagunganMu disana sebagaimana orang-orang yang pernah merasakannya.
Aku mohon mampukanlah. Aamiiin....

Senin, 20 Mei 2013

Quote of the day

Hidup adalah sebuah perjalanan bukan tujuan...so enjoy it

Jatuh Cinta

Cinta...
Satu kata yang membuat orang kadang berubah menjadi bukan dirinya. Satu kata yang punya arti yang begitu banyak. Begitu indah tapi juga bisa begitu menyakitkan.

Saat orang jatuh cinta, sering akal sehat terkalahkan oleh rasa yang berbunga-bunga. Sekeliling begitu indah. Bisa begitu saja menyunggingkan senyum termanis di wajahnya. Wajah bersemu merah merona. Hati yang ketar-ketir mengartikan berjuta rasa. Dan semangat yang besar untuk melakukan semua aktivitas. Jadi seperti suplemen yang menyegarkan.

Jangankan melihat wajah orang yang dicinta, melihat punggungnya saja bahagianya sudah cukup untuk membuatnya mimpi indah. Nama orang yang dicinta akan terdengar begitu indah bila disebut. Wajahnya seakan hadir di depan mata bahkan saat memejamkan mata. Bahkan banyak orang yang tiba-tiba mirip dengan orang yang dicinta.

Semua kejadian yang berhubungan dengannya akan melambungkan angannya. Menjadikannya sebuah pertanda. Mereka-reka semua tingkah laku si dia. Dan mencari semua pertanda yang menyatakan si dia juga memiliki rasa yang sama. Pertemuan-pertemuan yang serba kebetulan dijadikan tanda bahwa itu adalah ciri bahwa berjodoh dengan si dia. Semua serba indah.

Tapi tidak jarang ada orang yang begitu takut ketika hatuh cinta. Karena menganggap, ketika cinta itu hadir maka bisa jadi sebentar lagi dia akan merasakan sakit hati, merasakan kesedihan yang teramat perih karena cinta yang tak berbalas. Jadi, sekuat mungkin dia akan menolak kehadiran cinta.

Itulah cinta yang diartikan begitu sempit. Padahal cinta begitu luas artinya. Tidak perlu takut jika cinta hadir, karena dengannya hidup pasti akan lebih bermakna. Cinta bukan hanya berarti harus berbalas, menerima semua yang diharapkan dari dia yang dicinta. Tapi lebih kepada memberi, menikmatinya hingga bisa memberi dengan tulus. Memberi bukan hanya kepada dia yang dicinta tapi semua orang yang ada disekeliling. Tidak peduli ada rasa yang sama dari dia yang dicinta. Yang terpenting adalah orang banyak bahagia, diri sendiri juga bahagia.

Sampai-sampai ada yang berpendapat, jangan jatuh cinta tapi bangun cinta. Karena arti jatuh yang menyakitkan. Kalimat itu untuk memotivasi orang-orang yang merasa takut dengan cinta dan mengartikan cinta dengan sangat sempit.
Menyadarkan bahwa cinta harus dibangun menjadi bangunan yang kokoh yang kelak akan mengokohkan keberadaan orang yang memilikinya.
Jangan takut jatuh cinta, merasakan keindahannya, membangunnya dan membiarkannya ada selamanya di hati. Setiap hari, setiap saat.

I'm falling in love every single day...*_^

Minggu, 19 Mei 2013

Rindu Senjanya Jakarta

Jakarta,kota yang tidak pernah aku harapkan untuk dijadikan tempat tinggal. Kemacetan luar biasa, hiruk pikuk yang membuat semrawut, hedonisme sebagian warganya dan semua yang pastinya membosankan.

Tapi suatu saat aku benar-benar jatuh hati dengan kota ini. Saat sore hari, ditengah kemacetan yang luar biasa, aku palingkan pandangan ke atas langit. Subhanallah...langit Jakarta senja hari ternyata menakjubkan.
Sekumpulan awan membentuk siluet yang aku persepsikan sendiri. Sebuah negeri indah para dewa-dewi tersaji di atas langit Jakarta. Semburat jingga yang semakin lama semakin terang menambah keindahan langit saat itu. Indah luar biasa.

Mungkin tidak banyak orang di Jakarta yang bisa menemukan momen indah ini. Mereka sibuk dengan kesibukannya masing-masing. Ingin cepat sampai di rumah ataupun yang masih berkutat dengan pekerjaannya,lembur. Tidak sempat meski sejenak memenadang keluar, menengadahkan wajah membiarkan semburat jingga jatuh dengan indah di wajahnya.

Senja ini, aku rindu menikmati kembali keindahan itu.
Bisa berada ditempat yang tinggi. Memandang langit, membaca sendiri gambaran yang dibuat awan, membuat cerita yang hanya aku yang mengerti.
Berdzikir, memuja ciptaanNya dan menikmati sampai larut hingga gelap malam menggantinya dengan lembut.

Sabtu, 11 Mei 2013

Mencintai Proses Belajar

"Profesional itu berfokus kepada hasil,sedangkan peneliti lebih berfokus pada proses"

Jadi seorang profesional hanya dilihat apa yang sudah dia hasilkan. Orang tidak pernah melihat bagaimana usaha yabg dilakukan oleh seorang profesional,entah itu benar atau salah,selama hasilnya baik itulah yang akan dinilai dari mereka.
Sedangkan seorang peneliti,yang dinilai adalah proses. Entah hasilnya benar atau salah,orang tidak peduli.

Dalam belajar yang paling utama adalah proses. Karena hasil yang baik yang diperoleh dari proses yang salah tidak akan bertahan lama. Sedangkan proses yang baik meski hasilnya tidak sesuai harapan akan bertahan lama. Karena dari hasil yang tidak sesuai harapan itu bisa disempurnakan kembali menjadi seauatu yang sesuai harapan. Sesuatu yang sempurna..

Jadi cintai prosesnya, karena yang terpenting adalah proses dan orientasi kita. Nikmati prosesnya dan nantikan hasil-hasil menakjubkan dari proses yang telah dilakukan.

Pagi yang Indah

Selamat pagi dunia....
Kan kujalani hari ini dengan semangat
Semuanya indah,semua mudah
Coba kau lihat mentari pagimu
Merekah bersemangat begitu hangat
Ditemani angin yang berhembus semilir
Wangi embun,wangi tanah
Semua setia menemaniku
Tersenyum melangkah
Berkarya,berjuang,berkreasi...
Semangat Pagiiii....

Kamis, 09 Mei 2013

Kehilangan Kantuk

Hampir seluruh lampu di rumah sudah dimatikan. Suasana sudah mulai senyap. Telapak tangan dan kaki sudah terasa dingin. Menandakan malam sudah sangat larut,berganti dengan dini hari. Dan aku masih terjaga. Dengan perasaan tidak karuan dan kantuk yang absen.

Kali kedua dalam pekan ini mengalami hal yang sama. Tubuh ini lelah,tapi rasa kantuk belum juga menyerang. Mencoba untuk serileks mungkin membaringkan tubuh ini di tempat tidur,tapi tidak bisa. Kubenamkan wajah di bawah bantal,tetap tak ada hasil.
Kubaca istighfar berkali-kali. Keadaannya masih sama.

Kantuk,kamu dimana?
Tubuh ini lelah sangat,butuh istirahat.
Hati,ada apa?
Kamu kah yang membawa lari kantukku?

Sabtu, 04 Mei 2013

Aku mengenalnya, sangat mengenalnya
Pun dengan dia
Tapi kami hanya sejenak melihat lalu memalingkan pandangan
Tanpa senyum apalagi tegur sapa
Menandakan bahwa kami sudah menjalani hidup masing-masing
Sebaik yang kami bisa.

Jumat, 03 Mei 2013

Cerita Keluarga

Ayah
Ayahku seorang guru SD,kami anak-anaknya kadang suka ragu dengan ini. Emang ayah bisa ngajar? Kami nggak bisa membayangkan waktu ayah kami mengajar di depan kelas. Anak SD pula.
Satu hal yang identik dengan ayah, kalau marah sering membelalakkan matanya. Dan itu yang membuat kami takut. Sudah itu kalau marah ayah biasanya diam. Kalau ayah diam denganku atau aku nggak diajak bicara itu artinya ayah marah.
Waktu masih kecil aku dan adik-adikku paling senang waktu dipindahkan ke kamar sama ayah. Kadang kami pura-pura tidur di ruang tengah dengan harapan nanti ayah akan mengangkat kami ke tempat tidur. Beberapa kali ketahuan berpura-pura tetap nggak buat kami jera. Kami mengulanginya lagi karena meski ayah tau kami pura-pura tapi tetap mengangkat kami ke tempat tidur. Senang sekali, seperti terbang....

Ibu
Aku dan adik-adikku memanggil ibu dengan sebutan emak, kadang amih. Ibu orang paling cerewet di rumah untuk semua hal. Bukan cuma kami anak-anaknya tapi ayah juga sering dicereweti. Soal sarapan misalnya, ibu akan mengingatkan atau menanyakan berkali-kali untuk sarapan. Aku dan adik-adik kadang sampai harus disuapi. Kalau sudah berkali-kali disuruh sarapan tapi kami cuma bilang "ga nafsu", maka ibu akan mengambil makan, mendekati kami dan memaksa kami untuk mengunyah plus menelan makanan yang disuapkan ke mulut kami.
Ibu juga orang yang paling panik kalau anak dan suaminya belum pulang. Pernah suatu hari, adik laki-laki pertamaku belum pulang sekolah. Dia berangkat pagi tapi sampai jam 6 sore belum pulang. Waktu itu adik tidak punya ponsel, kami cuma bisa menghubungi teman-temannya lewat telepon rumah. Nggak ada berita, pun dari teman-temannya. Sampai jam 7 malam, kepanikan ibu sudah maksimal sehingga ibu menangis sambil duduk di ruang tamu menunggu adikku. Yang ditunggu pulang dengan santai dan cuma memberi alasan habis kerja kelompok.
Ibu sering menangis diam-diam mengkhawatirkan kami, bangga dengan kami, dan mendo'akan kami.

Aku
Anak sulung, putri pertama dalam keluarga ini. Banyak orang bilang kalau anak pertama itu egois tapi juga cengeng atau lebih manja dibandingkan adik-adiknya. Dan begitulah aku, kurang lebih.
Aku mendapatkan julukan "ayam negeri" atau ayam sayur karena aku sering sakit.
Aku orang yang cerewet nomor dua di rumah setelah ibu.
Menjadi anak pertama itu beban sekaligus seru. Beban karena menjadi panutan adik-adik tapi seru karena punya banyak bala bantuan jika membutuhkan. Asas manfaat anak pertama.

Darus
Adik laki-laki pertamaku yang pernah membuat ibu menangis karena telat pulang dari sekolah dan nggak kasih kabar. Dia lumayan banyak omong, sering bercanda tapi kalau ditanya hal-hal tertentu dia akan diam. Jarang cerita dengan orang-orang rumah.
Aku dan adikku yang lain memanggilnya "My Man" karena buat kami dia yang akan membela kami, menjaga kami, membantu kami. Dan kami yakin dia bisa menjalankan peran sebagai anak dan saudara laki-laki.

Mayus
Sama seperti kakak laki-lakinya,dia lebih banyak diam. Bahkan lebih misterius. Akun facebooknya saja diberi nama "Misteri Mohamad". Tapi anehnya banyak anak kecil yang senang sama dia. Keponakan-keponakan bahkan sampai anak tetangga betah diajak main dengannya. Yamg lagi nangis saja bisa langsung berhenti kalau dia gendong. Mungkin karena mukanya lucu kayak badut atau boneka.
Laki-laki mungkin semua hampir sama. Begitupun dengan adik laki-laki ku yang satu ini. Sama seperti kakak laki-lakinya,sering buat ibu khawatir karena pergi tidak pernah memberi tahu tujuannya,waktu SD malas belajar hingga ibu harus sport jantung saat mau kenaikan kelas(takut kalau tidak naik) dan hal-hal kecil lainnya khas anak laki-laki.
Tapi dia juga orang yang paling khawatir kalau terjadi sesuatu pada saudaranya,terutama saudara perempuannya.

Ayu
Yang satu ini senang kalau dilanggil "ayu kece" atau "kakak kece". Memang beberapa adikku ada yang narsis berlebihan,salah satunya ya yang satu ini.
Anaknya cenderung cuek. Dia terlalu sibuk dengan tugas-tugas kuliahnya. Kalaupun nggak ada kuliah,kerjaannya adalah nonton film. Mulai dari film korea,thailand,indonesia dll. Alternatif lainnya adalah baca buku. Kalau sudah baca buku,bisa satu hari penuh dia tidak beranjak dari bukunya. Hanya ada jeda untuk makan,shalat, dan ke kamar mandi.
Paling senang belanja baju dan jalan-jalan.
Dan ini,kalau sedang "bad mood" jangan pernah sekali-kali mengganggu dia. Bisa kena semprot.
Tapi dia paling jarang menyusahkan orang tua dan saudaranya.

sofa
Adikku yang super narsis. Ponselnya penuh dengan foto-foto dia dengan berbagai gaya. Bukan cuma ponsel sendiri, laptop, ponsel orang (kakak/adiknya) sampai akun social media isinya foto semua. Nggak bisa dipungkiri dia cukup fotogenik, bahkan dalam pose yang absurd sekalipun hasilnya tetap bagus. Ditambah keahliannya mengedit foto lewat beberapa aplikasi. Ini salah satu kelebihannya.
Dia pernah membuat seisi rumah dan keluarga besar kami khawatir luar biasa. Dia harus dioperasi karena peritonitis yang menyebabkan usunya harus dipotong, kata dokternya satu meter.
Super manja, suka ngambek dan bayangkan sudah kuliah tapi setiap berangkat kuliah harus dianter, lebih tepatnya disebrangin. Adikku ini paling nggak bisa nyebrang jalan. Trauma mungkin, karena waktu kecil pernah "disenggol" motor dua kali.

Cucu
Diberi nama cucu karena orang tua kami berharap dia adalah anak bungsu.
Atlet taekwondo keluarga kami yang pensiun dini. Cuma satu tahun aktif di taekwondo, pernah mewakili kota untuk lomba di provinsi setelah itu berhenti karena nggak sreg dengan pelatihnya.
Anaknya semaunya sendiri, kalau sudah punya keinginan selalu ingin terpenuhi. Lumayan pekerja keras, rela berlembur-lembur ria mengerjakan tugas yang kadang itu adalah tugas kelompok.
Suka nyuruh-nyuruh kakak-kakaknya kalau lagi ada tugas.
Termasuk anak yang selalu beruntung.
Hobi banget sama stand up comedy,sampai ngebela-belain ngambil uang tabungan demi nonton standup festival di Jakarta.
Mama untuk kami, karena setiap di rumah pasti selalu curhat minimal cerita tentang sekolah dan yang berhubungan dengannya.
Seperti acara di tv, setiap mau bertanya selalu menggunakan kata kunci "Mama curhat dong", nah kami saudara-saudaranya sering berteriak seperti itu kalau dia diam saja di rumah.

Apri
Anak bungsu keluarga kami.
"cewek strong" katanya, karena jarang sakit, meski kehujanan, kecapean dll.
Postur tubuhnya tinggi besar, paling besar kedua setelah adik pertmaku, Darus.
Suka marah, kami mengidentikan dia dengan angka 12. Aku pernah membuat quis kiriman teman dan meminta adik-adikku untuk memilih angka-angka yang mewakili sifat. Dan apri memilih angka 12, yang berarti pemarah. Itu sangat sesuai.
Follower dan pembela cucu. Kalau cucu dimarahi ayah atau amih, dia akan membela.
Dengan senang hati mendengar cerita-cerita cucu.
Berambisi menjadi dokter gigi. Seoga yang terakhir ini terkabul. Aamiin.

Mereka keluargaku, hartaku, kebahagiaanku, aku begitu diberkahi Allah dengan adanya mereka.
Do'aku, semoga Allah bukan hanya menjadikan kami keluarga di dunia ini tapi juga di akhirat kelak. Berkumpul di surgaNya. Aamiin....1000x

Selasa, 30 April 2013

Angkot (part 3)

Perjalanan dengan angkot ke Bojonegara siang tadi disuguhi cerita menarik (buatku) dari 2 orang ibu-ibu. Mau tidak mau aku ikut mendengarkan sampai cerita habis. Lebih tepatnya sampai aku turun.
Kedua ibu itu sama-sama pulang dari pasar dengan belanjaan yang luar biasa banyak dan memaksa pak sopir mengangkut hanya 4-5 orang di bangku belakang, satu orang di bangku depan samping sopir itupun penumpang masih harus mengangkat kaki karena terdapat belanjaan di bagian pijakan kaki. Mereka bertetangga kampung, dan ternyata teman ibu A masih saudara dengan ibu B. Jadilah obrolan itu mengalir begitu panjang.

Mereka bercerita tentang diri masing-masing yang ternyata punya kesamaan yaitu sama-sama menikah di usia muda.
Ibu A yang duduk di sebelahku bercerita kalau dia menikah satu tahun setelah lulus SMP, mungkin di usia sekitar 16-18 tahun. Dijodohkan orang tuanya. Sebetulnya dia ingin melanjutkan sekolah,tapi karena keterbatasan biaya akhirnya putus sampai SMP. Ayahnya sakit-sakitan. Dengan alasan,khawatir tidak berumur panjang dan supaya ayahnya masih bisa menikahkannya maka dia dijodohkan dengan seorang pria. Awalnga dia menolak,tapi ibunya mengancam. Kalau dia tidak mau berarti dia harus pergi dari rumah. Karena itu berarti dia tidak nurut orang tua. Dengan alasan patuh sama orang tua,akhirnya dia menerima perjodohan itu. Sekarang dia sudah mempunyai dua orang anak. Anak pertamanya kelas 6 SD, sedangkan adiknya masih berumur 3 tahunan.
Hem...menarik.

Lanjut ke ibu B, ceritanya tidak jauh berbeda. Dia menikah dua tahun setelah lulus SMP. Dijodohkan juga. Ibu B tidak banyak bercerita, dia sekedar mengiyakan apa yang ibu A ceritakan. Terlalu banyak bilang, "Ya, sama saya juga"
Ini yang menarik, begitu suami masing-masing bertanya pada mereka, apa mereka cinta sama sang suami?. Mereka memiliki jawaban yang sama, "cinta aja, wong udah nikah. Udah jadi suami-istri, ya harus cinta dong"

Ya, mereka tak perlu melewati masa-masa pacaran yang terlalu membuang waktu. Hanya calon suami mereka yang mencoba mengenal mereka, datang ke rumah mereka, berbincang dengan orang tua mereka. Mencari tahu seperti apa mereka, kemudian meminta baik-baik kepada orang tua mereka.
Mereka mengenal sang calon suami dari cerita orang tua, mengenal lebih jauh setelah menikah. Tapi, mereka dan suami mereka masing-masing memiliki komitmen untuk menjaga "ikatan" itu sampai akhir.
Orang tua dulu pada umumnya memang begitu, tapi mereka bisa menjaga pernikahan mereka sampai masing-masing tutup usia. Dan dua orang ibu itu tidak bisa disebut orang dulu, karena mungkin usianya tidak berbeda jauh denganku.

Begitulah sebenarnya islam mengajarkan dalam hal mencari jodoh. Tidak ada pacaran, dengan alasan atau modua apapun.
Dalam islam adanya ta'aruf. Saling mengenal antara laki-laki dan perempuan lewat perantara. Baik itu orang tua, saudara, guru atau siapapun yang dipercaya. Tidak ada dua-duaan atau interaksi tak penting sebelum menikah. Masing-masing menjaga diri.
Ta'aruf yang benar-benar jujur, terbuka satu sama lain. Diharapkan kedepannya tidak ada kekecewaan.

Banyak yang bilang, "emang bisa menikah ga pacaran?"
Jawabnya, bisa dong...sudah banyak contoh.
Allah akan memudahkan jika menurutNya saat itu telah tiba.
Kapanpun, dengan siapapun, dan dengan cara apapun. Jadi, tunggu saja janjiNya sambil terus memperbaiki diri.
Karena laki-laki yang baik, untuk perempuan yang baik. Begitupun sebaliknya....

Senin, 29 April 2013

Es krim, coklat, dan bunga

Es krim
Biarpun hujan mengguyur deras tapi kalau lagi pengen makan es krim tetap dijabanin. Apalagi cuaca panas,langsung sikat habis.
Entah karena rasa dingin yang sudah dari sananya ataupun cuma sugesti, tapi sungguh suasana hati dan pikiran ikut adem kalau menikmatinya.
Aku bisa menghabiskan es krim dalam porsi besar sendiri. Pernah satu waktu karena terlalu banyak makan es krim, kepala jadi pusing ga karuan. Kapok? Oh....tentu tidak dong, buktinya hobi makan es krim masih berlanjut sampai sekarang.
Aku akan sangat senang diajak makan es krim atau ditraktir es krim dibandingkan makan bakso dan lainnya.

Coklat
Coklat adalah favoritku kedua setelah es krim.
Makan coklat itu enak,lumer di mulut, ga perlu dikunyah sama seperti es krim. Sudah begitu banyak yang bilang, coklat itu bisa membuat nyaman, membangkitkan mood baik. Yup, coklat buatku adalah mood buster kedua setelah es krim.
Kenapa kedua?
Karena kalau makan es krim aku ga pernah merasa enek (paling pusing kalau kebanyakan), tapi kalau coklat aku tidak bisa makan banyak-banyak karena enek. Selain itu, gigiku kurang bersahabat kalau aku paksakan untuk menghabiskan coklat dalam jumlah banyak.Satu coklat bar panjang habis aku makan dalam 2 sesi. Ga kuat kalau sekali hap.

Bunga
Aku suka sekali dengan bunga. Apapun nama, warna, bentuk, wangi atau tidak, aku tetap suka.
Dari sekian bunga yang aku kagumi, aku suka mawar. Bentuk dan warnanya indah buatku.
Dengan memandangnya aku merasa senang.
Aku suka memandang rangkaian bunga, gambar bunga ataupun satu bunga yang sedang mekar sendiri diantara hijaunya daun.
Aku sangat tersanjung jika diberi bunga.
Entahlah, buatku itu sangat istimewa, lebih dari sesuatu yang berharga

Tiga hal yang aku senangi di atas kadang membuatku berpikir.
Aku tidak seperti wanita pada umumnya yang suka belanja, suka berlama-lama di pasar atau pusat perbelanjaan hanya sekedar window shoping. Ke salon, perawatan atau sekedar potong rambut. Atau hal-hal lain yang disukai wanita.
Tapi tiga hal di atas menunjukan bahwa aku sebenarnya sama dengan wanita pada umumnya yang menyukai hal-hal yang kadang terlalu aneh dan biasa saja untuk disukai. Terutama bunga, semua wanita suka dengan bunga.
Jadi, aku tetap seorang wanita yang punya sisi sensitif seperti yang lain. Alhamdulillah....

Jumat, 26 April 2013

My 29th birthday

29 tahun yang lalu, dengan penuh kebahagiaan aku dilahirkan ke dunia. Disambut senyum bahagia dan diberikan nama indah.

Ditanggal yang sama, hari ini aku berkontemplasi. Aku sadar sisa umurku berkurang. Telah aku jalani hidup dengan bilangan tahun yang banyak tapi seakan semua seperti biasa. Tanpa ada sesuatu yang sangat berarti. Aku sadar, begitu banyak nikmat yang aku dapat tapi begitu sedikit manfaat keberadaanku. Satu hal terpenting, aku harus lebih bermanfaat.

Aku panjatkan do'a terbaik kepada pemilik jagat raya. Agar Dia selalu menjaga keimananku, menjaga hatiku, keistiqomahan dan cinta besarku untukNya, terus melimpahkan keberkahan dan ridhoNya untukku. Agar Dia mengizinkanku untuk bisa sesegera mungkin menjadi istri, hamil, melahirkan, menjadi ibu, menjadi wanita luar biasa untuk keluarga kecilku. Agar dia memudahkan segala urusanku, menyehatkan jasmani dan pikirku yang akan menjadi bekalku untuk "bekerja" demu ridhoNya. Agar Dia mengutuhkan aku, kedua orang tuaku, adik-adikku dalam satu keluarga yang penuh keberkahan. Agar Dia...Agar Dia...Agar Dia...mengabulkan semua do'a, pinta, dan harapku. Dan Allah, aku mohon dengan sangat kabulkanlah.
Aamiin..Aamiin..Aamiin..

Dan...hari ini aku senang, karena aku merasa aku "ada", tak peduli siapapun dan karena apa mereka membuatku merasa "ada".
Yang pasti aku senang..senang..senang..^_^

Minggu, 21 April 2013

Tentang Tulisanku

Aku menulis karena aku suka melakukannya. Ini seperti rutinitas yang aku lakukan sejak aku lancar membahasakan apa yang kurasa.

Apapun yang aku tulis pada dasarnya adalah ungkapan rasa yang ada di hati dan apa yang terbersit di kepala. Semuanya aku tulis dan kutujukan untuk diriku. Karena percaya atau tidak, aku merasakan sesuatu yang berbeda ketika aku mulau mencurahkan semua lewat kata-kata atau pada saat aku mengakhirinya. Jadi tulisanku adalah tentang diriku dan untuk diriku.

Dulu tidak pernah terpikir olehku, kelak tulisanku bisa dinikmati orang lain,mempengaruhi orang lain,membuat orang bahagia,membuat orang tertawa atau menangis begitu membaca tulisanku. Tapi,dengan semakin banyak buku yang aku baca dan ditambah pertemuan-pertemuan dengan orang-orang yang mempunyai bakat luar biasa dalam hal menulis,mulailah aku berpikir bahwa betapa senangnya bisa berbagi lewat sebuah tulisan. Betapa senangnya bisa mempunyai buku best seller yang dibaca banyak orang. Betapa senangnya mendengar orang menantikan kata-kata yang aku tulis. Betapa senangnya.

Ah, tapi aku tidak berbakat. Tulisanku hanya sebuah tulisan kosong, tak sarat makna. Mana bisa aku bisa mempengaruhi atau membuat orang lain merasakan apa yang aku tulis. Dan aku tidak berani mempublikasikan setiap tulisanku. Ini akan tetap menjadi konsumsi pribadi,menyenangkan pribadi. Sampai suatu saat nanti ada orang yang bilang, dia menyukai tulisanku dan mungkin saat itulah aku beranikan diri untuk membiarkan orang lain dengan leluasa membaca tulisanku yang sekaligus akan membaca pikiranku.

Sabtu, 20 April 2013

Saat ini

Aku ingin berada disuatu tempat dimana aku bisa langsung memandang birunya langit yang dihiasi awan putih,tanpa terhalang apapun. Bisa memandang hijaunya dedaunan langsung tanpa penghalang. Bisa memandang bunga-bunga indah tanpa penghalang. Bisa memandang jernihnya air yang mengalir disungai kecil dengan gemericik yang menenangkan tanpa penghalang.

Di tempat itu,aku ingin duduk lama menikmati "goresan pena" Sang Pencipta,sambil menikmati semilir angin.
Begitu indah,menenangkan dan menyenangkan.
Dan aku berdo'a waktu akan membawaku ke tempat itu. Segera.

Rabu, 17 April 2013

Penipu oh penipu

Jam dinding menunjukan pukul 03.00 saat pintu depan rumah diketuk berulang kali dengan terburu-buru. Ayahku yang membuka pintu dan mendapati uwa,kakak dari ibuku yang terlihat panik. Dengan intonasi yang berantakan dan tubuh gemetar,uwa mulai menjelaskan suatu hal yang membawanya harus datang ke rumahku dini hari.

"Jen dibawa polisi,katanya ketangkep karena disaku celananya ada narkoba,terus diminta untuk transfer uang 30juta sebagai tebusan biar prosesnya ga lanjut. Terus gimana nih?"jelas uwaku masih dengan nafas memburu.

Jen adalah panggilan untuk pamanku,adik dari ibuku yang bekerja di sebuah pabrik di daerah Anyer.
Dan narkoba,itu tidak mungkin karena kami sekeluarga tau siapa dan bagaimana pamanku. Satu hal yang ada dipikiran kami, pamanku dijebak.
Ayahku cuma diam,kaget sekaligus tidak percaya dengan apa yang didengar. Ayahku mulai menanyakan ini itu,kronologi jelasnya. Sambil juga terus bingung,tertangkap dimana,apa pamanku kerja shift malam,tapi kok tidak mampir ke rumah. Karena kebiasaan dari pamanku sebelum berangkat kerja malam mampir di rumah terlebih dahulu sambil menunggu mobil jemputannya datang.

Uwa meminta ayah menghubungi salah satu teman ayah yang menjadi TNI,tapi ayah ragu harus menghubungi siapa. Akhirnya ayah memintaku untuk membangunkan adik laki-laki ku dan memintanya untuk mengecek keberadaan pamanku di rumahnya. Ayah menduga,mungkin ini penipuan.
Sebelumnya,terlintas dalam pikirku untuk menghubungi ponsel pamanku. Setelah dihubungi ternyata tidak ada jawaban dan aku berinisiatif mengecek nomor ponsel yang menghubungi uwaku. Dan yang lebih memperkeruh suasana,ponsel uwaku mati. Sibuklah kita mencari charger. Setelah dihidupkan,barulah bisa dilihat nomor terakhir yang menghubungi uwaku. Nomornya asing,semakin kuat dugaan kami kalau ini penipuan. Tinggal menunggu kabar dari adikku yang sedang ke rumah paman.

Selang beberapa menit,karena memang rumah pamanku tidak jauh dari rumahku,adikku bilang kalau paman lagi tidur dan akan segera menyusul ke rumah. Pada saat menanyakan keberadaan paman ke istrinya adikku bilang kalau ada masalah dengan listrik dirumah. Dia tidak mau istri pamanku panik,jadi menggunakan alasan masalah listrik karena itu salah satu alasan kami jika membangunkan paman tengah malam atau pagi-pagi buta seperti kali ini.

Seisi rumah sudah mulai tenang,yang ada kami semua tertawa menyadari apa yang barusan terjadi. Menyadari sedikit kebodohan kami yang begitu panik,sampai harus berdebat ini itu untuk mencari solusi sebelum mengambil tindakan untuk menghubungi ponsel pamanku atau mengecek keberadaannya dirumahnya.

Penipu oh penipu
Mereka sangat tau bagaimana cara membuat panik si korban dengan menggunakan saudara,anak atau orang-orang yang dicintai sebagai trik. Karena rasa sayang itu dan kondisi panik sehingga banyak yang tidak berpikir jernih dan akhirnya mau mengikuti keinginan si penipu untuk mentransfer sejumlah uang.
Dan hampir saja keluarga kami menjadi korban,kami panik,kami tidak mengerti prosedur kepolisian soal tangkap menangkap karena kami tidak pernah berurusan dengan polisi kecuali untuk urusan SIM. Tapi untungnya, Allah masih melindungi kami dari kejahatan dunia. Alhamdulillah..

Subuh ini lumayan seru,kami semua diberi "kuliah subuh" tentang bagaimanapun kondisinya, pikiran dan hati kita harus tetap jernih agar tidak mengambil keputusan yang tidak benar.

Minggu, 14 April 2013

Bersama senja,Aku ingin Terbang

Sore ini seperti biasa kalau tidak ada kegiatan,aku buka jendela kamar dan duduk di dekatnya,menikmati angin sore yang semilir masuk mengisi ruang kamar.

Sayup terdengar lagu yang diputar adikku,lagu yang menemaninya mengerjakan tugas-tugas kuliah yang mulai menumpuk belakangan ini.

"I will fly" dari ten2five mengalun begitu saja. Seperti rasaku sekarang, aku ingin terbang biarpun cuma sejenak.meninggalkan bumi yg aku pijaki,aku ingin terbang dari tempatku saat ini yang mulai memberikan kejenuhan, aku ingin terbang ke suatu tempat dimana aku bisa menemukan aku dan diriku,terbang bersama senja melalui malam dan menyambut pagi.

Tapi aku tidak punya sayap,tak bisa terbang dan aku cuma bisa diam. Di sini, di tempat yang sama dengan kondisi yang sama dan kejenuhan yang juga masih sama.

Beruntung aku masih punya senja yang selalu setia memberikan keindahan,karena dengannya aku tak perlu terbang kemanapun. Cukup di sini,dari ruangan ini pun aku bisa menemukan diriku,bersama senja.

Kamis, 21 Maret 2013

Aku merasa tidak nyaman berada di tempat itu, tapi aku juga tidak bisa pungkiri ketika aku menjauh rasa kangen itu muncul. dan mungkin itu yang akan membuatku kembali, walaupun tidak sepenuhnya diriku.

Senin, 18 Februari 2013

Aku Takut

Ketakutan terbesarku adalah diri Mu ya Allah...
takut Kau tidak suka dengan apa yang aku lakukan
takut Kau singkirkan aku dari lingkaran orang-orang baik
takut Kau gantikan aku dengan orang yang lebih baik
takut tidak mendapat keridhoanMu

Aku hanya berusaha jujur dengan apa yang aku rasa
aku hanya ingin aku bisa bermanfaat
aku hanya ingin membuat orang lain nyaman
aku tidak mau berpura-pura menyukai
pura-pura tersenyum dan tidak apa-apa
sedangkan dalam hati bergejolak
bergemuruh menentang semua logika yang menenangkan

Aku hanya ingin jujur
dan sekali lagi karena aku takut
jika aku teruskan
maka Kau akan membuka semua kepura-puraanku
jadi biarkan aku tak terlihat tapi cukup dapat dirasakan
daripada sangat nyata, sangat kasar tapi tak berimabas

Minggu, 17 Februari 2013

Melarikan Diri

Mulai hari ini aku lepaskan
bukan menyerah tidak sanggup
karena selama ini aku tidak berbuat apa-apa
jadi apa bisa dikatakan tidak sanggup?

Selama ini cuma berdiam diri
aku tidak berbuat apapun
tidak tahu harus berbuat apa
dan tidak diberi kesempatan untuk berbuat

Apapun akhirnya, terserah
aku tidak bisa mempertanggung jawabkan
karena pada dasarnya aku bodoh
tidak tahu, tidak mau tahu
dan hanya berlari melarikan diri
sejauh yang aku mampu
pergi dari rasa aman dan tempat nyaman

Kamis, 14 Februari 2013

curhat tentang pendidikan


Sekolah di Indonesia tuh kurang menekankan pendidikan moral dalam pembelajarannya, dalam kurikulumnya. Walaupun sekarang pendidikannya dikatakan berkarakter tapi tetap saja ajaran moral seperti dipisahkan dari aspek kognitif. Bagaimana tidak, dari ketiga ranah penilaian (kognitif, psikomotor, dan afektif) yang menjadi indikator ketercapaian kompetensi ataupun standar kelulusan tetap saja ranah kognitif yang utama. Patokannya nilai UN, UAS, KKM, kalau tidak sesuai tidak lulus. Kalau tidak mencapai KKm remedial. Remedial dan remedial lagi samapai bosan (gurunya pun bosan). Seakan-akan mereka hanya dituntut untuk mendapatkan nilai bagus saja. Caranya bagaimana, terserah.

Urusan moral seperti cenderung diserahkan kepada guru Pendidikan Agama. Walaupun pada saat di perkuliahan, para guru sudah mendapat penjelasan bahwa setiap pelajaran harus terintegrasi satu sama lain, pada prakteknya banyak yang tidak demikian. Tetap fokus pada materi pelajarnnya. Namun, tidak sedikit juga guru-guru yang tetap berperan sebagai pendidik yang sebenarya, tidak hanya mengajarkan materi tapi juga menyampaikan dan memberi contoh moral yang baik. Hanya saja karena tidak semua seperti  itu  atau mungkin juga jarang, maka biasanya respon siswa pun kadang nyeleneh. Misalnya saja pernah ada guru matematika tingkat SMA yang menghabiskan waktu hampir 15 menit untuk menyampaikan pesan moral dan beberapa petuah, diakhir kalimatnya dia mendapatkan komentar yang kurang diharapkan seperti ini misalnya, “Ini jadwal pelajaran matematika kan bu, bukan agama?”

Kalau cuma guru agama yang boleh menyampaikan apa bisa mencapai tujuan pendidikan nasioanal? Pelajaran agama di sekolah itu Cuma 2x45 menit, belum lagi kalau gurunya absen, belum lagi waktu-waktu mendekati UN yang semua jam pelajaran yang tidak termasuk dalam UN diambil atau diisi oleh mata pelajaran yang di UNkan. Dan agama tidak masuk ke dalam mata pelajaran UN. Kalau ada jam tambahan di sekolah pasti diserahkan ke mata pelajaran yang di UN kan (walaupun guru agama yang terlebih dahulu meminta). Apalagi ditambah orang tua di rumahnya juga cuek dengan anaknya. Apa bisa menghasilkan lulusan yang tidak hanya pintar dalam ranah kognitif saja?. Sudah gitu, kegiatan rohis dibatasi atau lebih parahnya lagi beranggapan rohis itu tidak perlu. Terus mereka mau dapat “suplemen” moral dari mana? Dari TV, internet, majalah?

Maka tidak berlebihan rasanya jika moral dan mental kebanyakan orang Indonesia itu “jauh”. Kurang disiplin, tidak menghargai waktu, egois yang melebihi batas normal, bukan pekerja keras, kurang menghargai orang lain dll.

Ups, tidak semua orang Indonesia kok. Gambaran di atas hanya untuk mereka-mereka yang “merem” (baca: belum peduli). Yang “melek” juga tidak kalah banyak. Tapi mungkin karena jumlahnya sedikit atau mungkin juga tidak eksis makanya seperti tertutup. PR untuk semua orang-orang yang “melek”, yang peduli akan pentingnya pendidikan lebih dari sekedar menyampaikan materi pelajaran. PR untuk para pemegang kebijakan, untuk para pemimpin dari tingkat atas sampai bawah, untuk para guru, untuk para orang tua, dan pelajar yang mau berubah mejadi lebih baik