Sabtu, 30 November 2013
Menunggu
Menunggu...
Semua orang yang mendengar kata itu pasti tidak suka. Ya, semua orang tidak suka menunggu, tidak mau menunggu dan tidak sabar menunggu. Begitu juga aku. Buatku menunggu adalah pekerjaan yang paling membosankan dan menyebalkan. Bagaimana tidak, saat menunggu waktu kita terbuang begitu saja. Apalagi kalau menunggu dalam waktu yang lama. Banyak sekali pekerjaan yang bisa diselesaikan. Menurutku orang yang membuat orang lain menunggu adalah orang yang tidak mengerti betapa menyebalkannya menunggu.
Entah kenapa dari dulu sampai sekarang, bisa dibilang hampir semua temanku sering sekali membuat aku menunggu. Atau dengan kata lain aku punya banyak teman yang mengalami penyakit "jam karet". Mulai dari yang hobi "ngaret" cuma 15 menit sampai satu jam pun ada. Ini beneran, aku pernah nunggu mulai dari sabar sampai kesal selama satu jam. Dan yang ditunggu datang dengan santai, tersenyum tanpa rasa bersalah karena sudah membuatku menunggu satu jam plus tanpa minta maaf. Aku cuma bisa pasang muka cemberut karena sudah tidak punya tenaga untuk sekedar bertanya alasannya.
Eits, bukan cuma temanku. Beberapa acara entah itu yang formal semacam rapat, seminar, workshop, pelatihan dan lain-lain juga sering "ngaret". Dapat undangan rapat jam 09.00, mulainya ternyata 09.30 atau kadang jam 10.00. Aku pernah tergabung dalam kepanitiaan yang menyelenggarakan sebuah acara yang juga "ngaret". Jujur, maunya aku mulai acara tepat waktu. Tapi panitia bukan cuma aku, ada beberapa orang yang meminta untuk menunggu jumlah peserta yang hadir banyak. Jadi aku juga pernah membuat orang menunggu. Melakukan hal yang aku sendiri tidak menyukainya.
Jadi sepertinya aku sudah terbiasa dengan menunggu. Aku pernah menyiasati agar tidak menunggu terlalu lama dengan mencoba untuk "ngaret". Berhasil ? tentu tidak, aku tetap yang pertama sampai di tempat janjian dan harus menunggu. Sampai-sampai ada satu temanku yang mungkin tidak enak denganku pernah bilang, "Duluan aja ya..aku ga usah ditungguin. Soalnya bakalan telat"
Tuh kan saking terbiasanya jadi seperti dijadwalkan untuk telat.
Sekarang aku sudah mulai terbiasa, ambil positifnya saja. Allah mengajarkan aku terus melatih kesabaran. Bahkan dalam hal jodoh pun, Allah melatih kesabaranku. Sekarang aku mulai melakukan hal-hal yang bisa membunuh kejenuhan saat menunggu. Kalau ada buku baru, aku selipkan di tas jika aku pergi ke suatu tempat dan janjian dengan teman. Tidak ada buku, handphone jadi andalan teman menunggu. Bisa main game, buka sosial media, browsing, sampai menulis di blog. Kadang juga tilawah. Tapi, jika semua sudah dilakukan masih tetap harus menunggu, jurus pamungkasku adalah memperhatikan kondisi sekitar.
Dan...kalau ditanya lebih baik menunggu atau ditunggu?, jawabanku adalah aku tidak suka keduanya. Tidak ada yang lebih baik dari keduanya. Menunggu membuat jenuh, membosankan dan menjengkelkan, sedangkan ditunggu membuat orang lain jenuh, bosan dan jengkel. Yang lebih baik adalah bersama. Kalau berjanji datang disuatu tempat dan diwaktu tertentu, maka datang bersamaan adalah yang lebih baik. Bersama berjalan atau bergerak sampai bertemu disatu titik. Tanpa harus da yang menunggu atau ditunggu.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar