Jumat, 31 Oktober 2014

Biru

Biru penuh harap berubah menjadi sendu.
Warnanya memudar seiring dengan waktu dan semesta yang enggan mengabulkan segala harap.

Birunya semakin berwajah sendu, bahkan hingga menangis tergugu.
Mendapati tiap do'a yang mengalun merdu senada dengan amin yang terucap di akhirnya di dalam sujud panjang, seakan masih jauh dari pengabulan.

Biru penuh harap kali ini seakan hendak berubah menjadi kelabu.
Terpapar panas kenyataan. Tertimpa hujan penolakan. Membuat warnanya semakin memudar. Luntur.

Biru penuh harap terus menjaga warnanya. Meski sulit. Menghadirkan lagi satu harapan. Kelak akan kembali biru seperti semula.
Penuh harap, penuh semangat

Rabu, 29 Oktober 2014

My Blog My Friend

Hidup itu naik turun, ada sedih ada senang. Hidup punya banyak warna. Biru penuh harap, merah dengan amarah, hitam kelam, abu-abu dengan ragunya dan merah jambu memburu.

Begitupun dengan hidupku. Tak selamanya indah, tak selamanya resah. Dan sebagai manusia biasa aku pun perlu berbagi. Menebar kebahagiaan hingga orang lain pun merasa bahagia, mengurai beban yang dirasa bersama orang terpercaya. Lewat sebuah cerita.

Tapi aku bukan orang yang bisa dengan mudahnya dan begitu saja berbagi cerita kepada orang lain. Terutama untuk beberapa urusan yang aku rasa sangat pribadi. Sampai saat ini dari sekian banyak teman, aku hanya percaya satu orang. Dengannya aku bisa berbagi apapun.

Meski begitu, kadang aku merasa sungkan untuk berbagi cerita dengannya. Aku takut, pada saat aku bercerita tentang sesuatu dia pun sedang dalam kondisi tidak lebih baik dibanding diriku. Aku takut menambah beban orang. Terlalu percaya diri memang, berpikir bahwa orang tersebut akan memikirkan tentangku. Itulah yang kulakukan jika seseorang berbagi cerita denganku.

Untuk mengatasinya, aku menuliskan apapun yang ingin aku bagikan dengan orang lain di atas sebuah kertas. Semua, tanpa dikurangi. Setelahnya, aku membaca ulang tulisan itu kemudian aku robek atau aku remas dan berakhir di tempat sampah. Selalu begitu ketika aku tak sanggup untuk membagi kisahku dengan satu temanku itu.

Sampai tiga tahun lalu, aku memberanikan diri membuat blog ini. Aku ingin tetap bisa membaca apa yang aku tuliskan, agar aku tetap bisa belajar dari kisahku sendiri. Blog ini yang menggantikan kertas-kertas itu. Dengan perbedaan gaya penulisan. Aku tidak bisa seterbuka saat aku menuliskan di kertas. Kadang aku menggunakan kiasan, memilih kata yang pas yang mewakili kisahku seakan memberikan tirai, karena blog akan dibaca oleh siapapun yang mengunjunginya. Dan aku tetap ingin memiliki rahasia. Beberapa tulisanku pun terinspirasi oleh beberapa kisah orang yang kadang tak aku mintai persetujuannya untuk menuliskan kisah mereka. Jadi cukup aku yang mengerti apa yang sebenarnya aku tulis. Biarkan orang yang membaca menginterpretasikan sesuai dengan keinginannya. Aku tak peduli.

Aku ingin terus menulis. Mencatat penggalan perjalanan hidupku. Muali dari hal-hal kecil yang biasa, yang remeh temeh, yang membuat trauma, sampai yang luar biasa bagiku.

Aku ingin berbagi tanpa mengganggu orang lain karena harus mendengar ocehanku yang kadang menurut orang lain tak penting.

Aku juga ingin menuliskan kisahku sebagai terapi untuk hal-hal atau kondisi di luar keinginanku.

Aku ingin terus menulis, sampai kisahku berakhir.

Senin, 27 Oktober 2014

Keistiqomahan

Saat aku menuliskan ini, perasaanku masih campur aduk. Merinding mengingatnya dan takut akan lemahnya diri.

Aku, dia, mereka yang menjadi kami adalah sekumpulan manusia biasa yang teramat sangat banyak kekurangan seumumnya manusia. Sangatlah wajar jika kejadian-kejadian yang menimpa orang umum pun menimpa kami.

Keistiqomahan yang dijaga kadang goyah oleh tuntutan-tuntutan yang ingin segera dipenuhi. Ekonomi, waktu dengan keluarga, tugas-tugas kantor yang seakan berebut meminta dipenuhi.

Maka, ketika kondisi diri terseret semakin jauh dari kata istiqomah dalam kebaikan. Futur merasuki diri. Hal-hal yang haram hukumnya dilakukan dengan ringannya terjalani begitu saja.

Seperti cinta, sangat mudah untuk jatuh cinta tapi yang susah adalah menjaga cinta itu agar tidak berkurang apalagi habis.
Ketika cinta kepadaNya sudah dimiliki, penjagaan yang harus diusahakan. Agar cinta itu tetap tumbuh, bertambah dari waktu ke waktu sehingga balasan cintaNya dapat dirasakan.

Maka suatu keharusan untuk terus menengadahkan tangan, memohon penuh harap diantara sujud-sujud panjang untuk satu kata bernama istiqomah. Memohon agar kelak ketika sampai waktunya, dikembalikan dalam keadaan terbaik khusnul khotimah.

Minggu, 26 Oktober 2014

Aku Sedang Menunggu, Bukan Menghitung Waktu

Aku sedang menunggu, bukan menghitung waktu
Tak peduli berapa lama
Karena bilangannya sekarang seakan tak penting.

Yang aku tahu, aku sedang menunggu
Tanpa peduli kapan kau akan menyadari
Bahwa itu adalah kamu.

Aku sedang menunggu
Dan akan terus begitu
Sampai kau tersadar dan menghentikan itu
Membuatku bergerak bersamamu
Membuatku hanya menunggu pada bilangan waktu yang sudah menentu.

Aku sedang menunggu
Meski aku tahu tidak semua penantian berakhir indah
Aku belajar tentang ketulusan
Aku melakukannya karena aku suka
Tak peduli apakah berakhir indah atau tidak
Berarti atau sia-sia
Sungguh aku tak peduli

Jumat, 17 Oktober 2014

Teruntuk Putri Cantik Kami

Kami mengharapkan kebahagianmu
Putri kecil kami yang cantik, yang kini semakin dewasa
Salahkah jika kami hanya berharap seperti itu?

Kami besarkan kamu dengan segala daya upaya kami, dengan segala keterbatasan yang kami punya.
Sedih karena tidak bisa memberi semua yang kamu butuhkan, tidak bisa memberi yang terbaik untuk putri cantik kami, tapi kami bahagia ketika kamu tidak banyak menuntut. Ketika kamu tetap bisa tertawa lepas, bermain, berinteraksi dengan sekeliling, dan berbagi di tengah keterbatasan.
Karena kami memberimu berjuta-juta cinta dan kasih sayang melebihi jumlah materi yang dapat kami beri.

Kini ketika kamu bisa mulai berdiri dengan kakimu sendiri, meski tertatih, saat itu pun pasti datang.
Saat dimana seseorang meminta kami memberikan amanah yang selama ini kami emban, amanah untuk menjagamu, bertanggung jawab penuh atasmu. Maka kami hanya mengharap kebahagiaanmu.

Tidak berlebihan, tidak muluk-muluk, kami hanya ingin ketika masa saat kami melepasmu, hati ini merasa tenang.
Tenang karena kamu berada bersama orang yang bertanggung jawab yang menjadi pilihanmu.
Kami ingin kamu dan keluargamu bahagia lebih dari kebahagiaan yang kamu rasakan bersama kami.

Jadi putriku, cobalah untuk mengerti dan pahami sedikit saja keinginan dan harapan kami ini.
Karena kami sama seperti orang tua lainnya, melihat kebahagiaan anaknya dan berkumpup kembali di surga menjadi satu keluarga

Rabu, 15 Oktober 2014

Kelu

Mudah untuk berbagi cerita ringan hingga berat kepada orang terdekat.
Mudah untuk mengeluh, berbahagia, dan lainnya.

Tapi tidak untuk yang ini

Susahnya minta ampun
Mulut terasa kelu untuk memulai

Senin, 13 Oktober 2014

Ya Allah...yaa karim..yaa rahman..ya rahim...
Yang Maha segalanya
Yang memiliki hidup
Yang mengetahui segalanya
Yang memberi petunjuk
Yang kebaikan ada di tanganMu

Aku mohon kepadaMu
Aku membutuhkan semua itu
Aku mohon keridhoanMu

Aku berlindung kepadaMu dari ketergesa-gesaan
Aku berlindung kepadaMu dari godaan setan
Aku berlindung kepadaMu dari resah dan gundah

Aamiin..yaa rabbalalamin

Sabtu, 11 Oktober 2014

Digerakkan Takdir

Hei...
Aku sudah pernah bilang kalau aku berhenti mencari, aku memilih menunggu.

Tapi tidak juga selalu menunggu dirimu yang tak pasti.
Dirimu yang hanya harapan hampa bagiku.
Dirimu yang seolah semakin jauh dari nyata.

Aku menunggu sesuatu yang sederhana tapi nyata.
Bukan yang sempurna tapi tak nyata.

Aku akan bergerak, dari takdir satu ke takdir lainnya.
Mengikuti kemanapun aku ditempatkan.
Dan aku masih menunggu sesuatu yang pasti, mungkin bukan dirimu

Jumat, 10 Oktober 2014

Curhat Jatuh Cinta

Sebuah sms masuk saat aku berada di ruang tunggu sebuah klinik, mengantar adik yang berobat.

"Teh, aku lagi suka sama seseorang nih...."

Aku cuma bisa senyum-senyum mendapati sms itu, bingung mau menanggapi seperti apa.

Sms itu dari adik binaanku yang sekarang duduk di kelas XII. Seorang mantan ketua keputrian yang dulu malu-malu, tak pernah cerita atau membahas teman lelaki, sekarang mengirimiku kabar kalau dia sedang jatuh hati kepada seseorang dari sekolah lain yang beberapa kali dia temui di suatu kegiatan rohis se kotaku. Mungkin ini seperti cinta lokasi atau cinlok.

Aku tidak bisa menyalahkan apa yang dia rasa, karena memang itu naluriah, tidak salah. Aku cuma bisa mengingatkan bagaimana caranya mengatur rasa yang datang tiba-tiba itu. Bagaimana caranya agar anugerah itu bukan menjadi petaka. Agar tidak terpengaruh bisikan-bisikan setan yang kadang membuat yang salah menjadi serba indah.

Bersyukur karena ternyata dia tahu dan mengerti. Hanya perlu waktu untuk dia belajar memendam lebih rapih rasanya. Karena kalau aku lihat dibeberapa status facebooknya, menunjukkan sekali apa yang dia rasa. Dia pun jujur mengakui kalau sebenarnya dia juga ingin mengetahui apa yang dirasakan orang yang dia sukai.

Aku cuma bisa memintanya untuk banyak-banyak beristighfar, memendam rasa, dan lebih banyak bercerita dengan Allah.
Itu berdasar pengalaman pribadi.
Ya, aku pun pernah merasakannya, mengalaminya, dan bersyukur bisa mengaturnya.

Kamis, 09 Oktober 2014

Budaya Nyontek

Untuk sebagian besar siswa/mahasiswa/pelajar menganggap mencontek adalah hal yang biasa, karena sudah biasa dilakukan dan masif. Mereka tidak berfikir bahwa nyontek itu salah, apalagi sampai berfikir dosa. Guru/pengawas yang melarang nyontek dengan ketat disebut killer dan diberikan julukan-julukan lain yang kurang pantas.

Nyontek itu salah karena dia membohongi diri sendiri dan orang lain. Sebenarnya tidak bisa mengerjakan soal yang diberikan tapi karena nyontek maka nilai sempurna pun bisa di dapat. Dan kalau berbohong berarti dosa kan?

Sayangnya masih banyak yang tidak berfikir demikian. Mereka yang nyontek artinya menghalalkan segala cara demi mendapatkan nilai terbaik, tidak perduli salah atau benar. Yang penting mendapatkan nilai baik dengan usaha yang minimal, kalau perlu tanpa usaha selain nyontek.

Yang mengkhawatirkan adalah, ketika kebiasaan untuk menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan atau menggunakan cara-cara instan agar tujuannya tercapai menjadi kebiasaan yang melekat. Kelak mereka tidak memperdulikan lagi norma, aturan, hukum, dan hak-hak orang lain dalam mencapai keinginan dan tujuan yang ingin dicapai. Jadi, jika tidak diubah dari sekarang bukan tidak mungkin apa yang dikhawatirkan akan terjadi.

Beberapa upaya dilakukan sekolah demi menekan budaya nyontek menyebar luas. Mulai dari pengawasan yang ketat oleh pengawas, menggunakan cctv di ruangan, sampai menggunakan cara seperti di gambar yang aku sisipkan pada tulisan ini. Semua demi menciptakan dan membiasakan sikap jujur mulai dari hal kecil.

Mereka adalah orang-orang yang akan memegang peranan dalam kehidupan masyarakat kelak. Menggantikan posisi-posisi yang sekarang ditempati orang-orang tua. Mereka harus mempunyai sikap jujur, bekerja keras, dan tidak menghalalkan segala cara untuk mencapai sesuatu. Sehingga tatanan dalam masyarakat berjalan dengan baik sesuai perintah agama, norma, aturan dan hukum yang berlaku.

Selasa, 07 Oktober 2014

Memandang Wajah Ibu

Ibuku pernah bilang, salah satu momen luar biasa indah bagi seorang ibu adalah ketika menatap anaknya pada saat tidur. Lelapnya seakan menggantikah lelah sepanjang hari. Dan ketika memandang wajah anaknya, baru menyadari bahwa waktu telah berjalan begitu cepat sehingga anak pun tak terasa tumbuh semakin besar.

Kali ini aku sebagai anak yang berada di posisi beliau. Memandang wajah ibuku ketika tidur. Berbagai macam rasa bercampur di dada.

Rasa takjub karena wanita kuat ini yang mengandung, melahirkan, dan merawatku sampai sekarang.
Rasa syukur karena mempunyai ibu dengan limpahan kasih sayang, cinta dan perhatian yang meluap.
Rasa sedih karena sampai setua ini aku belum bisa membahagiakannya, membanggakannya, membalas sedikit saja jasanya.

Aku ingin membahagiakannya lebih dari sekedar saat dia menatapku waktu tidur, membahagiakannya lebih dari saat matanya berkaca-kaca ketika namaku disebut saat wisuda, membahagiakannya lebih dari sekedar melihatku tumbuh menjadi anak yang baik dimatanya, membahagiakannya lebih dari apapun.

Kupandangi keriput yang tampak mulai jelas dan banyak, dengan do'a dan harap semoga aku bisa membersamainya lebih lama, menghadiahkannya kebahagiaan yang lebih dan lebih.

Amih...semoga Allah mengampuni dosamu, memberi kesehatan, memberi kekuatan untuk terus menyaksikan anak-anakmu tumbuh, sampai kami anak-anakmu merasakan bagaimana luar biasanya membangun keluarga..aamiin...allahumma aamiin...

Senin, 06 Oktober 2014

Azki

"Bu guru, anaknya mana mana?"
Masya Allah, tua banget kah mukaku sampai anak itu mengajukan pertanyaan tadi.
"Bu guru belum punya anak, sayang" aku tersenyum kecut.
"Oh, belum melahirkan ya?"
"Belum."
"Nanti kalau sudah melahirkan, nama anaknya siapa?"
"Ehm...siapa ya? Kalau Azki boleh kasih nama, mau dikasih nama apa?"
"Safira aja, bagus tuh bu."
"Ih..Safira sih udah banyak yang punya"
"Nggak papa, bagus kok" jawabnya polos sambil menggerak-gerakkan kakinya di bawah kursi.
Aku cuma bisa tersenyum sambil mencubit kecil pipinya yang tirus.

Azki, anak dari temanku di sekolah yang dominan otak kanannya. Anak luar biasa, karena umur kurang dari 4 tahun sudah bisa menyebutkan seluruh anggota tubuh dalam bahasa indonesia, bahasa inggris dan bahasa arab. Hanya saja dia lemah dalam hal fokus. Anak luar biasa yang membutuhkan perhatian luar biasa.

Biasanya kalau dibawa ke sekolah dan ngobrol denganku, aku yang mulai bertanya. Hari ini berbeda, ketika aku duduk di sampingnya secara spontan dia bertanya hal yang mengejutkan, dan terjadilah percakapan seperti di atas.

Awalnya sempat bingung, kok dia bertanya anakku mana, tapi setelah lama mengakhiri percakapan di atas dan kami mulai membicarakan hal lain, akhirnya aku bisa tahu kenapa dia bertanya seperti itu. Jadi seingat dia, aku punya anak karena aku pernah membawa keponakanku ke sekolah dan dia suka melihat galeri foto di ponselku yang memang banyak foto keponakanku. Dia menganggap keponakanku adalah anakku.

Ah, Azki emang unik. Aku pernah dibuat kelelahan menemani dia yang naik turun tangga di sekolah. Pernah mendekapnya erat dan menggandengnya keras sambil berbicara agak tegas ketika menemaninya berbelanja di minimarket karena dia mau mengambil semua barang yang dia mau. Pernah tersenyum bahkan tertawa ketika dia menyanyi atau bertanya hal-hal diluar dugaan seperti hari ini.
Azki sekarang sudah 7 tahun, semoga tetap membanggakan dan tetap luar biasa

Kurang Disiplin

Tidak aneh dan tidak kaget mendapati kondisi sepi alias belum ada yang datang, padahal jam masuk sudah lewat banyak.

Seperti tidak ada komitmen dan rasa malu datang terlambat, bahkan untuk yang menyandang jabatan abdi negara sekalipun. Mereka tanpa rasa bersalah dan santai berjalan pelan masuk ruangan, menanyakan hal basa basi yang sudah sangat basi.

Mereka seakan menganggap biasa "menelantarkan" waktu dan melalaikan tugas begitu saja, terlambat bahkan tidak masuk sudah sangat biasa dilakukan tanpa beban. Tanpa berpikir bahwa setiap kewajibannya adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawabannya di dunia bahkan di akhirat kelak.

Entahlah, jengah rasanya menghadapi kondisi seperti ini. Bosan memberitahu dan mengingatkan mereka. Karena pada dasarnya mereka menganggap apa yang mereka lakukan bukan kesalahan, apalagi bukan satu dua orang tapi hampir sebagian besar melakukannya.

Apalagi sebagai pendidik yang heboh bahkan marah ketika siswanya tidak disiplin, tapi yang heboh dan yang marah malah biasa melakukan indisipliner. Malu rasanya berada di dekat mereka tapi tak bisa merubah keadaan.

Minggu, 05 Oktober 2014

Jujur

Mencoba jujur pada diri sendiri.
Jujur dengan apa yang dirasa, sehingga bisa tersenyum tulus tanpa kepura-puraan.

Jujur dengan keadaan yang membuat tidak nyaman, sehingga tidak berusaha bertahan dalam kehimpitan yang akan menjadi kesia-siaan.

Jujur agar bisa tersenyum lebih sering, menangis tanpa malu, melangkah bergerak dengan ringan, menjadi lebih produktif, dan lebih senang, lebih sehat dari sebelumnya.

Sabtu, 04 Oktober 2014

Permohonan

Allah....
Aku tidak tau apa yang akan terjadi
Aku tidak tau akan kau masukkan aku ke dalam situasi seperti apa
Aku tidak tau akan kau tuntun aku kemana.

Allah....
Aku hanya mohonkan yang terbaik untukku
Aku mohon tuntun aku selalu di jalanMu
Aku mohon keridhoanMu
Aku mohon mudahkan segala urusanku
Aku mohon jadikan aku pemilik hati yang selalu merinduMu.
Aamiin...

Karena Kebutuhan

Karena kebutuhan yang meringankan langkahku dalam agenda rutin.

Kebutuhan akan melihat senyum-senyum tulus dan mendengar tawa-tawa renyah ketika obrolan mengalir begitu saja. Yang merupakan kebahagian kecil yang tak ingin aku lewati.

Kebutuhan menatap wajah-wajah penuh harap keridhoanNya, yang tanpa sadar melecut semangat untuk terus juga mengharap keridhoanNya.

Kebutuhan berkumpul dengan orang-orang baik di tengah lingkunganku yang semakin beragam. Sehingga aku tetap teringatkan untuk terus di jalur yang benar.

Kebutuhan mengkaji ilmu meski sedikit tapi menjadi bekal untukku yang fakir ilmu. Aku butuh perbekalan yang mencukupi, yang akan menemani perjalananku.

Juga kebutuhan-kebutuhan lain yang meminta untuk dipenuhi.

Bertemu mereka seperti mendapatkan sulutan semangat, mendapatkan pelajaran-pelajaran secara langsung maupun tak langsung, merasa bersyukur atas semua nikmat yang melimpahiku, merasa berarti karena perhatian.

Semoga terus bersemangat tanpa surut apalagi mundur jauh.

Rabu, 01 Oktober 2014

Sebuah Skenario

Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua telah tertulis dalam sebuah skenario panjang dan indah.

Sebuah skenario yang menjadikan aku terlahir di tengah keluarga saat ini, memiliki keluarga yang membuatku tak henti untuk bersyukur.

Sebuah skenario yang mempertemukanku dengan orang-orang baik, orang-orang luar biasa yang menjadikan aku terus belajar dan mengambil pelajaran.

Sebuah skenario yang menempatkan aku di suatu tempat yang tak pernah aku kira.

Sebuah skenario yang panjang, yang berusaha aku lakoni dengan baik. Ketika semua terasa menyesakkan, terasa diputar balikkan, menyulitkan, menerbitkan keputusasaan, aku percaya ini masih menjadi bagian cerita indahku. Ketika nikmat bertubi-tubi datang kepadaku, kebahagiaan menyapaku tanpa jeda yang membuatku tak punya alasan untuk tidak tersenyum, itupun bagian cerita indahku. Maka aku jalani bagianku dengan segala kemampuanku.

Aku lakoni skenarioku dengan baik, dan berharap mempunyai ujung cerita yang baik.