Rabu, 29 Oktober 2014

My Blog My Friend

Hidup itu naik turun, ada sedih ada senang. Hidup punya banyak warna. Biru penuh harap, merah dengan amarah, hitam kelam, abu-abu dengan ragunya dan merah jambu memburu.

Begitupun dengan hidupku. Tak selamanya indah, tak selamanya resah. Dan sebagai manusia biasa aku pun perlu berbagi. Menebar kebahagiaan hingga orang lain pun merasa bahagia, mengurai beban yang dirasa bersama orang terpercaya. Lewat sebuah cerita.

Tapi aku bukan orang yang bisa dengan mudahnya dan begitu saja berbagi cerita kepada orang lain. Terutama untuk beberapa urusan yang aku rasa sangat pribadi. Sampai saat ini dari sekian banyak teman, aku hanya percaya satu orang. Dengannya aku bisa berbagi apapun.

Meski begitu, kadang aku merasa sungkan untuk berbagi cerita dengannya. Aku takut, pada saat aku bercerita tentang sesuatu dia pun sedang dalam kondisi tidak lebih baik dibanding diriku. Aku takut menambah beban orang. Terlalu percaya diri memang, berpikir bahwa orang tersebut akan memikirkan tentangku. Itulah yang kulakukan jika seseorang berbagi cerita denganku.

Untuk mengatasinya, aku menuliskan apapun yang ingin aku bagikan dengan orang lain di atas sebuah kertas. Semua, tanpa dikurangi. Setelahnya, aku membaca ulang tulisan itu kemudian aku robek atau aku remas dan berakhir di tempat sampah. Selalu begitu ketika aku tak sanggup untuk membagi kisahku dengan satu temanku itu.

Sampai tiga tahun lalu, aku memberanikan diri membuat blog ini. Aku ingin tetap bisa membaca apa yang aku tuliskan, agar aku tetap bisa belajar dari kisahku sendiri. Blog ini yang menggantikan kertas-kertas itu. Dengan perbedaan gaya penulisan. Aku tidak bisa seterbuka saat aku menuliskan di kertas. Kadang aku menggunakan kiasan, memilih kata yang pas yang mewakili kisahku seakan memberikan tirai, karena blog akan dibaca oleh siapapun yang mengunjunginya. Dan aku tetap ingin memiliki rahasia. Beberapa tulisanku pun terinspirasi oleh beberapa kisah orang yang kadang tak aku mintai persetujuannya untuk menuliskan kisah mereka. Jadi cukup aku yang mengerti apa yang sebenarnya aku tulis. Biarkan orang yang membaca menginterpretasikan sesuai dengan keinginannya. Aku tak peduli.

Aku ingin terus menulis. Mencatat penggalan perjalanan hidupku. Muali dari hal-hal kecil yang biasa, yang remeh temeh, yang membuat trauma, sampai yang luar biasa bagiku.

Aku ingin berbagi tanpa mengganggu orang lain karena harus mendengar ocehanku yang kadang menurut orang lain tak penting.

Aku juga ingin menuliskan kisahku sebagai terapi untuk hal-hal atau kondisi di luar keinginanku.

Aku ingin terus menulis, sampai kisahku berakhir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar