Minggu, 04 Mei 2014

Surat untuk Saudara Seimanku

Teruntuk saudara-saudara seimanku....

Aku dan kalian tidak tahu apa yang akan terjadi esok, lusa dan seterusnya. Inilah salah satu alasan aku menuliskan ini. Hingga jika nanti aku (keimananku) menurun, aku diingatkan.

Saudaraku,
Jika kelak aku futur, kemudian tiba-tiba "menghilang", tiba-tiba menjauh, tak lagi bersemangat bahkan hanya untuk hadir di agenda pekanan rutin, entah dengan alasan apapun. Maka aku mohon, aku mohon dengan sangat jangan juga meninggalkan aku. Jangan juga "menghilang". Jangan juga membiarkan aku semakin menjauh. Jangan membiarkan aku karena aku hanya seorang, yang jika aku pergi masih banyak dan akan ada orang-orang terbaik lainnya. Kejar aku sebelum aku semakin jauh dari kalian. Kalau kalian sudah berusaha mendekati aku dengan lembut tapi aku belum bergeming, maka "tampar" aku dengan "tamparan" yang menyadarkanku. Tarik aku sehingga aku kembali. Terakhir, do'akan aku. Pintakan kepadaNya. Karena Dia yang memiliki aku.

Saudaraku,
Aku hanya ingin terus berada dalam semangat luar biasa bersama kalian. Semangat mengejar ridho Allah, mengejar surgaNya.

Saudaraku,
Aku takut. Aku juga sedih. Melihat beberapa saudara kita yang lain satu persatu pergi menjauh. Kita bukannya diam saja dengan kondisi itu. Kita sudah berusaha tapi seperti terlambat atau seakan tidak mampu membawa mereka kembali.
Aku takut jika aku berada dalam kondisi seperti itu. Aku takut tidak bisa merasakan nikmatnya bersama kalian.

Saudaraku,
Memang begitu banyak jalan mencintai dan mencari ridho Allah, tapi aku sudah senang dengan cara aku mencintai dan mencari ridho Allah bersama kalian.
Begitu banyak kebahagiaan yang bisa aku dapatkan walau tak bersama kalian, tapi aku tidak mau kehilangan salah satu cara mendapatkan kebahagianku yaitu bersama kalian.

Saudaraku,
Sampai disini aku tidak tahu mau menuliskan apa lagi. Tanganku sudah bergetar, air mataku sudah menggenang. Tapi aku masih ingin menulis, mengungkap rasa yang belakangan mengganggu. Ini seperti menuliskan sebuah surat sakti. Dan memang ini adalah surat sakti. Walaupun kalian satu persatu tidak membaca surat ini atau membaca tapi kemudian lupa. Setidaknya ini yang akan mengingatkanku, ketika aku melemah. Sebagai pelecut semangat. Bahwa ada kalian yang membuatku merasa bersyukur berada diantara kalian. Bahwa bersama kalian, aku tau Allah sangat dekat dan merasakan kedekatanNya, aku tidak akan merasakan sendiri.

Saudaraku,
Semoga Allah selalu menghimpun kita. Sebagaimana yang selalu aku harapkan ketika bait-bait rabithah mengalun di bibirku, ketika aku menjeda kalimat demi kalimat beberapa detik sambil berusaha membayangkan wajah kalian satu persatu. Seperti yang aku rasakan saat ini, saat aku terhimpun bersama kalian dan dilingkupi limpahan cinta kalian.

Saudaraku,
Aku mencintai kalian karena Allah. Sebagaimana kalian mencintai aku karena Allah.