Sabtu, 31 Agustus 2013

Semangat Kembali

Beberapa hari ini seperti diberi jalan untuk menemukan tulisan-tulisan inspiratif. Mulai dari penulis sungguhan sampai yang amatir, yang hanya ingin bercerita tentang dirinya di blog seperti aku. Dan sungguh itu membuat aku bersemangat untuk rajin meluangkan waktu beberapa menit memainkan jari-jari ini. Walaupun sekedar menyampaikan apa yang aku rasa.

Dari mereka aku semakin memantapkan hati bahwa menulis bukan lagi sekedar hobi atai kebiasaan tapi kebutuhan. Seperti halnya beribadah, membaca ataupun menuntut ilmu. Bahwa sesempit apapun waktu yang ada, sepadat apapun kegiatan harus selalu meluangkan waktu beberapa menit untuk memenuhi kebutuhan itu. Ini seperti waktu berharga buat aku. Tidak peduli apa yang aku tuangkan dalam tulisan, tidak peduli nantinya akan ada yang membaca atau tidak, tidak peduli bahasanya acak-acakan, semua mengalir begitu saja.

Begitulah amatir, yang penting hati senang. Perasaan bahagia ketika merangkai kata-kata dan membacanya setelah titik terakhir sudah cukup tanpa harus memikirkan yang lain. Berbeda dengan penulis profesional yang mungkin akan memikirkan isi, alur cerita, bahkan EYD. Yang setelah selesai menulis, secara sukarela mengedit tulisannya, membuang bagian-bagian yang kurang penting, menambahkan pemanis disana sini agar tulisannya bukan sekedar utuh tapi enak untuk dibaca lebih dari satu kali.

Ada keinginan untuk menjadi penulis profesional, bahkan menjadi salah satu impian dalam hidup. Dimana kelak aku bisa membaca sebuah buku yang disampulnya tertera namaku. Menuliskan sesuatu di halaman persembahan dan membubuhkan tanda tangan untuk para pembaca. Bukan apa-apa, rasanya pasti senang sekali mengetahui apa yang aku tulis dibaca oleh orang banyak bahkan orang yang tidak aku kenal. Tapi itu butuh waktu, butuh keseriusan sedangkan saat ini saja aku belum bisa rutin meluangkan waktu setiap hari untuk menulis.

Entah sudah berapa cerpen yang tidak aku selesaikan. Ada yang baru setengah jalan, lebih parah lagi ada yang tinggal menentukan akhir ceritanya saja tapi aku biarkan karena mentok bingung mau dibuat seperti apa. Alhasil semuanya aku relakan hilang waktu komputernya harus diinstal ulang.
Menulis puisi apalagi, hampir tidak pernah. Aku seperti kehilangan kata-kata indah, bahkan untuk membuat sebait puisi. Entahlah.

Dan dari tulisan-tulisan yang aku temukan dan aku baca akhir-akhir ini aku seperti menemukan kembali semangat menulis seperti saat masih sekolah. Semangat bercerita kepada diri sendiri melalui tulisan. Menemukan kembali teman terbaik untuk berbagi. Dan yang pasti menemukan sebuah kebahagian lagi dengan cara yang berbeda. Semoga hari ini dan seterusnya tetap bersemangat.

Selasa, 27 Agustus 2013

Only Hope

There's a song that's
inside of my soul.
It's the one that I've tried
to write over and over
again
I'm awake in the infinite
cold.
would you sing to me
over and over again
So, I lay my head back
down.
And I lift my hands and
pray
To be only yours, I pray, to
be only yours
I know now you're my only
hope.
Sing to me the song of the
stars.
Of your galaxy dancing and
laughing and laughing again.
When it feels like my dreams
are so far
Sing to me of the plans
that you have for me over
again.
So I lay my head back down.
And I lift my hands and
pray
To be only yours, I pray, to
be only yours
I know now, you're my only
hope.
I give you my destiny.
I'm giving you all of me.
I want your symphony,
singing in all that I am
At the top of my lungs, I'm
giving it back.
So I lay my head back down.
And I lift my hands and
pray
To be only yours, I pray, to
be only yours
I pray, to be only yours
I know now you're my only
hope.

#Mandy Moore-Only Hope

Senin, 26 Agustus 2013

Kontemplasi Embun

Setiap manusia punya hidupnya masing-masing, punya ceritanya masing-masing. Mungkin ada beberapa bagian yang sama tapi tidak akan sama persis dari awal sampai akhir. Seperti sifatnya yang tidak akan pernah sama, jalan ceritanya pun demikian. Ibarat sebuah produk yang mempunyai kode produksi yang berbeda satu sama lain.

Takdir sudah menuliskannya seperti itu. Memang ada takdir yang bisa dirubah dengan ikhtiar manusia itu sendiri, tapi semua kembali lagi kepada keputusan Sang Pemilik Hidup.
Misalnya saja manusia sudah bekerja banting tulang tapi rizkinya, penghasilannya tetap saja pas-pasan. Kalau sudah seperti itu yang dibutuhkan adalah tawakal dan berbaik sangka, bahwa itulah bagian dia dan kondisi seperti itulah yang terbaik untuknya.

Yang terbaik. Tentu bukan menurut pandangan dan kriteria manusia tapi menurut pandangan dan kriteria Sang Pemilik manusia.
Bisa jd menurut manusia baik, belum tentu menurut Dia baik.
Misalnya saja manusia merasa membutuhkan sesuatu, sudah berdo'a dan berusaha tapi belum mendapatkannya. Bisa jadi itu karena menurutNya manusia tersebut belum terlalu membutuhkan. Kalau sudah seperti itu ya tinggal tawakal, terus berusaha dan berdo'a sampai mendapatkan apa yang dibutuhkan. Sampai dipantaskan untuk mendapatkan apa yang dibutuhkan. Ternyata yang di dapat tidak sesuai keinginan, tidak usah kecewa. Disyukuri.

Akhirnya tidak akan ada keluh kesah berkepanjangan, tidak ada kata putus asa. Ketika mulai mengeluh itu tidak akan menjadi kondisi yang lama. Hanya sebentar kemudian kembali bersemangat untuk berusaha. Ketika datang perasaan sedih, itu pun sesaat. Kemudian tersenyum menatap jalan panjang yang harus dilalui. Semua karena keyakinan bahwa setiap manusia akan selalu mendapatkan yang terbaik menurut kriteria Sang Pemilik manusia.

Sabtu, 24 Agustus 2013

Sebait Do'a Atas Nama Ukhuwah

Ikatan karena ukhuwah memang luar biasa. Ikatan yang terjalin karena rasa cinta pada Allah, terjalin karena aqidah. Bukan karena kepentingan atau hanya sekedar ikatan pertemanan.
Kadang tidak perlu diungkapkan, kadang tidak perlu selalu sering tegur sapa, kadang tidak perlu selalu bertemu. Tapi semuanya terikat kuat, menimbulkan kerinduan yang muncul tiba-tiba, menghadirkan kebahagiaan, dan merasakan kesedihan. Berbagi rasa tanpa satu sama lain saling tahu. Kadang.

Seperti malam ini, dada ini tiba-tiba sesak dan tanpa terasa butiran bening jatuh satu persatu, saat aku baca status salah seorang teman di facebook.
Seorang teman yang aku kenal saat aku kuliah akta 4. Kedekatan kami semakin terjalin begitu saja. Terjalin karena Allah menjalinkan begitu saja.

Pribadinya luar biasa. Sederhana namun mempunyai semangat luar biasa. Bahkan aku hampir tidak percaya saat dia cerita, kalau jantungnya bermasalah. Masya Allah, dia bercerita sangat ringan seperti biasanya, dengan gaya khasnya seakan itu biasa. Sangat biasa. Aku pandangi wajahnya diam-diam, aku tersenyum. Luar biasa sekali orang ini. Keimanannya pada Allah membuatnya begitu santai dengan kondisi jantungnya. Entahlah apa yang dia rasakan, apa yang dia pikirkan. Aku belajar banyak darinya bukan hanya dari hal yang aku ceritakan tadi.

Dan dari statusnya yang aku baca malam ini aku tahu kondisinya tidaklah baik. Kebocoran di jantungnya semakin membesar dan harus ditambal.
Ya Allah, betapa sedih mendengar kabar itu. Entah apa yang dia rasakan sekarang?
Apakah dia masih tetap bersemangat dan tersenyum?
Untuk yang terakhir aku yakin masih.

Keajaiban ukhuwah yang membuat aku merasa seperti ini. Meneteskan air mata, merasa sesak. Padahal sudah sangat lama aku tidak berkomunikasi dengannya. Setahun setelah lulus dari akta 4, praktis tidak ada komunikasi dengannya. Aku jarang update facebook. Status di timeline pun hanya aku read.
Sesekali menemukan statusnya di timeline. Status seperti biasa. Tapi status yang dia tulis siang tadi,... T_T

Ya Allah..
Aku titipkan sebait do'a untuknya.
Sebait do'a tulus dari saudara seaqidah dan atas nama ukhuwah yang Engkau jalinkan.
Agar Engkau mudahkan proses pengobatannya.
Agar Engkau memulihkan kondisinya.
Agar Engkau memberinya kesehatan.
Agar Engkau melimpahkan cintaMu padanya.
Aamiin...Aamiin...Aamiin...

Jumat, 09 Agustus 2013

Getting Older

Kedua orang tuaku sudah mulai lanjut usianya.

Ayah, yang dulu badannya berisi bahkan cenderung gemuk kini sudah mulai mengurus. Saat berkesempatan memijat kakinya, aku sadar betisnya tidak lagi sekekar dulu. Tangannya pun demikian. Tinggal perut yang sudah terlanjur membuncit.
Rambutnya sudah banyak yang putih, walaupun tidak terlihat karena sering dicabut. Bukan apa-apa, karena uban yang tumbuh membuat gatal kayanya.

Ibu, sama saja. Terlihat lebih kurus. Saat mencium tangannya, aku mulai merasakan hidungku beradu dengan tulang punggung tangannya. Saat mencium pipinya, tidak lagi membal karena pipi tembemnya. Tapi menempel lembut, bersentuhan dengan kulit yang mulai keriput. Rambutnya, sudah mulai kalah yang hitam dengan yang putih. Apalagi di bagian depan.

Fisik mereka menunjukkan betapa mereka sudah mulai lanjut, sudah menjadi pengingat bagi anak-anaknya dan seakan berkata, "sekaranglah waktu kalian".
Sekarang waktunya untuk lebih berbakti, lebih membuat bangga, lebih membuat bahagia, lebih perhatian, lebih dan lebih.
Walaupun semua kalimat itu tidak terucap dari bibir mereka. Ya, hanya tampilan fisik yang memberi isyarat alami.

Namun, bagaimanapun mereka. Meski fisik mulai berubah, mereka tetaplah sandaran kami setelah Allah. Terutama aku. Tidak ada teman untuk bercerita dan berbagi kisah senyaman mereka.
Mereka masih tetap menjadi orang yang paling dicari saat pulang dari kegiatan luar rumah.
Menjadi alasan untuk segera pulang.

Sehat selalu ya ayah dan amih..
I love you so much more..

Rabu, 07 Agustus 2013

Melepas dengan Berat

Berat rasanya melepas Ramadhan, sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Tapi kali ini lebih-lebih.

Karena target banyak yang tidak tercapai.
Karena mimpi tidak terwujud.
Karena ibadah seperti tidak maksimal.
Karena belum menikmati benar momentumnya.
Ditambah dengan "tamu" yang datang di awal dan akhir.
Ditambah teguran fisik yang tiba-tiba.

Dan waktu tidak bisa diputar balik, ia dengan gagahnya akan terus bergerak, berganti tanpa peduli. Menyisakan hari ini, hari terakhir di Ramadhan tahun ini. Bergerak cepat menyambut Syawal. Meninggalkan aku yang terseok-seok mengimbangi dengan manajemen yang amburadul.
Aku dengan hati yang entah seperti apa.
Aku dengan mata tergenang, basah.

Ramadhan...Aku mohon izinkan aku bertemu lagi denganmu.
Dengan kondisi yang lebih baik, dengan persiapan yang lebih baik, dengan manajemen yang lebih baik. Walaupun pada akhirnya tetap dengan rasa berat aku melepas pergimu.