Selasa, 08 Oktober 2013

Bahagia di Sekolah

"Kok betah sih ngajar? Kan gajinya kecil. Kurang pantas deh kalau S1 tapi dapat gaji sebesar itu"

Begitu kira-kira yang sering disampaikan orang-orang padaku. Mulai dari teman, keluarga jauh sampai keluarga terdekat komentarnya sama.
Aku cuma bisa senyum menanggapi komentar seperti itu, karena rasanya percuma aku jelaskan juga belum tentu mereka paham dengan apa yang menjadi pendapatku, apa yang aku yakini.

Aku sudah yakin, menjadi guru adalah profesi yang akan aku jalani sampai Allah mengambil kesanggupanku untuk melakukannya, sampai aku berpulang kepadaNya.
Aku terlanjur jatuh cinta dengan pekerjaanku ini, malah semakin cinta. Bahkan ini bukan lagi menjadi pekerjaan tapi sudah semacam kebiasaan, hobi, bahkan kebutuhan.

Anak-anak di sekolah yang selalu membuat warna berbeda setiap harinya. Hari ini mereka bertingkah manis sekali, besok mereka bisa jadi menyebalkan sekali. Hari ini mereka semangat sekali, besok mereka bisa jadi malas semua, ngantuk semua kompak. Tidak pernah sama tiap harinya. Itu yang membuat aku semakin cinta. Sesumpek apapun keadaanku, bagaimanapun kondisiku saat berhadapan dengan mereka seakan memberi aku waktu untuk berbahagia, bahagia di sekolah dan tersenyum lewat canda dan celetukan-celetukan aneh yang keluar.

Bukan berarti siswa-siswa ku tidak membuat aku pusing. Ada juga, tapi aku sebut yang beberapa itu dengan oknum. Karena itu lagi dan lagi orang yang bermasalah, yang menjadi bahan pembicaraan guru-guru. Tapi yang oknum itu bisa juga bersikap manis. Ya begitulah, mereka tetap anak-anak yang masih mencari jati diri. Tingkah mereka tanpa terkecuali yang membuat aku selalu merasa diliputi oleh kebahagiaan.

Jadi, aku tidak pernah memperdulikan berapa gaji yang aku terima. Karena bukan itu yang membuat aku merasa bahagia. Aku bekerja sebagai bentuk rasa syukur atas ilmu yang aku punya, atas kebahagiaan yang aku terima, atas rahmat dan kesempatan yang diberikan kepadaku. Dan aku mendapatkan lebih dari apa yang seharusnya aku dapatkan. Wajah-wajah calon pengganti yang bisa aku tatap setiap hari.

Kalau kata orang bahagia itu sederhana, aku setuju. Aku cuma perlu terus menemani calon-calon pengganti di sekolah untuk mendapatkan salah satu kebahagiaanku, yang akan menyempurnakan kebahagiaanku yang lain.

Jumat, 04 Oktober 2013

Harapan Sederhana

Tahukah kamu, aku memilihmu
Memilihmu diantara milyaran pria di dunia ini
Dan aku mau kamu tahu harapanku tentangmu

Harapanku sederhana
Sesederhana tatapanmu

Aku mau kamu yang datang ke rumahku
menemui orang tuaku dan memintaku

Aku mau kamu menjadi orang yang pertama aku lihat
ketika aku membuka mata
Menjadi orang terakhir yang aku pandang
ketika aku menutup mata

Aku ingin kamu yang menemaniku
disaat kuat dan rapuhku
disaat senang dan susahku

Sederhana bukan?

Aku masih terus berharap
tak mempedulikan apa yang ada
tak mengindahkan sinyal-sinyal yang memudarkan harapan

Berkali-kali aku menyerah
tapi sebanyak itu pula harapanku tumbuh

Mencoba untuk tahu diri
mengerti bahwa kamu cukup jauh
tapi sesaat itu pula aku yakin
kamu dekat, semakin mendekat

Dan kali ini
harapan itu membesar
seakan dekat dengan kenyataan
senyata kamu yang semakin dekat