Jumat, 18 April 2014
Tepat di Waktu yang Tepat
Senin, 14 April 2014
Angkot (part 7)
Hari pertama menjadi panitia Ujian Nasional cukup melelahkan. Lelah karena sebagian besar waktuku cuma menunggu. Setelah pengawas masuk ruangan dan ujian dimulai, praktis aku tidak punya kegiatan berarti. Hanya diisi dengan berbincang (lebih tepatnya basa-basi) dengan pengawas independen, ngobrol kesana kemari dengan sesama panitia, dan berkutat dengan hp.
Lelahku tambah lengkap dengan cuaca panas saat pulang. Sebuah angkot berhenti di depanku, ternyata aku kurang beruntung. Kaca angkot terang benderang jadi sinar matahari leluasa memenuhi angkot bagian dalam. Debu jalanan masuk melewati jendela yang terbuka. Oke, ini dilema. Kalau jendela dibuka debunya masuk tapi kalau ditutup maka angkot jadi pengap. Tapi akhirnya aku pilih opsi yang kedua karena debu dari luar tidak bisa diajak kompromi.
Angkot yang aku naiki tidak terlalu penuh. Cuma ada aku, ibu dengan dua orang anaknya, dan ibu lainnya dengan satu orang anaknya. Dan keseruan dimulai. Ketika ibu pertama mulai menimpali obrolan ibu kedua dengan anaknya yang sedang membahas tentang sekolah. Dan entah bagaimana ceritanya, kedua ibu itu saling berbagi cerita walaupun tidak kenal satu sama lain. Mulai dari membahas sekolah sampai dengan masalah keluarga. Mereka asyik bercurhat ria sampai akhirnya harus diakhiri karena ibu yang kedua turun lebih dulu.
Ini hal seru lainnya dari naik angkot. Sesi curhat sering terjadi antara dua orang atau lebih padahal belum sama sekali saling mengenal. Cerita mengalir begitu saja seperti bercerita dengan seorang teman. Dan biasanya diakhiri dengan salam perpisahan seperti "saya duluan.." ditambah senyuman sebagai pelengkap.
Apa aku pernah berada di posisi seperti itu?
Jawabannya adalah pernah, tapi lebih kepada pendengar yang baik. Aku tidak pernah bisa bercerita begitu saja dengan orang yang baru pertama bertemu dan tidak ada rencana untuk berkenalan. Bukan sekali aku menemui penumpang yang curhat atau sekedar mengajak ngobrol. Dan kalau sudah seperti itu, aku siap menjadi pendengar yang baik. Menanggapi seperlunya. Berusaha ramah karena sebenarnya aku agak risih dengan orang yang sok akrab atau lebih kerennya SKSD (Sok Kenal Sok Dekat) padahal baru bertemu. Entah kenapa tapi itu sulit untuk dihilangkan.
Aku lebih suka memperhatikan dan mendengarkan penumpang lain. Banyak pelajaran yang bisa aku ambil. Contohnya hari ini. Bahwa rasa nyaman ketika berbicara dengan seseorang akan membuat kita begitu saja bercerita panjang kali lebar bahkan sampai curhat bahkan dengan orang yang belum dikenal atau baru pertama bertemu.
Kamis, 10 April 2014
Rengkuh Aku....
Aku menangis
Saat tak mempunyai waktu berkualitas denganmu
Aku sekedar menyapa
Mendatangimu sebantar
Saat tak menikmati kata indahmu
Sekedar membaca
Tak memperdulikan makna
Hanya sekilas
Saat hati tak bergetar karena rindu
Datar dan hampa
Tapi aku seperti biasa
Dan aku menangis
Cuma bisa menangis
Hanya menangis
Mencari kenikmatan itu
Ketika aku menyapamu
Membaca kata-kata indah itu
Merasakan kerinduan
Memiliki hati yang berbunga
Membuncah penuh harap
Aku mohon rengkuh aku
Jangan biarkan aku menjauh
Tak menghiraukan kehadiranmu
Jangan biarkan aku lupa
Bahwa kau tak akan jauh
Apalagi pergi meninggalkanku
Rengkuh aku
Hingga aku merasakan kita tak berjarak
Dan aku tak perlu risau
Ketika semua meninggalkanku
Karena kau selalu ada
Untukku
Jumat, 04 April 2014
Curhat Teman
Usia kepala tiga dan masih menyandang status lajang. Tidak dipungkiri keadaan itu menghadirkan kegundahan luar biasa dalam diri. Itu juga yang mungkin dirasakan oleh seorang temanku. Ketika semua keluarga mendesak bahkan ikut campur dengan menyodorkan seorang calon, ketika semua temannya sudah berkeluarga dan mempunyai anak, ketika yang usianya jauh di bawah dia pun silih berganti menemukan jodohnya dan dia masih menunggu, maka rasa gundah itu hadir. Prinsip yang dipegangnya berbenturan keras dengan keadaannya. Tapi sabar tetap menjadi pilihannya, prinsipnya dipegang teguh, dan meyakini yang terbaik yang dipilihkan oleh pemilikNya.
Bukan berarti karena tuntutan usia dan keluarga kemudian harus menerima siapa saja, kan??
Aku tuliskan curahan hatinya di sini, karena secara tidak langsung, kurang dan lebihnya menggambarkan kondisiku juga..^^
Ya Allah... terima kasih atas segala nikmat yang Kau berikan kepadaku.
-Nikmat Iman
-Nikmat Islam
-Nikmat tarbiyah
-Nikmat dakwah
-Nikmat bertemu dengan para tunas-tunas bangsa
Ketika yang lebih tua harus mengalah dengan yang lebih muda
Ketika yang matang sibuk mengurusi dakwah
barangkali ada juga yang sudah tidak memikirkan pribadinya
Ya...hari-harinya dihiasi dengan mengurusi orang lain..
Barangkali itu cara Allah menyayangi hamba-hambaNya
Jangan Kau cabut nikmay ini
Entah bagaimana jadinya jika Engkau mengambil semua itu..
Istiqomahkanlah aku di jalan ini.. aamiin...
Ya..jangan karena usia sudah sangat matang
menerima siapa saja
yang tidak sefikroh
sungguh...setiap orang pasti punya prinsip
Dan ada yang berprinsip.. Di Jalan Dakwah Kugapai Sakinah...
Masih adakah yang punya prinsip yang sama??
Ketika saat ini bergulir prinsipnya
Yang penting fisiknya...pendidikannya...pekerjaannya..
Lagi-lagi masih adakah yang punya prinsip "Di Jalan Dakwah Kugapai Sakinah"???
Menikah karena dakwah Ilallah....
**Semoga Allah memberikan jodoh terbaik menurutNya dan menyegerakannya..aamiin...
Rabu, 02 April 2014
Tentang Hobi Membaca...
Dari SD sampai sekarang,kalau ditanya hobi aku selalu jawab "aku suka baca". Baca apa saja, selain baca pikiran karena yang ini aku nggak bisa dan nggak mau bisa. Aku suka semua jenis buku, mulai dari buku cerita, novel, siroh(sejarah), tentang motivasi, komik, sampai buku pelajaran. Yang terakhir sering dibaca lebih karena tuntutan pekerjaan.
Banyak yang bilang hobiku terlalu mainstream, tapi ya mau bagaimana lagi. Aku suka baca, sangat suka malah. Kalau sedang membaca, aku seperti dibawa sama jalan pikiran si penulis. Memahami karakter masing-masing lewat bahasa dan gaya penulisannya.
Kadang saking asyiknya aku nggak peduli dengan keadaan sekitar. Suka nggak nyambung kalau diajak ngobrol atau ditanya dalam kondisi asyik membaca. Atau larut dalam cerita diantara banyak orang. Aku tertawa, senyum-senyum sendiri, bahkan meneteskan air mata ketika membaca cerita dari sebuah buku, dan itu nggak peduli dimanapun. Seperti angkot misalnya. Tak jarang orang yg duduk di depanku memandang aneh gara-gara aku senyum-senyum atau nangis di depan umum tanpa malu.
Aku suka. Suka menikmati saat-saat seperti itu. Buatku membaca bukan hanya memperkaya ilmu, perbendaharaan kata tapi juga mengasah intuisi dan jiwa. Sama satu lagi yang penting, memotivasi diri sendiri untuk bisa membuat sebuah tulisan sebaik orang-orang yang karyanya aku baca.
Dari beberapa penulis yang karyanya pernah aku baca, aku selalu jatuh hati pada karya Andrea Hirata. Dia salah satu favoriku. Membaca karyanya seakan belajar ilmu-ilmu baru. Ilmu tentang tumbuhan, geografi, sampai tentang permainan catur. Membaca karyanya seperti dibangkitkan sisi sensitifitas terhadap sekitar, membangkitkan semangat untuk mewujudkan mimpi lewat usaha-usaha luar biasa yang harus dilakukan.
Penulis yang kedua adalah Salim A Fillah. Meski aku baru punya satu bukunya tapi aku cukup sering membaca karyanya. Pinjam dari teman. Bahasanya manis dan indah. Salim A Fillah menyampaikan pesan-pesan tentang ruhiyah dengan bahasa yang indah dan tidak membosankan. Seperti membaca novel cinta.
Banyak lagi penulis lainnya yang aku suka, tapi dua yang aku sebutkan di atas adalah favoritku. Aku harap bisa bertemu dengan mereka. Cuma ingin bilang "aku bangga pernah membaca karyanya".
Hobiku membaca, tapi sampai sekarang aku belum mampu rutin membeli buku. Kalau tidak ada buku baru dan belum kebeli, sebagai gantinya aku suka blog walking, membaca tulisan-tulisan berbagai orang.
Semoga kelak aku bisa memenuhi kebutuhanku akan buku-buku itu.
