Jumat, 18 April 2014

Tepat di Waktu yang Tepat

“Semua terserah kamu saja. Bapak cuma kasih pendapat. Tapi satu hal yang perlu kamu tahu, Bapak sama seperti orang tua lainnya yang hanya menginginkan anaknya bahagia.”

Pertanyaanku dijawab dengan cepat dan lugas oleh Bapak. Tapi dengan penekanan pada kata “terserah”   membuat aku mengerti maksud jawaban Bapak. Aku anaknya, lebih dari dua puluh tahun aku mengenalnya, jadi aku paham betul maksud dari perkataan dan ekspresi yang Bapak tunjukkan. Apalagi ketika menjawab mata Bapak tidak sama sekali memandangku. Pandangan matanya terus tertuju pada layar televisi di hadapannya. Aku mengerti. Tapi kucoba beranikan diri untuk meminta penjelasan.

“Tapi kenapa, Pak?”

“Apa kamu yakin?”

Pertanyaanku dijawab dengan pertanyaan lagi olehnya. Membuat aku semakin ciut.

“Kamu tidak hanya akan melewati waktu sehari, seminggu, atau sebulan dengannya. Kamu harus betul-betul mengenalnya. Kamu harus menemaninya bukan membiarkan dia sendiri. Menikah bukan hanya sekedar status tapi kemudian masing-masing masih tetap bertahan mengejar apa yang dia inginkan. Apa kamu siap meninggalkan apa yang sudah kamu rintis dan jalani selama ini?. Sesuatu yang kamu sebut sebagai passion. Dan entah kenapa Bapak ragu, Nak.”

Aku menunduk, membenamkan wajahku. Bapak tidak menjelaskan keraguannya tapi seakan memojokkan aku dan mempertanyakan keyakinanku. Aku yakin, karena aku tidak punya alasan jelas untuk menolaknya. Kalau boleh jujur, kecenderungan itupun mulai ada. Tapi, aku tidak bisa menunjukkan keyakinanku, bahkan untuk sekedar menjelaskannya pada Bapak. Mulutku seakan menutup rapat dan air mataku sudah menggenang. Aku tidak mau menangis di depannya.

“Coba dipikirkan lagi. Bapak tau kamu mengerti maksudnya dan kamu sudah sangat dewasa untuk tidak mengambil keputusan terburu-buru.”

“Ya, Pak.”

Aku beranjak meninggalkan Bapak yang masih menatap layar televisi, tujuanku adalah dapur. Aku tuangkan air dingin ke dalam gelas dan langsung ku habiskan dalam sekali teguk. Entah kenapa, rasa dingin air tidak bisa melegakkan dadaku. Rasanya sakit sekali. Tanpa terasa air mataku sudah mengalir di pipi dan buru-buru aku seka dengan telunjukku.
***
Pagi ini aku sudah mengambil keputusan. Sebisa mungkin aku menampakkan wajah yang biasa, aku tidak mau orang rumah tau apa yang aku rasakan. Berusaha tersenyum walaupun sebenarnya ingin sekali menangis. Aku pernah patah hati karena seseorang saat SMA, tapi kali ini sakitnya terasa lebih menusuk. Aku menangis tapi tidak bisa meredakkan rasa sakit dalam dadaku. Sakitnya membuat aku terus-terusan menarik nafas panjang agar aku tidak kekurangan oksigen yang akan menyebabkan aku tak sadarkan diri.

Dalam perjalanan menuju kantorku, aku mengirim pesan kepada seorang temanku untuk menyapaikan apa yang sudah aku putuskan. Aku tidak sanggup untuk menyampaikan secara langsung padanya. Sesaat setelah aku tekan tombol send, air mataku langsung mengalir. Berkali-kali aku seka dan aku tahan agar berhenti mengalir tapi tidak bisa. Aku memalingkan wajahku ke luar jendela, aku tidak mau seisi angkot melihatku menangis. Walaupun seorang gadis berseragam putih abu-abu sudah sejak tadi menatapku heran. Rasanya dadaku sesak sekali. Aku menarik nafas dalam-dalam. Mulutku berkali-kali melafadzkan istighfar kadang diselingi dengan kalimat “aku kuat”, mencoba mencari pengobatan.

Pertanyaan demi pertanyaan muncul di kepalaku. Kenapa harus begini, kenapa orang lain dimudahkan tapi aku tidak, apa yang membuat Bapak ragu, kenapa aku sakit seperti ini, bagaimana perasaannya, kenapa ini, kenapa itu?. Pikiran aneh itu muncul begitu saja menyita kepalaku, menghilangkan setengah kesadaranku sehingga aku tidak merasakan angkot yang melaju kencang dan seperti hilang kendali. aku tidak peduli, aku hanya sibuk menenangkan dan menguatkan diri sendiri. Mencoba melupakan dan melanjutkan perjalananku. Perjalanan dalam arti sebenarnya ataupun tidak.
***
Tiga tahun berlalu dan aku sudah sangat kuat dari sebelumnya. Ketika satu demi satu teman-temanku yang seusia bahkan yang lebih muda naik pelaminan sedangkan aku belum, aku biasa saja. Walaupun terkadang terselip perasaan iri. Terlebih ketika teman sekantorku menikah dan dia menangis sambil memelukku erat di hari pernikahannya. Dengan tulus dia mendo’akanku dan berkelakar kalau dia menyumpahiku sesuai keinginanku, agar aku segera menyusulnya. Candaan yang sering aku lontarkan ketika orang-orang menanyakan tentang pernikahan. Satu kalimat dari temanku yang terus nempel di kepalaku, “Kalau didoakan nggak terkabul, jadi disumpahin aja biar cepet terkabul”. Entah teori dari mana tapi aku suka kalimat itu untuk dijadikan bahan candaan.

Kegiatanku semakin padat. Apalagi sekarang aku mendapatkan kepercayaan dari kantor untuk menangani sebuah proyek di luar kota. Aku sering bolak-balik keluar kota untuk menangani pekerjaanku dan satu minggu ke depan aku akan tinggal di kota tersebut.

“Bu, sabtu pagi aku jadi berangkat ke Bandung dan akan tinggal sampai satu minggu di sana.”

“Kamu sudah bilang ke Bapak?”

“Belum Bu, nanti malam saja sekalian aku minta tolong Bapak mengantarku ke Bandung.”

“Kamu mau berani bayar berapa, Na?” Bapak muncul mengagetkan aku dan ibu.

“Aku bayar pakai peluk aja deh.” Aku berhambur ke pelukan Bapak yang berdiri tak jauh dariku.

“Dina...kamu itu sudah 28 tahun lebih tapi manjanya nggak hilang juga. Adik-adikmu saja nggak semanja itu.”

“Ibu cemburu ya?. Nih ambil Bapaknya terus peluk deh.” Aku mendorong Bapak ke hadapan Ibu dan pergi meninggalkan keduanya.
***
Hari ini hari terakhir aku di Bandung. Pekerjaan kantor sudah aku selesaikan semua tapi aku memutuskan untuk tidak segera pulang, aku ingin membeli oleh-oleh untuk orangtua dan adik-adikku. Saat sedang asyik berbelanja tiba-tiba saja ponselku bergetar, Bapak menelpon.

“Kamu jadi pulang besok?”

“Jadi, Pak. Ada apa?”

“Nggak, Bapak hanya memastikan. Besok Bapak jemput ya!.”

“Aku pulang naik travel saja, Pak. Besok pagi-pagi dari Bandung karena besok sore aku mau ke aqiqahan anaknya Tia.”

“Baiklah. Hati-hati ya..”

“Ya, Pak. Selalu.”

Aku menyimpan ponselku ke dalam tas dan sedikit bingung. Tidak biasanya Bapak menghubungiku dan menanyakan soal kepulanganku. Biasanya tidak, karena aku selalu pulang tepat sesuai jadwal. Kalau pekerjaanku diperpanjang maka aku yang akan menghubunginya. Buru-buru aku tepis pikiran buruk di kepalaku. Mungkin Bapak hanya kangen kepadaku.
***
Malam itu aku dan adik-adikku sedang asyik menonton sebuah acara di televisi saat Bapak memanggilku dan mengajakku duduk di teras depan. Sepertinya ada hal penting yang akan dibicarakan. Tidak lama setelah aku duduk di hadapan Bapak, Ibu muncul dan mengambil tempat duduk di sebelah Bapak. Bapak dan Ibu memulai obrolan dengan basa-basi menanyakan tentang pekerjaanku dan kesanku selama di Bandung. Ketika sudah mulai mencair, raut muka Bapak berubah menjadi serius.

“Kamu kenal sama Arman?”. Aku kaget dengan pertanyaan yang diajukan Bapak.

“Arditya Arman, kenal?”

“Oh...aku kenal, memang kenapa,Pak?.” Kepalaku manggut-manggut tapi hatiku bingung.

“Kemarin Arman datang menemui Bapak dan Ibu, meminta izin dan ridho Bapak sama Ibu untuk menikahimu”. Aku kaget sampai-sampai mulutku terbuka.

Bagaimana mungkin Arman datang ke rumah, tau dari mana alamat rumahku. Dan bagaimana bisa dia datang memintaku tanpa menanyakannya dulu padaku. Kenapa dia begitu berani?. Belum selesai pertanyaan aneh itu berputar-putar di kepalaku, Bapak mengejutkanku.

“Kemarin Arman sudah cerita panjang kali lebar sama Bapak. Tentang dia, keluarganya, bagaimana kamu dan dia berkenalan, juga bercerita tentang dirimu. Hari ini pun Bapak sempat bertemu dengannya untuk mengobrol.” Aku terdiam mendengar penjelasan Bapak.

“Din...Bapak dan Ibu sudah sepakat untuk memberikan ridho kamu menikah dengan Arman. Orang tua Arman juga sudah setuju. Kami dan Arman tinggal menunggu keputusanmu. Kalau kamu setuju, minggu depan Arman dan orang tuanya  akan datang melamarmu.”

Aduh, aku masih kaget dengan kabar Arman datang memintaku dan ditambah lagi kabar kalau dia dan orangtuanya segera melamar. Bagaimana ini?. Aku bukannya tidak mengenal Arman, dia adalah teman dari teman kantorku. Aku kenal Arman dari Lisa teman kantorku. Arman adalah teman kuliah Lisa, dan juga teman kantor suami Lisa. Anaknya baik, Sholeh, sedikit pendiam tapi kadang bisa humoris juga. Aku sebatas mengenalnya seperti itu. Makanya aku heran, waktu Bapak bilang dia begitu mengenalku.

“Jadi bagaimana, Dina?”. Bapak membuyarkan lamunanku.

“Kasih waktu aku konsultasi dengan Allah dulu ya, Pak.”

“Baiklah.Jangan lama-lama ya, inget kamu sudah tua.”
“Ih..Bapak, aku masih muda tau”. Aku mencibir.

“Ibu harap jawaban kamu setuju, tidak ada alasan untuk menolak orang yang sholeh.”

Ibu menepuk penggung tanganku. Orang sholeh. Yang datang tiga tahun lalu itu juga orangnya sholeh kok, tapi kenapa ditolak. Ah sudahlah, semuanya sudah berlalu. Aku tidak mau mengambil keputusan terburu-buru, aku konsultasi dulu. Aku mau keputusanku adalah yang terbaik menurutNya, bukan menurutku.
***
Aku menerima lamaran Arman. Seminggu setelahnya, Arman dan orangtuanya datang ke rumah untuk melamar secara resmi. Dan diputuskan hari pernikahan sebulan kemudian. Hanya dalam waktu sebulan kami mempersiapkan pernikahan. Aku tidak terlalu repot mengurusi pernikahanku karena semua sudah ditangani dengan baik oleh keluargaku dan keluarganya Arman. Aku masih tetap bisa mengerjakan tugas-tugas kantor seperti biasanya.

Aku menerima lamaran Arman bukan karena aku memiliki kecenderungan padanya. Perasaan itu muncul seminggu sebelum hari pernikahanku dengannya. Aku menerimanya karena aku yakin. Aku tidak bisa melukiskan keyakinan itu. Hanya saja aku merasa aku bisa mengandalkan Arman untuk menggandengku berjalan ke jalan yang baik, itu saja. Entah bagaimana dan kapan perasaan itu muncul. Mungkin sejak kami mengobrol di rumah saat mengurusi undangan yang akan di bagi.

“Kenapa kamu yakin dan menerimaku?”, tanya Arman

“Entahlah hanya saja aku yakin saja.”

“Bukan karena dikejar target menikah lantaran usiamu sudah di duapuluhan akhir, kan?”, Arman tersenyum kepadaku.

“Bisa jadi, tapi tidak sepenuhnya dan bukan itu juga alasan utamanya.”

“Ya, aku percaya.”. Kami terdiam.

“Din, menikah itu bukan hanya tentang kesiapan ataupun kecepatan, tapi soal waktu yang tepat. Boleh jadi kita sudah siap tapi waktunya belum tepat. Atau kita belum dipertemukan dengan orang yang tepat. Aku berharap, aku adalah orang yang tepat untukmu yang datang di saat yang tepat.”

Aku mencerna baik-baik kalimatnya. Memahaminya dan mencoba meyakininya.

Arditya Arman adalah orang yang tepat dan datang disaat yang tepat untukku. Yang membuat penantianku menjadi tidak sia-sia. Yang membuatku tidak menyesal harus menunggu selama ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar