“Semua terserah kamu saja. Bapak cuma kasih pendapat. Tapi
satu hal yang perlu kamu tahu, Bapak sama seperti orang tua lainnya yang hanya
menginginkan anaknya bahagia.”
Pertanyaanku dijawab dengan cepat dan lugas oleh Bapak. Tapi
dengan penekanan pada kata “terserah”
membuat aku mengerti maksud jawaban Bapak. Aku anaknya, lebih dari dua
puluh tahun aku mengenalnya, jadi aku paham betul maksud dari perkataan dan
ekspresi yang Bapak tunjukkan. Apalagi ketika menjawab mata Bapak tidak sama
sekali memandangku. Pandangan matanya terus tertuju pada layar televisi di
hadapannya. Aku mengerti. Tapi kucoba beranikan diri untuk meminta penjelasan.
“Tapi kenapa, Pak?”
“Apa kamu yakin?”
Pertanyaanku dijawab dengan pertanyaan lagi olehnya. Membuat
aku semakin ciut.
“Kamu tidak hanya akan melewati waktu sehari, seminggu, atau
sebulan dengannya. Kamu harus betul-betul mengenalnya. Kamu harus menemaninya
bukan membiarkan dia sendiri. Menikah bukan hanya sekedar status tapi kemudian
masing-masing masih tetap bertahan mengejar apa yang dia inginkan. Apa kamu
siap meninggalkan apa yang sudah kamu rintis dan jalani selama ini?. Sesuatu
yang kamu sebut sebagai passion. Dan
entah kenapa Bapak ragu, Nak.”
Aku menunduk, membenamkan wajahku. Bapak tidak menjelaskan
keraguannya tapi seakan memojokkan aku dan mempertanyakan keyakinanku. Aku
yakin, karena aku tidak punya alasan jelas untuk menolaknya. Kalau boleh jujur,
kecenderungan itupun mulai ada. Tapi, aku tidak bisa menunjukkan keyakinanku,
bahkan untuk sekedar menjelaskannya pada Bapak. Mulutku seakan menutup rapat
dan air mataku sudah menggenang. Aku tidak mau menangis di depannya.
“Coba dipikirkan lagi. Bapak tau kamu mengerti maksudnya dan
kamu sudah sangat dewasa untuk tidak mengambil keputusan terburu-buru.”
“Ya, Pak.”
Aku beranjak meninggalkan Bapak yang masih menatap layar
televisi, tujuanku adalah dapur. Aku tuangkan air dingin ke dalam gelas dan
langsung ku habiskan dalam sekali teguk. Entah kenapa, rasa dingin air tidak
bisa melegakkan dadaku. Rasanya sakit sekali. Tanpa terasa air mataku sudah
mengalir di pipi dan buru-buru aku seka dengan telunjukku.
***
Pagi ini aku sudah mengambil keputusan. Sebisa mungkin aku
menampakkan wajah yang biasa, aku tidak mau orang rumah tau apa yang aku
rasakan. Berusaha tersenyum walaupun sebenarnya ingin sekali menangis. Aku
pernah patah hati karena seseorang saat SMA, tapi kali ini sakitnya terasa
lebih menusuk. Aku menangis tapi tidak bisa meredakkan rasa sakit dalam dadaku.
Sakitnya membuat aku terus-terusan menarik nafas panjang agar aku tidak
kekurangan oksigen yang akan menyebabkan aku tak sadarkan diri.
Dalam perjalanan menuju kantorku, aku mengirim pesan kepada
seorang temanku untuk menyapaikan apa yang sudah aku putuskan. Aku tidak
sanggup untuk menyampaikan secara langsung padanya. Sesaat setelah aku tekan
tombol send, air mataku langsung
mengalir. Berkali-kali aku seka dan aku tahan agar berhenti mengalir tapi tidak
bisa. Aku memalingkan wajahku ke luar jendela, aku tidak mau seisi angkot
melihatku menangis. Walaupun seorang gadis berseragam putih abu-abu sudah sejak
tadi menatapku heran. Rasanya dadaku sesak sekali. Aku menarik nafas
dalam-dalam. Mulutku berkali-kali melafadzkan istighfar kadang diselingi dengan kalimat “aku kuat”, mencoba
mencari pengobatan.
Pertanyaan demi pertanyaan muncul di kepalaku. Kenapa harus
begini, kenapa orang lain dimudahkan tapi aku tidak, apa yang membuat Bapak
ragu, kenapa aku sakit seperti ini, bagaimana perasaannya, kenapa ini, kenapa
itu?. Pikiran aneh itu muncul begitu saja menyita kepalaku, menghilangkan
setengah kesadaranku sehingga aku tidak merasakan angkot yang melaju kencang
dan seperti hilang kendali. aku tidak peduli, aku hanya sibuk menenangkan dan
menguatkan diri sendiri. Mencoba melupakan dan melanjutkan perjalananku.
Perjalanan dalam arti sebenarnya ataupun tidak.
***
Tiga tahun berlalu dan aku sudah sangat kuat dari
sebelumnya. Ketika satu demi satu teman-temanku yang seusia bahkan yang lebih
muda naik pelaminan sedangkan aku belum, aku biasa saja. Walaupun terkadang
terselip perasaan iri. Terlebih ketika teman sekantorku menikah dan dia
menangis sambil memelukku erat di hari pernikahannya. Dengan tulus dia
mendo’akanku dan berkelakar kalau dia menyumpahiku sesuai keinginanku, agar aku
segera menyusulnya. Candaan yang sering aku lontarkan ketika orang-orang
menanyakan tentang pernikahan. Satu kalimat dari temanku yang terus nempel di
kepalaku, “Kalau didoakan nggak terkabul, jadi disumpahin aja biar cepet
terkabul”. Entah teori dari mana tapi aku suka kalimat itu untuk dijadikan bahan
candaan.
Kegiatanku semakin padat. Apalagi sekarang aku mendapatkan
kepercayaan dari kantor untuk menangani sebuah proyek di luar kota. Aku sering
bolak-balik keluar kota untuk menangani pekerjaanku dan satu minggu ke depan
aku akan tinggal di kota tersebut.
“Bu, sabtu pagi aku jadi berangkat ke Bandung dan akan
tinggal sampai satu minggu di sana.”
“Kamu sudah bilang ke Bapak?”
“Belum Bu, nanti malam saja sekalian aku minta tolong Bapak
mengantarku ke Bandung.”
“Kamu mau berani bayar berapa, Na?” Bapak muncul mengagetkan
aku dan ibu.
“Aku bayar pakai peluk aja deh.” Aku berhambur ke pelukan
Bapak yang berdiri tak jauh dariku.
“Dina...kamu itu sudah 28 tahun lebih tapi manjanya nggak
hilang juga. Adik-adikmu saja nggak semanja itu.”
“Ibu cemburu ya?. Nih ambil Bapaknya terus peluk deh.” Aku
mendorong Bapak ke hadapan Ibu dan pergi meninggalkan keduanya.
***
Hari ini hari terakhir aku di Bandung. Pekerjaan kantor
sudah aku selesaikan semua tapi aku memutuskan untuk tidak segera pulang, aku
ingin membeli oleh-oleh untuk orangtua dan adik-adikku. Saat sedang asyik
berbelanja tiba-tiba saja ponselku bergetar, Bapak menelpon.
“Kamu jadi pulang besok?”
“Jadi, Pak. Ada apa?”
“Nggak, Bapak hanya memastikan. Besok Bapak jemput ya!.”
“Aku pulang naik travel saja, Pak. Besok pagi-pagi dari
Bandung karena besok sore aku mau ke aqiqahan anaknya Tia.”
“Baiklah. Hati-hati ya..”
“Ya, Pak. Selalu.”
Aku menyimpan ponselku ke dalam tas dan sedikit bingung. Tidak
biasanya Bapak menghubungiku dan menanyakan soal kepulanganku. Biasanya tidak,
karena aku selalu pulang tepat sesuai jadwal. Kalau pekerjaanku diperpanjang
maka aku yang akan menghubunginya. Buru-buru aku tepis pikiran buruk di
kepalaku. Mungkin Bapak hanya kangen kepadaku.
***
Malam itu aku dan adik-adikku sedang asyik menonton sebuah
acara di televisi saat Bapak memanggilku dan mengajakku duduk di teras depan. Sepertinya
ada hal penting yang akan dibicarakan. Tidak lama setelah aku duduk di hadapan
Bapak, Ibu muncul dan mengambil tempat duduk di sebelah Bapak. Bapak dan Ibu
memulai obrolan dengan basa-basi menanyakan tentang pekerjaanku dan kesanku
selama di Bandung. Ketika sudah mulai mencair, raut muka Bapak berubah menjadi
serius.
“Kamu kenal sama Arman?”. Aku kaget dengan pertanyaan yang
diajukan Bapak.
“Arditya Arman, kenal?”
“Oh...aku kenal, memang kenapa,Pak?.” Kepalaku manggut-manggut
tapi hatiku bingung.
“Kemarin Arman datang menemui Bapak dan Ibu, meminta izin
dan ridho Bapak sama Ibu untuk menikahimu”. Aku kaget sampai-sampai mulutku
terbuka.
Bagaimana mungkin Arman datang ke rumah, tau dari mana
alamat rumahku. Dan bagaimana bisa dia datang memintaku tanpa menanyakannya
dulu padaku. Kenapa dia begitu berani?. Belum selesai pertanyaan aneh itu
berputar-putar di kepalaku, Bapak mengejutkanku.
“Kemarin Arman sudah cerita panjang kali lebar sama Bapak. Tentang
dia, keluarganya, bagaimana kamu dan dia berkenalan, juga bercerita tentang
dirimu. Hari ini pun Bapak sempat bertemu dengannya untuk mengobrol.” Aku
terdiam mendengar penjelasan Bapak.
“Din...Bapak dan Ibu sudah sepakat untuk memberikan ridho
kamu menikah dengan Arman. Orang tua Arman juga sudah setuju. Kami dan Arman
tinggal menunggu keputusanmu. Kalau kamu setuju, minggu depan Arman dan orang
tuanya akan datang melamarmu.”
Aduh, aku masih kaget dengan kabar Arman datang memintaku
dan ditambah lagi kabar kalau dia dan orangtuanya segera melamar. Bagaimana ini?.
Aku bukannya tidak mengenal Arman, dia adalah teman dari teman kantorku. Aku kenal
Arman dari Lisa teman kantorku. Arman adalah teman kuliah Lisa, dan juga teman
kantor suami Lisa. Anaknya baik, Sholeh, sedikit pendiam tapi kadang bisa
humoris juga. Aku sebatas mengenalnya seperti itu. Makanya aku heran, waktu
Bapak bilang dia begitu mengenalku.
“Jadi bagaimana, Dina?”. Bapak membuyarkan lamunanku.
“Kasih waktu aku konsultasi dengan Allah dulu ya, Pak.”
“Baiklah.Jangan lama-lama ya, inget kamu sudah tua.”
“Ih..Bapak, aku masih muda tau”. Aku mencibir.
“Ibu harap jawaban kamu setuju, tidak ada alasan untuk
menolak orang yang sholeh.”
Ibu menepuk penggung tanganku. Orang sholeh. Yang datang
tiga tahun lalu itu juga orangnya sholeh kok, tapi kenapa ditolak. Ah sudahlah,
semuanya sudah berlalu. Aku tidak mau mengambil keputusan terburu-buru, aku
konsultasi dulu. Aku mau keputusanku adalah yang terbaik menurutNya, bukan
menurutku.
***
Aku menerima lamaran Arman. Seminggu setelahnya, Arman dan
orangtuanya datang ke rumah untuk melamar secara resmi. Dan diputuskan hari
pernikahan sebulan kemudian. Hanya dalam waktu sebulan kami mempersiapkan
pernikahan. Aku tidak terlalu repot mengurusi pernikahanku karena semua sudah
ditangani dengan baik oleh keluargaku dan keluarganya Arman. Aku masih tetap
bisa mengerjakan tugas-tugas kantor seperti biasanya.
Aku menerima lamaran Arman bukan karena aku memiliki
kecenderungan padanya. Perasaan itu muncul seminggu sebelum hari pernikahanku
dengannya. Aku menerimanya karena aku yakin. Aku tidak bisa melukiskan
keyakinan itu. Hanya saja aku merasa aku bisa mengandalkan Arman untuk
menggandengku berjalan ke jalan yang baik, itu saja. Entah bagaimana dan kapan perasaan
itu muncul. Mungkin sejak kami mengobrol di rumah saat mengurusi undangan yang
akan di bagi.
“Kenapa kamu yakin dan menerimaku?”, tanya Arman
“Entahlah hanya saja aku yakin saja.”
“Bukan karena dikejar target menikah lantaran usiamu sudah di
duapuluhan akhir, kan?”, Arman tersenyum kepadaku.
“Bisa jadi, tapi tidak sepenuhnya dan bukan itu juga alasan
utamanya.”
“Ya, aku percaya.”. Kami terdiam.
“Din, menikah itu bukan hanya tentang kesiapan ataupun
kecepatan, tapi soal waktu yang tepat. Boleh jadi kita sudah siap tapi waktunya
belum tepat. Atau kita belum dipertemukan dengan orang yang tepat. Aku
berharap, aku adalah orang yang tepat untukmu yang datang di saat yang tepat.”
Aku mencerna baik-baik kalimatnya. Memahaminya dan mencoba
meyakininya.
Arditya Arman adalah orang yang tepat dan datang disaat yang
tepat untukku. Yang membuat penantianku menjadi tidak sia-sia. Yang membuatku
tidak menyesal harus menunggu selama ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar