Selasa, 02 Desember 2014

Kangen Abah

Kangen dengan abah...

Kangen dengar suara ngajinya, yang bisa jadi alarm sekaligus penanda bagiku.

Dulu, sepagi ini suara lantunan surat Yasiin dan dzikir sudah terdengar. Karena memang abah setiap pagi selalu membacanya keras-keras. Dan itu seperti alarm bagiku.

Dulu ketika jadwal tidur berantakan karena tugas dan akhirnya berpengaruh dengan jam bangun tidur, suara abah yang menjadi alarm. Jadi, kalau suara beliau sudah terdengar itu artinya sudah ba'da shubuh. Kalau yang terdengar bukan lagi bacaan surat Yasiin tapi bacaan dzikir pagi, itu artinya sudah siang. Bahkan aku bisa menebak waktu tanpa melihat jam. Aku hapal betul jam berapa beliau mulai dan selesai. Karena beliau melantunkannya dengan irama yang sama setiap hari.

Dan setelah abah pergi, tidak ada lagi suara orang mengaji dengan keras tiap pagi. Seperti yang pernah abah bilang sebelumnya. Tidak ada lagi alarm dan penanda waktu kalau aku bangun lewat subuh.

Ya Allah, tempatkan abah ditempat yang layak di sisiMu. Terima semua amal ibadahnya. Ampuni segala dosanya. Kumpulkan abah bersama orang-orang sholeh. Dan izinkan aku dan abah serta keluargaku yang lain berkumpul lagi di surgaMu...aamiin

Miss you grandpa....

Selasa, 25 November 2014

Spesial untuk Guruku

25 November
Hari ini diperingati sebagai hari guru nasional.
Teringat sosok-sosok guru mulai SD sampai dosen saat kuliah.

Guru pertama setelah ibuku adalah ibu Fauzah, guru kelas satu waktu aku SD. Sosok sabar yang menenangkan aku yang sering menangis karena belum selesai menulis, sedangkan teman-teman yang lain sudah bersiap untuk pulang. Sabar menuntun satu demi satu muridnya mengenal huruf dan angka, belajar menggabungkan huruf menjadi kata, menyusun kata menjadi kalimat, menghitung dari satuan hingga ribuan.

Ada pak Endang, guru kelas 6 yang mengajarkanku hal-hal yang berhubungan dengan kemandirian. Aku sering sekali mengikuti lomba ditemani beliau. Lomba murid teladan, lomba paduan suara, beberapa kemah dan lainnya. Aku senang saat beliau bernyanyi, kadang aku pun berduet dengan beliau.

Guru-guru lain saat SD tak kalah berkesan dan hampir semuanya masih hidup, Ibu Erma, ibu Eka, ibu Juhenah, ibu Lina, pak Haeruji, ibu Mutmainah, dan ada satu yang sudah meninggal, ibu Wartinah (semoga Allah menerima segala amal ibadah beliau..aamiin)

SMP lebih seru, kebanyakan guruku sering cerita di depan kelas di sela-sela mengajar. Dari setiap cerita selalu ada pelajaran. Salah satunya anjuran tidak tidur siang saat haid dari Bu Lilis, guru bahasa sunda.
Karakter guru-guru SMP lebih beragam, karena memang jumlahnya pun banyak.
Bu Mega, guru matematika yang hobi mengecek PR siswa, bukan dari betul atau salah terlebih dahulu tapi apakah tintanya masih basah atau sudah kering. Kalau menurut beliau masih basah maka PR tidak akan dikorekai, karena itu artinya dikerjakan di sekolah, begitu menurut beliau.
Guru bahasa Indonesia aku juga unik, Bu Nur yang ceplas-ceplos dan Pak Leman yang kalau berkomunikasi dengan beliau harus menggunakan bahasa baku.
Ah kalau aku sebutkan satu persatu bisa jadi puanjang ceritanya.

Lanjut ke SMA, kalau ditanya siapa guru favorit pas SMA jawabannya adalah pak Ade, guru fisika yang membuat aku tidak pernah mengeluh. Bersama beliau belajar fisika jadi sangat mudah. Orangnya ramah dan sabar, begitupun istrinya. Selain di sekolah aku sempat jadi murid di tempat bimbel beliau. Perlakuan beliau dan istrinya pada kami muridnya, seperti pada anak sendiri.

Bu Diah, guru matematika yang punya penampilan vintage tapi bagiku dan teman-teman, penampilan beliau selalu keren setiap hari. Cara berpakaiannya seperti orang-orang Jepang.
Ditambah dengan suami beliau Pak Zaenudin Zay, kepala sekolah tercinta. Mereka pasangan serasi dan romantis. (yang bagian romantis hanya ditunjukkan pada saat di luar sekolah).

Ada pak Nurdin yang (katanya) ganteng, bu Tuti yang enak diajak ngobrol, pak Gun (walikelas 3ipa 2) yang memberi aku pengalaman pertama kemah di bawah air terjun di Curug Cigumawang, bu Nurima yang selalu membuat seisi kelas tegang (dan aku pernah kena hukum beliau, aku ceritakan nanti), pak Afandi yang kocak tapi kadang ga jelas, pak Almasih yang setiap pertemuan selalu membahas soal Aceh dan GAM, bu Amel guru paling muda, cantik, dan single saat itu sehingga secara otomatis menjadi idola murid laki-laki, serta guru-guru lainnya yang punya kekhasan tersendiri.

Berikutnya saat kuliah. Dosen-dosen di kampus tak kalah seru dengan guru-guruku sebelumnya.
Bukan sekedar ilmu teknik kimia yang mereka bagi, tapi juga pelajaran-pelajaran tentang bagaimana lebih dewasa dan bijak menyikapi hidup. Ya bukan sekedar ilmu tapi juga memberi pekerjaan buatku.
Pak Endang yang mengantarkan aku mengajar di SMA Al-munawwaroh. Awalnya beliau bilang hanya menggantikan beliau sementara tapi ternyata seterusnya, sampai sekarang.
Pak Heri yang menawarkan aku mengajar di sebuah tempat bimbel.

Ada dosen pembimbing Rancangan Pabrik ku, bu Dhena yang sabar menghadapi aku yang sering menyerah karena kesulitan mencari referensi dan kesulitan menyelesaikan Rancangan Pabrik. Pak Rudi, ketua jurusan sekaligus dosen pembimbing penilitian yang kadang membuat aku kesal karena kesibukan beliau sehingga sulit sekali bertemu beliau untuk bimbingan. Yang detail soal kerangka tulisan, bahkan tanda baca, membuat aku belajar dalam hal penulisan.

Serta dosen-dosen lain, pak Rusdi, pak Jay, bu Indar, bu Elfi, bu Eka, dan lainnya. Mereka memberi kesan berbeda-beda.

Terakhir para murrobiku, teh Wiwit, teh Lina, teh Nia, bu Fitri, mba Farida, teh Diana, bu Maryam, dan bu Dwi. Dari mereka aku mendapatkan ilmu yang tak aku dapatkan di pendidikan formal.

Dan untuk semua guruku, terima kasihku tak akan membalas apa yang sudah dan akan terus diberikan.
Aku berharap bisa berbagi ilmu kepada siapapun sebaik kalian membaginya padaku.
Kukirimkan sebait do'a tulus
Semoga Allah membalas semua kebaikan yang telah diberikan, menjadikannya amal jariyah yang memperberat timbangan amal baik, mengampuni segala dosa dan kesalahan yang secara sengaja atau tidak telah dan akan dilakukan. Dan menaikkan derajat sebagai orang-orang berilmu.
Aamiin......

Hujan Sore Ini

Seirama derai hujan yang berlomba turun menyentuh bumi
Begitu pula do'a-do'a terbaik mengalun
Berburu dengan tetesan air hujan
Mengetuk pintu langit
Menggetarkan seperti gelegar guntur yang bersahutan.

Di tengah guyuran hujan
Aku tumpahkan harapan kepada Sang Maha Pengabul
Berharap semua kebaikan dan keberkahan di berikan padaku
Seperti Dia menumpahkan hujan dari langit ke bumi.

Di tengah gemuruh petir
Pengharapan itu bergemuruh seirama dengan amin yang diucapkan di setiap akhir kalimat harap.

Aku pandangi tiap tetes yang jatuh
Aku tatap langit yang masih menggelap
Aku rasakan hembusan angin yang membelai kulit tubuh
Aku hirup aroma tanah
Aku nikmati sore ini
Aku syukuri anugerahnya
Dan berharap seseorang yang menjadi jodohku melakukan hal yang sama denganku

Menikmati hujan dan mensyukurinya....

Minggu, 23 November 2014

Sajak Memilik-mu (Darwis Tere Liye)


Saya mencintai sunset,
menatap kaki langit, ombak berdebum
Tapi saya tidak akan pernah
membawa pulang matahari ke rumah,
kalaupun itu bisa dilakukan, tetap
tidak akan saya lakukan

Saya menyukai bulan,
entah itu sabit, purnama, tergantung di langit sana
Tapi saya tidak akan
memasukkannya dalam ransel,
kalaupun itu mudah dilakukan, tetap tidak akan saya lakukan

Saya menyayangi serumpun mawar
berbunga warna-warni, mekar
semerbak
Tapi saya tidak akan memotongnya,
meletakkannya di kamar
tentu bisa dilakukan, apa susahnya,
namun tidak akan pernah saya
lakukan

Saya mengasihi kunang-kunang
terbang mendesing, kerlap-kerlip, di atas rerumputan gelap
Tapi saya tidak akan menangkapnya,
dibotolkan, menjadi penghias di meja makan
tentu masuk akal dilakukan, pakai
perangkap, namun tidak akan pernah saya lakukan

Ada banyak sekali jenis cinta di dunia ini
Yang jika kita cinta, bukan lantas
harus memiliki

Ada banyak sekali jenis suka,kasih dan sayang di dunia ini
Yang jika memang demikian, tidak
harus dibawa pulang

Egois sekali, Kawan, jika tetap kau lakukan.

Lihatlah, tiada lagi sunset tanpa
matahari
Tiada lagi indah langit tanpa purnama
Juga taman tanpa mawar merekah
Ataupun temaram malam tanpa
kunang-kunang

Ada banyak sekali jenis cinta di dunia ini
Yang jika sungguh cinta, kita akan
membiarkannya
Seperti apa adanya
Hanya menyimpan perasaan itu dalam hati

Selalu begitu, hingga akhir nanti.

By:Darwis Tere Liye

Tidak Untuk Dibandingkan

"Aku waktu umur segitu sudah menikah, kok kamu?"

"Saya waktu umur segitu sudah punya anak dua, kok kamu?"

"Ibu waktu seumur kamu sudah punya anak yang sudah sekolah, kok kamu?"

"Teman kamu anaknya sudah mau tiga, kok kamu?"

Bosan dengan kalimat-kalimat di atas.

Tidak tahukah mereka, aku pun ingin keadaanku sama seperti mereka?

Setiap orang punya jalan ceritanya masing-masing dan tidak untuk dibandingkan.

Jumat, 31 Oktober 2014

Biru

Biru penuh harap berubah menjadi sendu.
Warnanya memudar seiring dengan waktu dan semesta yang enggan mengabulkan segala harap.

Birunya semakin berwajah sendu, bahkan hingga menangis tergugu.
Mendapati tiap do'a yang mengalun merdu senada dengan amin yang terucap di akhirnya di dalam sujud panjang, seakan masih jauh dari pengabulan.

Biru penuh harap kali ini seakan hendak berubah menjadi kelabu.
Terpapar panas kenyataan. Tertimpa hujan penolakan. Membuat warnanya semakin memudar. Luntur.

Biru penuh harap terus menjaga warnanya. Meski sulit. Menghadirkan lagi satu harapan. Kelak akan kembali biru seperti semula.
Penuh harap, penuh semangat

Rabu, 29 Oktober 2014

My Blog My Friend

Hidup itu naik turun, ada sedih ada senang. Hidup punya banyak warna. Biru penuh harap, merah dengan amarah, hitam kelam, abu-abu dengan ragunya dan merah jambu memburu.

Begitupun dengan hidupku. Tak selamanya indah, tak selamanya resah. Dan sebagai manusia biasa aku pun perlu berbagi. Menebar kebahagiaan hingga orang lain pun merasa bahagia, mengurai beban yang dirasa bersama orang terpercaya. Lewat sebuah cerita.

Tapi aku bukan orang yang bisa dengan mudahnya dan begitu saja berbagi cerita kepada orang lain. Terutama untuk beberapa urusan yang aku rasa sangat pribadi. Sampai saat ini dari sekian banyak teman, aku hanya percaya satu orang. Dengannya aku bisa berbagi apapun.

Meski begitu, kadang aku merasa sungkan untuk berbagi cerita dengannya. Aku takut, pada saat aku bercerita tentang sesuatu dia pun sedang dalam kondisi tidak lebih baik dibanding diriku. Aku takut menambah beban orang. Terlalu percaya diri memang, berpikir bahwa orang tersebut akan memikirkan tentangku. Itulah yang kulakukan jika seseorang berbagi cerita denganku.

Untuk mengatasinya, aku menuliskan apapun yang ingin aku bagikan dengan orang lain di atas sebuah kertas. Semua, tanpa dikurangi. Setelahnya, aku membaca ulang tulisan itu kemudian aku robek atau aku remas dan berakhir di tempat sampah. Selalu begitu ketika aku tak sanggup untuk membagi kisahku dengan satu temanku itu.

Sampai tiga tahun lalu, aku memberanikan diri membuat blog ini. Aku ingin tetap bisa membaca apa yang aku tuliskan, agar aku tetap bisa belajar dari kisahku sendiri. Blog ini yang menggantikan kertas-kertas itu. Dengan perbedaan gaya penulisan. Aku tidak bisa seterbuka saat aku menuliskan di kertas. Kadang aku menggunakan kiasan, memilih kata yang pas yang mewakili kisahku seakan memberikan tirai, karena blog akan dibaca oleh siapapun yang mengunjunginya. Dan aku tetap ingin memiliki rahasia. Beberapa tulisanku pun terinspirasi oleh beberapa kisah orang yang kadang tak aku mintai persetujuannya untuk menuliskan kisah mereka. Jadi cukup aku yang mengerti apa yang sebenarnya aku tulis. Biarkan orang yang membaca menginterpretasikan sesuai dengan keinginannya. Aku tak peduli.

Aku ingin terus menulis. Mencatat penggalan perjalanan hidupku. Muali dari hal-hal kecil yang biasa, yang remeh temeh, yang membuat trauma, sampai yang luar biasa bagiku.

Aku ingin berbagi tanpa mengganggu orang lain karena harus mendengar ocehanku yang kadang menurut orang lain tak penting.

Aku juga ingin menuliskan kisahku sebagai terapi untuk hal-hal atau kondisi di luar keinginanku.

Aku ingin terus menulis, sampai kisahku berakhir.

Senin, 27 Oktober 2014

Keistiqomahan

Saat aku menuliskan ini, perasaanku masih campur aduk. Merinding mengingatnya dan takut akan lemahnya diri.

Aku, dia, mereka yang menjadi kami adalah sekumpulan manusia biasa yang teramat sangat banyak kekurangan seumumnya manusia. Sangatlah wajar jika kejadian-kejadian yang menimpa orang umum pun menimpa kami.

Keistiqomahan yang dijaga kadang goyah oleh tuntutan-tuntutan yang ingin segera dipenuhi. Ekonomi, waktu dengan keluarga, tugas-tugas kantor yang seakan berebut meminta dipenuhi.

Maka, ketika kondisi diri terseret semakin jauh dari kata istiqomah dalam kebaikan. Futur merasuki diri. Hal-hal yang haram hukumnya dilakukan dengan ringannya terjalani begitu saja.

Seperti cinta, sangat mudah untuk jatuh cinta tapi yang susah adalah menjaga cinta itu agar tidak berkurang apalagi habis.
Ketika cinta kepadaNya sudah dimiliki, penjagaan yang harus diusahakan. Agar cinta itu tetap tumbuh, bertambah dari waktu ke waktu sehingga balasan cintaNya dapat dirasakan.

Maka suatu keharusan untuk terus menengadahkan tangan, memohon penuh harap diantara sujud-sujud panjang untuk satu kata bernama istiqomah. Memohon agar kelak ketika sampai waktunya, dikembalikan dalam keadaan terbaik khusnul khotimah.

Minggu, 26 Oktober 2014

Aku Sedang Menunggu, Bukan Menghitung Waktu

Aku sedang menunggu, bukan menghitung waktu
Tak peduli berapa lama
Karena bilangannya sekarang seakan tak penting.

Yang aku tahu, aku sedang menunggu
Tanpa peduli kapan kau akan menyadari
Bahwa itu adalah kamu.

Aku sedang menunggu
Dan akan terus begitu
Sampai kau tersadar dan menghentikan itu
Membuatku bergerak bersamamu
Membuatku hanya menunggu pada bilangan waktu yang sudah menentu.

Aku sedang menunggu
Meski aku tahu tidak semua penantian berakhir indah
Aku belajar tentang ketulusan
Aku melakukannya karena aku suka
Tak peduli apakah berakhir indah atau tidak
Berarti atau sia-sia
Sungguh aku tak peduli

Jumat, 17 Oktober 2014

Teruntuk Putri Cantik Kami

Kami mengharapkan kebahagianmu
Putri kecil kami yang cantik, yang kini semakin dewasa
Salahkah jika kami hanya berharap seperti itu?

Kami besarkan kamu dengan segala daya upaya kami, dengan segala keterbatasan yang kami punya.
Sedih karena tidak bisa memberi semua yang kamu butuhkan, tidak bisa memberi yang terbaik untuk putri cantik kami, tapi kami bahagia ketika kamu tidak banyak menuntut. Ketika kamu tetap bisa tertawa lepas, bermain, berinteraksi dengan sekeliling, dan berbagi di tengah keterbatasan.
Karena kami memberimu berjuta-juta cinta dan kasih sayang melebihi jumlah materi yang dapat kami beri.

Kini ketika kamu bisa mulai berdiri dengan kakimu sendiri, meski tertatih, saat itu pun pasti datang.
Saat dimana seseorang meminta kami memberikan amanah yang selama ini kami emban, amanah untuk menjagamu, bertanggung jawab penuh atasmu. Maka kami hanya mengharap kebahagiaanmu.

Tidak berlebihan, tidak muluk-muluk, kami hanya ingin ketika masa saat kami melepasmu, hati ini merasa tenang.
Tenang karena kamu berada bersama orang yang bertanggung jawab yang menjadi pilihanmu.
Kami ingin kamu dan keluargamu bahagia lebih dari kebahagiaan yang kamu rasakan bersama kami.

Jadi putriku, cobalah untuk mengerti dan pahami sedikit saja keinginan dan harapan kami ini.
Karena kami sama seperti orang tua lainnya, melihat kebahagiaan anaknya dan berkumpup kembali di surga menjadi satu keluarga

Rabu, 15 Oktober 2014

Kelu

Mudah untuk berbagi cerita ringan hingga berat kepada orang terdekat.
Mudah untuk mengeluh, berbahagia, dan lainnya.

Tapi tidak untuk yang ini

Susahnya minta ampun
Mulut terasa kelu untuk memulai

Senin, 13 Oktober 2014

Ya Allah...yaa karim..yaa rahman..ya rahim...
Yang Maha segalanya
Yang memiliki hidup
Yang mengetahui segalanya
Yang memberi petunjuk
Yang kebaikan ada di tanganMu

Aku mohon kepadaMu
Aku membutuhkan semua itu
Aku mohon keridhoanMu

Aku berlindung kepadaMu dari ketergesa-gesaan
Aku berlindung kepadaMu dari godaan setan
Aku berlindung kepadaMu dari resah dan gundah

Aamiin..yaa rabbalalamin

Sabtu, 11 Oktober 2014

Digerakkan Takdir

Hei...
Aku sudah pernah bilang kalau aku berhenti mencari, aku memilih menunggu.

Tapi tidak juga selalu menunggu dirimu yang tak pasti.
Dirimu yang hanya harapan hampa bagiku.
Dirimu yang seolah semakin jauh dari nyata.

Aku menunggu sesuatu yang sederhana tapi nyata.
Bukan yang sempurna tapi tak nyata.

Aku akan bergerak, dari takdir satu ke takdir lainnya.
Mengikuti kemanapun aku ditempatkan.
Dan aku masih menunggu sesuatu yang pasti, mungkin bukan dirimu

Jumat, 10 Oktober 2014

Curhat Jatuh Cinta

Sebuah sms masuk saat aku berada di ruang tunggu sebuah klinik, mengantar adik yang berobat.

"Teh, aku lagi suka sama seseorang nih...."

Aku cuma bisa senyum-senyum mendapati sms itu, bingung mau menanggapi seperti apa.

Sms itu dari adik binaanku yang sekarang duduk di kelas XII. Seorang mantan ketua keputrian yang dulu malu-malu, tak pernah cerita atau membahas teman lelaki, sekarang mengirimiku kabar kalau dia sedang jatuh hati kepada seseorang dari sekolah lain yang beberapa kali dia temui di suatu kegiatan rohis se kotaku. Mungkin ini seperti cinta lokasi atau cinlok.

Aku tidak bisa menyalahkan apa yang dia rasa, karena memang itu naluriah, tidak salah. Aku cuma bisa mengingatkan bagaimana caranya mengatur rasa yang datang tiba-tiba itu. Bagaimana caranya agar anugerah itu bukan menjadi petaka. Agar tidak terpengaruh bisikan-bisikan setan yang kadang membuat yang salah menjadi serba indah.

Bersyukur karena ternyata dia tahu dan mengerti. Hanya perlu waktu untuk dia belajar memendam lebih rapih rasanya. Karena kalau aku lihat dibeberapa status facebooknya, menunjukkan sekali apa yang dia rasa. Dia pun jujur mengakui kalau sebenarnya dia juga ingin mengetahui apa yang dirasakan orang yang dia sukai.

Aku cuma bisa memintanya untuk banyak-banyak beristighfar, memendam rasa, dan lebih banyak bercerita dengan Allah.
Itu berdasar pengalaman pribadi.
Ya, aku pun pernah merasakannya, mengalaminya, dan bersyukur bisa mengaturnya.

Kamis, 09 Oktober 2014

Budaya Nyontek

Untuk sebagian besar siswa/mahasiswa/pelajar menganggap mencontek adalah hal yang biasa, karena sudah biasa dilakukan dan masif. Mereka tidak berfikir bahwa nyontek itu salah, apalagi sampai berfikir dosa. Guru/pengawas yang melarang nyontek dengan ketat disebut killer dan diberikan julukan-julukan lain yang kurang pantas.

Nyontek itu salah karena dia membohongi diri sendiri dan orang lain. Sebenarnya tidak bisa mengerjakan soal yang diberikan tapi karena nyontek maka nilai sempurna pun bisa di dapat. Dan kalau berbohong berarti dosa kan?

Sayangnya masih banyak yang tidak berfikir demikian. Mereka yang nyontek artinya menghalalkan segala cara demi mendapatkan nilai terbaik, tidak perduli salah atau benar. Yang penting mendapatkan nilai baik dengan usaha yang minimal, kalau perlu tanpa usaha selain nyontek.

Yang mengkhawatirkan adalah, ketika kebiasaan untuk menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan atau menggunakan cara-cara instan agar tujuannya tercapai menjadi kebiasaan yang melekat. Kelak mereka tidak memperdulikan lagi norma, aturan, hukum, dan hak-hak orang lain dalam mencapai keinginan dan tujuan yang ingin dicapai. Jadi, jika tidak diubah dari sekarang bukan tidak mungkin apa yang dikhawatirkan akan terjadi.

Beberapa upaya dilakukan sekolah demi menekan budaya nyontek menyebar luas. Mulai dari pengawasan yang ketat oleh pengawas, menggunakan cctv di ruangan, sampai menggunakan cara seperti di gambar yang aku sisipkan pada tulisan ini. Semua demi menciptakan dan membiasakan sikap jujur mulai dari hal kecil.

Mereka adalah orang-orang yang akan memegang peranan dalam kehidupan masyarakat kelak. Menggantikan posisi-posisi yang sekarang ditempati orang-orang tua. Mereka harus mempunyai sikap jujur, bekerja keras, dan tidak menghalalkan segala cara untuk mencapai sesuatu. Sehingga tatanan dalam masyarakat berjalan dengan baik sesuai perintah agama, norma, aturan dan hukum yang berlaku.

Selasa, 07 Oktober 2014

Memandang Wajah Ibu

Ibuku pernah bilang, salah satu momen luar biasa indah bagi seorang ibu adalah ketika menatap anaknya pada saat tidur. Lelapnya seakan menggantikah lelah sepanjang hari. Dan ketika memandang wajah anaknya, baru menyadari bahwa waktu telah berjalan begitu cepat sehingga anak pun tak terasa tumbuh semakin besar.

Kali ini aku sebagai anak yang berada di posisi beliau. Memandang wajah ibuku ketika tidur. Berbagai macam rasa bercampur di dada.

Rasa takjub karena wanita kuat ini yang mengandung, melahirkan, dan merawatku sampai sekarang.
Rasa syukur karena mempunyai ibu dengan limpahan kasih sayang, cinta dan perhatian yang meluap.
Rasa sedih karena sampai setua ini aku belum bisa membahagiakannya, membanggakannya, membalas sedikit saja jasanya.

Aku ingin membahagiakannya lebih dari sekedar saat dia menatapku waktu tidur, membahagiakannya lebih dari saat matanya berkaca-kaca ketika namaku disebut saat wisuda, membahagiakannya lebih dari sekedar melihatku tumbuh menjadi anak yang baik dimatanya, membahagiakannya lebih dari apapun.

Kupandangi keriput yang tampak mulai jelas dan banyak, dengan do'a dan harap semoga aku bisa membersamainya lebih lama, menghadiahkannya kebahagiaan yang lebih dan lebih.

Amih...semoga Allah mengampuni dosamu, memberi kesehatan, memberi kekuatan untuk terus menyaksikan anak-anakmu tumbuh, sampai kami anak-anakmu merasakan bagaimana luar biasanya membangun keluarga..aamiin...allahumma aamiin...

Senin, 06 Oktober 2014

Azki

"Bu guru, anaknya mana mana?"
Masya Allah, tua banget kah mukaku sampai anak itu mengajukan pertanyaan tadi.
"Bu guru belum punya anak, sayang" aku tersenyum kecut.
"Oh, belum melahirkan ya?"
"Belum."
"Nanti kalau sudah melahirkan, nama anaknya siapa?"
"Ehm...siapa ya? Kalau Azki boleh kasih nama, mau dikasih nama apa?"
"Safira aja, bagus tuh bu."
"Ih..Safira sih udah banyak yang punya"
"Nggak papa, bagus kok" jawabnya polos sambil menggerak-gerakkan kakinya di bawah kursi.
Aku cuma bisa tersenyum sambil mencubit kecil pipinya yang tirus.

Azki, anak dari temanku di sekolah yang dominan otak kanannya. Anak luar biasa, karena umur kurang dari 4 tahun sudah bisa menyebutkan seluruh anggota tubuh dalam bahasa indonesia, bahasa inggris dan bahasa arab. Hanya saja dia lemah dalam hal fokus. Anak luar biasa yang membutuhkan perhatian luar biasa.

Biasanya kalau dibawa ke sekolah dan ngobrol denganku, aku yang mulai bertanya. Hari ini berbeda, ketika aku duduk di sampingnya secara spontan dia bertanya hal yang mengejutkan, dan terjadilah percakapan seperti di atas.

Awalnya sempat bingung, kok dia bertanya anakku mana, tapi setelah lama mengakhiri percakapan di atas dan kami mulai membicarakan hal lain, akhirnya aku bisa tahu kenapa dia bertanya seperti itu. Jadi seingat dia, aku punya anak karena aku pernah membawa keponakanku ke sekolah dan dia suka melihat galeri foto di ponselku yang memang banyak foto keponakanku. Dia menganggap keponakanku adalah anakku.

Ah, Azki emang unik. Aku pernah dibuat kelelahan menemani dia yang naik turun tangga di sekolah. Pernah mendekapnya erat dan menggandengnya keras sambil berbicara agak tegas ketika menemaninya berbelanja di minimarket karena dia mau mengambil semua barang yang dia mau. Pernah tersenyum bahkan tertawa ketika dia menyanyi atau bertanya hal-hal diluar dugaan seperti hari ini.
Azki sekarang sudah 7 tahun, semoga tetap membanggakan dan tetap luar biasa

Kurang Disiplin

Tidak aneh dan tidak kaget mendapati kondisi sepi alias belum ada yang datang, padahal jam masuk sudah lewat banyak.

Seperti tidak ada komitmen dan rasa malu datang terlambat, bahkan untuk yang menyandang jabatan abdi negara sekalipun. Mereka tanpa rasa bersalah dan santai berjalan pelan masuk ruangan, menanyakan hal basa basi yang sudah sangat basi.

Mereka seakan menganggap biasa "menelantarkan" waktu dan melalaikan tugas begitu saja, terlambat bahkan tidak masuk sudah sangat biasa dilakukan tanpa beban. Tanpa berpikir bahwa setiap kewajibannya adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawabannya di dunia bahkan di akhirat kelak.

Entahlah, jengah rasanya menghadapi kondisi seperti ini. Bosan memberitahu dan mengingatkan mereka. Karena pada dasarnya mereka menganggap apa yang mereka lakukan bukan kesalahan, apalagi bukan satu dua orang tapi hampir sebagian besar melakukannya.

Apalagi sebagai pendidik yang heboh bahkan marah ketika siswanya tidak disiplin, tapi yang heboh dan yang marah malah biasa melakukan indisipliner. Malu rasanya berada di dekat mereka tapi tak bisa merubah keadaan.

Minggu, 05 Oktober 2014

Jujur

Mencoba jujur pada diri sendiri.
Jujur dengan apa yang dirasa, sehingga bisa tersenyum tulus tanpa kepura-puraan.

Jujur dengan keadaan yang membuat tidak nyaman, sehingga tidak berusaha bertahan dalam kehimpitan yang akan menjadi kesia-siaan.

Jujur agar bisa tersenyum lebih sering, menangis tanpa malu, melangkah bergerak dengan ringan, menjadi lebih produktif, dan lebih senang, lebih sehat dari sebelumnya.

Sabtu, 04 Oktober 2014

Permohonan

Allah....
Aku tidak tau apa yang akan terjadi
Aku tidak tau akan kau masukkan aku ke dalam situasi seperti apa
Aku tidak tau akan kau tuntun aku kemana.

Allah....
Aku hanya mohonkan yang terbaik untukku
Aku mohon tuntun aku selalu di jalanMu
Aku mohon keridhoanMu
Aku mohon mudahkan segala urusanku
Aku mohon jadikan aku pemilik hati yang selalu merinduMu.
Aamiin...

Karena Kebutuhan

Karena kebutuhan yang meringankan langkahku dalam agenda rutin.

Kebutuhan akan melihat senyum-senyum tulus dan mendengar tawa-tawa renyah ketika obrolan mengalir begitu saja. Yang merupakan kebahagian kecil yang tak ingin aku lewati.

Kebutuhan menatap wajah-wajah penuh harap keridhoanNya, yang tanpa sadar melecut semangat untuk terus juga mengharap keridhoanNya.

Kebutuhan berkumpul dengan orang-orang baik di tengah lingkunganku yang semakin beragam. Sehingga aku tetap teringatkan untuk terus di jalur yang benar.

Kebutuhan mengkaji ilmu meski sedikit tapi menjadi bekal untukku yang fakir ilmu. Aku butuh perbekalan yang mencukupi, yang akan menemani perjalananku.

Juga kebutuhan-kebutuhan lain yang meminta untuk dipenuhi.

Bertemu mereka seperti mendapatkan sulutan semangat, mendapatkan pelajaran-pelajaran secara langsung maupun tak langsung, merasa bersyukur atas semua nikmat yang melimpahiku, merasa berarti karena perhatian.

Semoga terus bersemangat tanpa surut apalagi mundur jauh.

Rabu, 01 Oktober 2014

Sebuah Skenario

Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua telah tertulis dalam sebuah skenario panjang dan indah.

Sebuah skenario yang menjadikan aku terlahir di tengah keluarga saat ini, memiliki keluarga yang membuatku tak henti untuk bersyukur.

Sebuah skenario yang mempertemukanku dengan orang-orang baik, orang-orang luar biasa yang menjadikan aku terus belajar dan mengambil pelajaran.

Sebuah skenario yang menempatkan aku di suatu tempat yang tak pernah aku kira.

Sebuah skenario yang panjang, yang berusaha aku lakoni dengan baik. Ketika semua terasa menyesakkan, terasa diputar balikkan, menyulitkan, menerbitkan keputusasaan, aku percaya ini masih menjadi bagian cerita indahku. Ketika nikmat bertubi-tubi datang kepadaku, kebahagiaan menyapaku tanpa jeda yang membuatku tak punya alasan untuk tidak tersenyum, itupun bagian cerita indahku. Maka aku jalani bagianku dengan segala kemampuanku.

Aku lakoni skenarioku dengan baik, dan berharap mempunyai ujung cerita yang baik.

Selasa, 05 Agustus 2014

Angkot (part 9)

Selasa, 05 Agustus 2014

Bertemu teman lama itu menyenangkan. Seperti hari ini, aku bertemu dengan teman kuliahku, salah satu partner praktikum fisika dasar yang gokil abis. Anaknya malas kalau harus buat laporan setelah praktikum, itu yang membuat aku sering uring-uringan karena satu jam sebelum praktikum laporan belum siap dan artinya terancam tidak bisa ikut praktikum, karena salah satu syarat mengikuti praktikum adalah mengumpulkan laporan. Dalam hal laporan memang menjengkelkan tapi saat pelaksanaan praktikum dan di luar urusan laporan, temanku ini menyenangkan. Bagaimana tidak, kami pernah sekali waktu hanya beberapa menit menyelesaikan tes pendahuluan karena asisten laboratorium adalah karibnya. Selama praktikum, dia akan mengeluarkan celetukan-celetukan yang selalu membuat tertawa. Dan dia masih sama, bahasanya ringan seperti biasa, menyenangkan dan tidak memojokkan, menggurui ataupun menghakimi.

Obrolan ringan pun terjadi. Bermula dari dia yang bercerita tentang pekerjaannya, yang ternyata dia baru saja pindah ke tempat kerjanya yang sekarang, karena tempat yang dulu manajemen perusahaannya kurang profesional. Berlanjut ke cerita beberapa teman yang juga aku kenal. Semua mengalir begitu ringan, sampai pertanyaan itu pun meluncur dengan ringan dan entah kenapa aku jawab dengan ringan juga.

"Loe udah married?"

"Belum"

Dia diam dan cuma tersenyum sambil menampilkan mimik wajah yang aku paham betul artinya.

"Kenapa loe senyum-senyum?"

"Ah, loe pilih-pilih sih, yang lain udah pada married loh"

"Gak juga kok, nanti juga ada masanya giliranku"

"Oke, ada masanya" jawab dia sambil tersenyum

Jujur no hurt feelling saat dia tanya seperti itu, tidak seperti saat yang lain yang bertanya. Mungkin karena dia bertanya tidak langsung, dengan ringan dan setelah merespon jawabanku dia langsung mengalihkan pembicaraan ke topik lain.

Sama seperti yang lainnya, dia pun menganggap aku pilih-pilih.
Bukankah menikah harus dengan orang yang baik, jadi harus memilihkan?
Tidak asal menerima siapapun yang mendekat apalagi cuma sekedar bilang cinta.
Tidak cuma sekedar menanggalkan status single lantas menerima siapapun. Apalagi yang dari segi agama belum masuk kriteria baik.
Dan sekarang aku menunggu masa itu tiba

Selasa, 03 Juni 2014

Angkot (part 8)

Belakangan aku seperti ditarik ke masa lalu. Bertemu dengan orang-orang lama secara tidak sengaja atau mengulang kejadian-kejadian yang sama seperti dulu, juga tanpa sengaja.

Seperti pagi ini, ketika salah seorang pria masuk ke dalam angkot yang aku tumpangi membawaku ke masa lalu lewat wanginya. Aku tidak sengaja menghirup wangi itu dan aku duduk berjauhan, tapi mungkin pria itu memakai parfumnya terlalu berlebihan. Alhasil wanginya penuh mengisi ruang di angkot yang aku tumpangi.

Wangi itu, sangat familiar. Wangi yang sama yang dulu aku suka. Wangi segar dan maskulin. Meski bukan parfum mahal tapi aromanya bersahabat dengan hidung. Aku yang notabene tidak terlalu suka parfum tidak terlalu berkeberatan dengan wangi itu. Wangi yang mengingatkan aku pada seseorang yang aku sebut sebagai teman. Seseorang yang mengajarkanku hal-hal kecil secara tidak sengaja. Seseorang dengan teman lainnya yang menjadikan masa SMA ku berwarna.

Tapi bukan lebih kepada orang yang mempunyai wangi segar itu pikiranku berputar, melainkan pada kejadian lucu yang muncul gara-gara wangi orang itu. Kesukaanku pada wangi itu membuat seseorang rela berganti parfum beraroma sama. Membuat seseorang tanpa malu-malu bertanya pada temanku parfum apa yang dia pakai dan dimana bisa memperoleh parfum itu, bahkan sampai meminta untuk dibelikan. Lucu dan aneh karena bukan sifat orang itu yg dengan rela menjatuhkan harga dirinya untuk bertanya hal itu pada orang lain dan juga rela jadi bahan tertawaan teman-temanku yang lainnya. Hanya demi pengakuan kalau aku suka aroma tubuhnya.

Aroma segar dari parfum itu masih memenuhi angkot dan aku mulai tidak nyaman. Aku ingin segera turun agar tidak mencium wangi itu lagi dan menghilangkan kenangan-kenangan yang kini memenuhi otakku. Aku tidak suka. Aku mencoba menutup hidungku untuk mengahalangi masuknya wangi itu ke dalam rongga hidungku.

Dan aku menarik nafas lega, mencari aroma lain begitu kakiku melangkah keluar angkot. Aku berjalan dengan telapak tangan kiri menutupi mulut dan hidungku. Bukan untuk menghindari masuknya asap dan debu tapi aku menghirup wangi strawberi dari body butter yang aku gunakan. Karena aku ingin menghilangkan aroma yang sejak tadi menggangguku.

Minggu, 04 Mei 2014

Surat untuk Saudara Seimanku

Teruntuk saudara-saudara seimanku....

Aku dan kalian tidak tahu apa yang akan terjadi esok, lusa dan seterusnya. Inilah salah satu alasan aku menuliskan ini. Hingga jika nanti aku (keimananku) menurun, aku diingatkan.

Saudaraku,
Jika kelak aku futur, kemudian tiba-tiba "menghilang", tiba-tiba menjauh, tak lagi bersemangat bahkan hanya untuk hadir di agenda pekanan rutin, entah dengan alasan apapun. Maka aku mohon, aku mohon dengan sangat jangan juga meninggalkan aku. Jangan juga "menghilang". Jangan juga membiarkan aku semakin menjauh. Jangan membiarkan aku karena aku hanya seorang, yang jika aku pergi masih banyak dan akan ada orang-orang terbaik lainnya. Kejar aku sebelum aku semakin jauh dari kalian. Kalau kalian sudah berusaha mendekati aku dengan lembut tapi aku belum bergeming, maka "tampar" aku dengan "tamparan" yang menyadarkanku. Tarik aku sehingga aku kembali. Terakhir, do'akan aku. Pintakan kepadaNya. Karena Dia yang memiliki aku.

Saudaraku,
Aku hanya ingin terus berada dalam semangat luar biasa bersama kalian. Semangat mengejar ridho Allah, mengejar surgaNya.

Saudaraku,
Aku takut. Aku juga sedih. Melihat beberapa saudara kita yang lain satu persatu pergi menjauh. Kita bukannya diam saja dengan kondisi itu. Kita sudah berusaha tapi seperti terlambat atau seakan tidak mampu membawa mereka kembali.
Aku takut jika aku berada dalam kondisi seperti itu. Aku takut tidak bisa merasakan nikmatnya bersama kalian.

Saudaraku,
Memang begitu banyak jalan mencintai dan mencari ridho Allah, tapi aku sudah senang dengan cara aku mencintai dan mencari ridho Allah bersama kalian.
Begitu banyak kebahagiaan yang bisa aku dapatkan walau tak bersama kalian, tapi aku tidak mau kehilangan salah satu cara mendapatkan kebahagianku yaitu bersama kalian.

Saudaraku,
Sampai disini aku tidak tahu mau menuliskan apa lagi. Tanganku sudah bergetar, air mataku sudah menggenang. Tapi aku masih ingin menulis, mengungkap rasa yang belakangan mengganggu. Ini seperti menuliskan sebuah surat sakti. Dan memang ini adalah surat sakti. Walaupun kalian satu persatu tidak membaca surat ini atau membaca tapi kemudian lupa. Setidaknya ini yang akan mengingatkanku, ketika aku melemah. Sebagai pelecut semangat. Bahwa ada kalian yang membuatku merasa bersyukur berada diantara kalian. Bahwa bersama kalian, aku tau Allah sangat dekat dan merasakan kedekatanNya, aku tidak akan merasakan sendiri.

Saudaraku,
Semoga Allah selalu menghimpun kita. Sebagaimana yang selalu aku harapkan ketika bait-bait rabithah mengalun di bibirku, ketika aku menjeda kalimat demi kalimat beberapa detik sambil berusaha membayangkan wajah kalian satu persatu. Seperti yang aku rasakan saat ini, saat aku terhimpun bersama kalian dan dilingkupi limpahan cinta kalian.

Saudaraku,
Aku mencintai kalian karena Allah. Sebagaimana kalian mencintai aku karena Allah.

Jumat, 18 April 2014

Tepat di Waktu yang Tepat

“Semua terserah kamu saja. Bapak cuma kasih pendapat. Tapi satu hal yang perlu kamu tahu, Bapak sama seperti orang tua lainnya yang hanya menginginkan anaknya bahagia.”

Pertanyaanku dijawab dengan cepat dan lugas oleh Bapak. Tapi dengan penekanan pada kata “terserah”   membuat aku mengerti maksud jawaban Bapak. Aku anaknya, lebih dari dua puluh tahun aku mengenalnya, jadi aku paham betul maksud dari perkataan dan ekspresi yang Bapak tunjukkan. Apalagi ketika menjawab mata Bapak tidak sama sekali memandangku. Pandangan matanya terus tertuju pada layar televisi di hadapannya. Aku mengerti. Tapi kucoba beranikan diri untuk meminta penjelasan.

“Tapi kenapa, Pak?”

“Apa kamu yakin?”

Pertanyaanku dijawab dengan pertanyaan lagi olehnya. Membuat aku semakin ciut.

“Kamu tidak hanya akan melewati waktu sehari, seminggu, atau sebulan dengannya. Kamu harus betul-betul mengenalnya. Kamu harus menemaninya bukan membiarkan dia sendiri. Menikah bukan hanya sekedar status tapi kemudian masing-masing masih tetap bertahan mengejar apa yang dia inginkan. Apa kamu siap meninggalkan apa yang sudah kamu rintis dan jalani selama ini?. Sesuatu yang kamu sebut sebagai passion. Dan entah kenapa Bapak ragu, Nak.”

Aku menunduk, membenamkan wajahku. Bapak tidak menjelaskan keraguannya tapi seakan memojokkan aku dan mempertanyakan keyakinanku. Aku yakin, karena aku tidak punya alasan jelas untuk menolaknya. Kalau boleh jujur, kecenderungan itupun mulai ada. Tapi, aku tidak bisa menunjukkan keyakinanku, bahkan untuk sekedar menjelaskannya pada Bapak. Mulutku seakan menutup rapat dan air mataku sudah menggenang. Aku tidak mau menangis di depannya.

“Coba dipikirkan lagi. Bapak tau kamu mengerti maksudnya dan kamu sudah sangat dewasa untuk tidak mengambil keputusan terburu-buru.”

“Ya, Pak.”

Aku beranjak meninggalkan Bapak yang masih menatap layar televisi, tujuanku adalah dapur. Aku tuangkan air dingin ke dalam gelas dan langsung ku habiskan dalam sekali teguk. Entah kenapa, rasa dingin air tidak bisa melegakkan dadaku. Rasanya sakit sekali. Tanpa terasa air mataku sudah mengalir di pipi dan buru-buru aku seka dengan telunjukku.
***
Pagi ini aku sudah mengambil keputusan. Sebisa mungkin aku menampakkan wajah yang biasa, aku tidak mau orang rumah tau apa yang aku rasakan. Berusaha tersenyum walaupun sebenarnya ingin sekali menangis. Aku pernah patah hati karena seseorang saat SMA, tapi kali ini sakitnya terasa lebih menusuk. Aku menangis tapi tidak bisa meredakkan rasa sakit dalam dadaku. Sakitnya membuat aku terus-terusan menarik nafas panjang agar aku tidak kekurangan oksigen yang akan menyebabkan aku tak sadarkan diri.

Dalam perjalanan menuju kantorku, aku mengirim pesan kepada seorang temanku untuk menyapaikan apa yang sudah aku putuskan. Aku tidak sanggup untuk menyampaikan secara langsung padanya. Sesaat setelah aku tekan tombol send, air mataku langsung mengalir. Berkali-kali aku seka dan aku tahan agar berhenti mengalir tapi tidak bisa. Aku memalingkan wajahku ke luar jendela, aku tidak mau seisi angkot melihatku menangis. Walaupun seorang gadis berseragam putih abu-abu sudah sejak tadi menatapku heran. Rasanya dadaku sesak sekali. Aku menarik nafas dalam-dalam. Mulutku berkali-kali melafadzkan istighfar kadang diselingi dengan kalimat “aku kuat”, mencoba mencari pengobatan.

Pertanyaan demi pertanyaan muncul di kepalaku. Kenapa harus begini, kenapa orang lain dimudahkan tapi aku tidak, apa yang membuat Bapak ragu, kenapa aku sakit seperti ini, bagaimana perasaannya, kenapa ini, kenapa itu?. Pikiran aneh itu muncul begitu saja menyita kepalaku, menghilangkan setengah kesadaranku sehingga aku tidak merasakan angkot yang melaju kencang dan seperti hilang kendali. aku tidak peduli, aku hanya sibuk menenangkan dan menguatkan diri sendiri. Mencoba melupakan dan melanjutkan perjalananku. Perjalanan dalam arti sebenarnya ataupun tidak.
***
Tiga tahun berlalu dan aku sudah sangat kuat dari sebelumnya. Ketika satu demi satu teman-temanku yang seusia bahkan yang lebih muda naik pelaminan sedangkan aku belum, aku biasa saja. Walaupun terkadang terselip perasaan iri. Terlebih ketika teman sekantorku menikah dan dia menangis sambil memelukku erat di hari pernikahannya. Dengan tulus dia mendo’akanku dan berkelakar kalau dia menyumpahiku sesuai keinginanku, agar aku segera menyusulnya. Candaan yang sering aku lontarkan ketika orang-orang menanyakan tentang pernikahan. Satu kalimat dari temanku yang terus nempel di kepalaku, “Kalau didoakan nggak terkabul, jadi disumpahin aja biar cepet terkabul”. Entah teori dari mana tapi aku suka kalimat itu untuk dijadikan bahan candaan.

Kegiatanku semakin padat. Apalagi sekarang aku mendapatkan kepercayaan dari kantor untuk menangani sebuah proyek di luar kota. Aku sering bolak-balik keluar kota untuk menangani pekerjaanku dan satu minggu ke depan aku akan tinggal di kota tersebut.

“Bu, sabtu pagi aku jadi berangkat ke Bandung dan akan tinggal sampai satu minggu di sana.”

“Kamu sudah bilang ke Bapak?”

“Belum Bu, nanti malam saja sekalian aku minta tolong Bapak mengantarku ke Bandung.”

“Kamu mau berani bayar berapa, Na?” Bapak muncul mengagetkan aku dan ibu.

“Aku bayar pakai peluk aja deh.” Aku berhambur ke pelukan Bapak yang berdiri tak jauh dariku.

“Dina...kamu itu sudah 28 tahun lebih tapi manjanya nggak hilang juga. Adik-adikmu saja nggak semanja itu.”

“Ibu cemburu ya?. Nih ambil Bapaknya terus peluk deh.” Aku mendorong Bapak ke hadapan Ibu dan pergi meninggalkan keduanya.
***
Hari ini hari terakhir aku di Bandung. Pekerjaan kantor sudah aku selesaikan semua tapi aku memutuskan untuk tidak segera pulang, aku ingin membeli oleh-oleh untuk orangtua dan adik-adikku. Saat sedang asyik berbelanja tiba-tiba saja ponselku bergetar, Bapak menelpon.

“Kamu jadi pulang besok?”

“Jadi, Pak. Ada apa?”

“Nggak, Bapak hanya memastikan. Besok Bapak jemput ya!.”

“Aku pulang naik travel saja, Pak. Besok pagi-pagi dari Bandung karena besok sore aku mau ke aqiqahan anaknya Tia.”

“Baiklah. Hati-hati ya..”

“Ya, Pak. Selalu.”

Aku menyimpan ponselku ke dalam tas dan sedikit bingung. Tidak biasanya Bapak menghubungiku dan menanyakan soal kepulanganku. Biasanya tidak, karena aku selalu pulang tepat sesuai jadwal. Kalau pekerjaanku diperpanjang maka aku yang akan menghubunginya. Buru-buru aku tepis pikiran buruk di kepalaku. Mungkin Bapak hanya kangen kepadaku.
***
Malam itu aku dan adik-adikku sedang asyik menonton sebuah acara di televisi saat Bapak memanggilku dan mengajakku duduk di teras depan. Sepertinya ada hal penting yang akan dibicarakan. Tidak lama setelah aku duduk di hadapan Bapak, Ibu muncul dan mengambil tempat duduk di sebelah Bapak. Bapak dan Ibu memulai obrolan dengan basa-basi menanyakan tentang pekerjaanku dan kesanku selama di Bandung. Ketika sudah mulai mencair, raut muka Bapak berubah menjadi serius.

“Kamu kenal sama Arman?”. Aku kaget dengan pertanyaan yang diajukan Bapak.

“Arditya Arman, kenal?”

“Oh...aku kenal, memang kenapa,Pak?.” Kepalaku manggut-manggut tapi hatiku bingung.

“Kemarin Arman datang menemui Bapak dan Ibu, meminta izin dan ridho Bapak sama Ibu untuk menikahimu”. Aku kaget sampai-sampai mulutku terbuka.

Bagaimana mungkin Arman datang ke rumah, tau dari mana alamat rumahku. Dan bagaimana bisa dia datang memintaku tanpa menanyakannya dulu padaku. Kenapa dia begitu berani?. Belum selesai pertanyaan aneh itu berputar-putar di kepalaku, Bapak mengejutkanku.

“Kemarin Arman sudah cerita panjang kali lebar sama Bapak. Tentang dia, keluarganya, bagaimana kamu dan dia berkenalan, juga bercerita tentang dirimu. Hari ini pun Bapak sempat bertemu dengannya untuk mengobrol.” Aku terdiam mendengar penjelasan Bapak.

“Din...Bapak dan Ibu sudah sepakat untuk memberikan ridho kamu menikah dengan Arman. Orang tua Arman juga sudah setuju. Kami dan Arman tinggal menunggu keputusanmu. Kalau kamu setuju, minggu depan Arman dan orang tuanya  akan datang melamarmu.”

Aduh, aku masih kaget dengan kabar Arman datang memintaku dan ditambah lagi kabar kalau dia dan orangtuanya segera melamar. Bagaimana ini?. Aku bukannya tidak mengenal Arman, dia adalah teman dari teman kantorku. Aku kenal Arman dari Lisa teman kantorku. Arman adalah teman kuliah Lisa, dan juga teman kantor suami Lisa. Anaknya baik, Sholeh, sedikit pendiam tapi kadang bisa humoris juga. Aku sebatas mengenalnya seperti itu. Makanya aku heran, waktu Bapak bilang dia begitu mengenalku.

“Jadi bagaimana, Dina?”. Bapak membuyarkan lamunanku.

“Kasih waktu aku konsultasi dengan Allah dulu ya, Pak.”

“Baiklah.Jangan lama-lama ya, inget kamu sudah tua.”
“Ih..Bapak, aku masih muda tau”. Aku mencibir.

“Ibu harap jawaban kamu setuju, tidak ada alasan untuk menolak orang yang sholeh.”

Ibu menepuk penggung tanganku. Orang sholeh. Yang datang tiga tahun lalu itu juga orangnya sholeh kok, tapi kenapa ditolak. Ah sudahlah, semuanya sudah berlalu. Aku tidak mau mengambil keputusan terburu-buru, aku konsultasi dulu. Aku mau keputusanku adalah yang terbaik menurutNya, bukan menurutku.
***
Aku menerima lamaran Arman. Seminggu setelahnya, Arman dan orangtuanya datang ke rumah untuk melamar secara resmi. Dan diputuskan hari pernikahan sebulan kemudian. Hanya dalam waktu sebulan kami mempersiapkan pernikahan. Aku tidak terlalu repot mengurusi pernikahanku karena semua sudah ditangani dengan baik oleh keluargaku dan keluarganya Arman. Aku masih tetap bisa mengerjakan tugas-tugas kantor seperti biasanya.

Aku menerima lamaran Arman bukan karena aku memiliki kecenderungan padanya. Perasaan itu muncul seminggu sebelum hari pernikahanku dengannya. Aku menerimanya karena aku yakin. Aku tidak bisa melukiskan keyakinan itu. Hanya saja aku merasa aku bisa mengandalkan Arman untuk menggandengku berjalan ke jalan yang baik, itu saja. Entah bagaimana dan kapan perasaan itu muncul. Mungkin sejak kami mengobrol di rumah saat mengurusi undangan yang akan di bagi.

“Kenapa kamu yakin dan menerimaku?”, tanya Arman

“Entahlah hanya saja aku yakin saja.”

“Bukan karena dikejar target menikah lantaran usiamu sudah di duapuluhan akhir, kan?”, Arman tersenyum kepadaku.

“Bisa jadi, tapi tidak sepenuhnya dan bukan itu juga alasan utamanya.”

“Ya, aku percaya.”. Kami terdiam.

“Din, menikah itu bukan hanya tentang kesiapan ataupun kecepatan, tapi soal waktu yang tepat. Boleh jadi kita sudah siap tapi waktunya belum tepat. Atau kita belum dipertemukan dengan orang yang tepat. Aku berharap, aku adalah orang yang tepat untukmu yang datang di saat yang tepat.”

Aku mencerna baik-baik kalimatnya. Memahaminya dan mencoba meyakininya.

Arditya Arman adalah orang yang tepat dan datang disaat yang tepat untukku. Yang membuat penantianku menjadi tidak sia-sia. Yang membuatku tidak menyesal harus menunggu selama ini.

Senin, 14 April 2014

Angkot (part 7)

Hari pertama menjadi panitia Ujian Nasional cukup melelahkan. Lelah karena sebagian besar waktuku cuma menunggu. Setelah pengawas masuk ruangan dan ujian dimulai, praktis aku tidak punya kegiatan berarti. Hanya diisi dengan berbincang (lebih tepatnya basa-basi) dengan pengawas independen, ngobrol kesana kemari dengan sesama panitia, dan berkutat dengan hp.

Lelahku tambah lengkap dengan cuaca panas saat pulang. Sebuah angkot berhenti di depanku, ternyata aku kurang beruntung. Kaca angkot terang benderang jadi sinar matahari leluasa memenuhi angkot bagian dalam. Debu jalanan masuk melewati jendela yang terbuka. Oke, ini dilema. Kalau jendela dibuka debunya masuk tapi kalau ditutup maka angkot jadi pengap. Tapi akhirnya aku pilih opsi yang kedua karena debu dari luar tidak bisa diajak kompromi.

Angkot yang aku naiki tidak terlalu penuh. Cuma ada aku, ibu dengan dua orang anaknya, dan ibu lainnya dengan satu orang anaknya. Dan keseruan dimulai. Ketika ibu pertama mulai menimpali obrolan ibu kedua dengan anaknya yang sedang membahas tentang sekolah. Dan entah bagaimana ceritanya, kedua ibu itu saling berbagi cerita walaupun tidak kenal satu sama lain. Mulai dari membahas sekolah sampai dengan masalah keluarga. Mereka asyik bercurhat ria sampai akhirnya harus diakhiri karena ibu yang kedua turun lebih dulu.

Ini hal seru lainnya dari naik angkot. Sesi curhat sering terjadi antara dua orang atau lebih padahal belum sama sekali saling mengenal. Cerita mengalir begitu saja seperti bercerita dengan seorang teman. Dan biasanya diakhiri dengan salam perpisahan seperti "saya duluan.." ditambah senyuman sebagai pelengkap.

Apa aku pernah berada di posisi seperti itu?
Jawabannya adalah pernah, tapi lebih kepada pendengar yang baik. Aku tidak pernah bisa bercerita begitu saja dengan orang yang baru pertama bertemu dan tidak ada rencana untuk berkenalan. Bukan sekali aku menemui penumpang yang curhat atau sekedar mengajak ngobrol. Dan kalau sudah seperti itu, aku siap menjadi pendengar yang baik. Menanggapi seperlunya. Berusaha ramah karena sebenarnya aku agak risih dengan orang yang sok akrab atau lebih kerennya SKSD (Sok Kenal Sok Dekat) padahal baru bertemu. Entah kenapa tapi itu sulit untuk dihilangkan.

Aku lebih suka memperhatikan dan mendengarkan penumpang lain. Banyak pelajaran yang bisa aku ambil. Contohnya hari ini. Bahwa rasa nyaman ketika berbicara dengan seseorang akan membuat kita begitu saja bercerita panjang kali lebar bahkan sampai curhat bahkan dengan orang yang belum dikenal atau baru pertama bertemu.

Kamis, 10 April 2014

Rengkuh Aku....

Aku menangis
Saat tak mempunyai waktu berkualitas denganmu
Aku sekedar menyapa
Mendatangimu sebantar

Saat tak menikmati kata indahmu
Sekedar membaca
Tak memperdulikan makna
Hanya sekilas

Saat hati tak bergetar karena rindu
Datar dan hampa
Tapi aku seperti biasa

Dan aku menangis
Cuma bisa menangis
Hanya menangis

Mencari kenikmatan itu
Ketika aku menyapamu
Membaca kata-kata indah itu
Merasakan kerinduan
Memiliki hati yang berbunga
Membuncah penuh harap

Aku mohon rengkuh aku
Jangan biarkan aku menjauh
Tak menghiraukan kehadiranmu

Jangan biarkan aku lupa
Bahwa kau tak akan jauh
Apalagi pergi meninggalkanku

Rengkuh aku
Hingga aku merasakan kita tak berjarak
Dan aku tak perlu risau
Ketika semua meninggalkanku
Karena kau selalu ada
Untukku

Jumat, 04 April 2014

Curhat Teman


Usia kepala tiga dan masih menyandang status lajang. Tidak dipungkiri keadaan itu menghadirkan kegundahan luar biasa dalam diri. Itu juga yang mungkin dirasakan oleh seorang temanku. Ketika semua keluarga mendesak bahkan ikut campur dengan menyodorkan seorang calon, ketika semua temannya sudah berkeluarga dan mempunyai anak, ketika yang usianya jauh di bawah dia pun silih berganti menemukan jodohnya dan dia masih menunggu, maka rasa gundah itu hadir. Prinsip yang dipegangnya berbenturan keras dengan keadaannya. Tapi sabar tetap menjadi pilihannya, prinsipnya dipegang teguh, dan meyakini yang terbaik yang dipilihkan oleh pemilikNya.

Bukan berarti karena tuntutan usia dan keluarga kemudian harus menerima siapa saja, kan??

Aku tuliskan curahan hatinya di sini, karena secara tidak langsung, kurang dan lebihnya menggambarkan kondisiku juga..^^

Ya Allah... terima kasih atas segala nikmat yang Kau berikan kepadaku.
-Nikmat Iman
-Nikmat Islam
-Nikmat tarbiyah
-Nikmat dakwah
-Nikmat bertemu dengan para tunas-tunas bangsa

Ketika yang lebih tua harus mengalah dengan yang lebih muda
Ketika yang matang sibuk mengurusi dakwah
barangkali ada juga yang sudah tidak memikirkan pribadinya
Ya...hari-harinya dihiasi dengan mengurusi orang lain..

Barangkali itu cara Allah menyayangi hamba-hambaNya

Jangan Kau cabut nikmay ini
Entah bagaimana jadinya jika Engkau mengambil semua itu..
Istiqomahkanlah aku di jalan ini.. aamiin...

Ya..jangan karena usia sudah sangat matang
menerima siapa saja
yang tidak sefikroh
sungguh...setiap orang pasti punya prinsip
Dan ada yang berprinsip.. Di Jalan Dakwah Kugapai Sakinah...
Masih adakah yang punya prinsip yang sama??

Ketika saat ini bergulir prinsipnya
Yang penting fisiknya...pendidikannya...pekerjaannya..
Lagi-lagi masih adakah yang punya prinsip  "Di Jalan Dakwah Kugapai Sakinah"???
Menikah karena dakwah Ilallah....













**Semoga Allah memberikan jodoh terbaik menurutNya dan menyegerakannya..aamiin...

Rabu, 02 April 2014

Tentang Hobi Membaca...

Dari SD sampai sekarang,kalau ditanya hobi aku selalu jawab "aku suka baca". Baca apa saja, selain baca pikiran karena yang ini aku nggak bisa dan nggak mau bisa. Aku suka semua jenis buku, mulai dari buku cerita, novel, siroh(sejarah), tentang motivasi, komik, sampai buku pelajaran. Yang terakhir sering dibaca lebih karena tuntutan pekerjaan.

Banyak yang bilang hobiku terlalu mainstream, tapi  ya mau bagaimana lagi. Aku suka baca, sangat suka malah. Kalau sedang membaca, aku seperti dibawa sama jalan pikiran si penulis. Memahami karakter masing-masing lewat bahasa dan gaya penulisannya.

Kadang saking asyiknya aku nggak peduli dengan keadaan sekitar. Suka nggak nyambung kalau diajak ngobrol atau ditanya dalam kondisi asyik membaca. Atau larut dalam cerita diantara banyak orang. Aku tertawa, senyum-senyum sendiri, bahkan meneteskan air mata ketika membaca cerita dari sebuah buku, dan itu nggak peduli dimanapun. Seperti angkot misalnya. Tak jarang orang yg duduk di depanku memandang aneh gara-gara aku senyum-senyum atau nangis di depan umum tanpa malu.

Aku suka. Suka menikmati saat-saat seperti itu. Buatku membaca bukan hanya memperkaya ilmu, perbendaharaan kata tapi juga mengasah intuisi dan jiwa. Sama satu lagi yang penting, memotivasi diri sendiri untuk bisa membuat sebuah tulisan sebaik orang-orang yang karyanya aku baca.

Dari beberapa penulis yang karyanya pernah aku baca, aku selalu jatuh hati pada karya Andrea Hirata. Dia salah satu favoriku. Membaca karyanya seakan belajar ilmu-ilmu baru. Ilmu tentang tumbuhan, geografi, sampai tentang permainan catur. Membaca karyanya seperti dibangkitkan sisi sensitifitas terhadap sekitar, membangkitkan semangat untuk mewujudkan mimpi lewat usaha-usaha luar biasa yang harus dilakukan.

Penulis yang kedua adalah Salim A Fillah. Meski aku baru punya satu bukunya tapi aku cukup sering membaca karyanya. Pinjam dari teman. Bahasanya manis dan indah. Salim A Fillah menyampaikan pesan-pesan tentang ruhiyah dengan bahasa yang indah dan tidak membosankan. Seperti membaca novel cinta.

Banyak lagi penulis lainnya yang aku suka, tapi dua yang aku sebutkan di atas adalah favoritku. Aku harap bisa bertemu dengan mereka. Cuma ingin bilang "aku bangga pernah membaca karyanya".

Hobiku membaca, tapi sampai sekarang aku belum mampu rutin membeli buku. Kalau tidak ada buku baru dan belum kebeli, sebagai gantinya aku suka blog walking, membaca tulisan-tulisan berbagai orang.
Semoga kelak aku bisa memenuhi kebutuhanku akan buku-buku itu.

Jumat, 14 Maret 2014

Berhenti dan Menunggu

Pertanyaan itu lagi....
Taukah kalau aku sekarang berhenti?
Aku berhenti mencari
Dan memutuskan menunggu
Menunggu sampai aku ditemukan
Bukan aku yang menemukan

Berhenti bukan karena lelah
Tapi memulai fase baru
Membangun harapan baru
Ditemukan bukan menemukan

Kamis, 06 Maret 2014

Angkot (Part 6)

Hari ini, sebagai "angkoters" sejati kesabaranku diuji. Sopir angkot pada demo dan aku bingung pulang.

Ceritanya, pulang dari sekolah aku ke tempat foto kopian. Ikut dengan temanku yang juga mau ke tempat yang sama. Urusan kopi mengkopi selesai. Temanku lagi memilih file folder saat temanku yang lainnya, dua orang, datang menghampiri.

"Bu Irma, gak ada angkot loh...lagi pada demo jadi gak narik. Bu Naimah juga minta jemput suaminya" kata salah satu temanku yang baru saja datang.
Aku melihat temanku lainnya sibuk menghubungi suaminya.

"Minta jemput adik Bu Irma aja"

"Saya naik bus aja, nanti naik angkot dari terminal"

Aku pikir, angkot yang mogok hanya jurusan Merak, jadi aku memutuskan untuk naik bus dulu.
Dan ternyata, bus pun jarang. Cuaca hari ini amat tidak mendukung. Panas menyengat dengan hebatnya. Bus datang, aku duduk tenang.

Sebelum memasuki tol, aku memperhatikan kondisi jalan. Ok, ini beneran bersih dari angkot. Di kedua jalur tidak ada satupun angkot yang lewat.

Aku turun di luar terminal. Disambut dengan panas menyengat dan debu yang bertebaran. Aku menyebrang jalan. Baru saja sampai di seberang jalan, sudah disambut tukang ojek, menawarkan jasa sekaligus memberi pengumuman bukan cuma angkot Merak saja yang mogok tapi semua angkot di Cilegon mogok.

Tidak ada angkot, HP yang satu lowbat, yang satu pulsa tidak cukup untuk melakukan panggilan. Ditambah sempurna dengan suasana yang panas dan berdebu. Suasana pas yang membuatku "rungsing" a.k.a uring-uringan. Astaghfirullah...

Aku berjalan celingukan mencari penjual pulsa. Isi pulsa dan langsung menghubungi orang rumah. Aku menunggu jemputan ojek dari rumah. Aku tidak menggunakan ojek dari tempatku sekarang karena ongkosnya tidak realistis, mahal menurutku. Maka aku memutuskan meminta tukang ojek yang ada dekat rumah. Selain murah juga aman karena semua tukang ojeknya aku kenal.

Awalnya aku mau naik taksi. Tapi hari ini karena tidak ada angkot maka kebanyakan orang menggunakan taksi dan ojek untuk mengantarkan ke tempat tujuan. Alhasil, mencari taksi pun susah.

Setelah menunggu sekitar 15 menit, ojek yang menjemputku datang. Di atas ojek sempat terpikir, susah juga kalau tidak membawa kendaraan sendiri. Tapi ini kan keadaan luar biasa, tidak setiap hari. Pertimbanganku untuk tetap menggunakan angkot lebih banyak dibandingkan membawa kendaraan sendiri. Bahkan kondisi seperti hari ini belum mengubahnya.

Senin, 17 Februari 2014

Lelah....

Waktu seakan berlari. Tidak terasa sudah senin lagi, besok selasa, rabu dan seterusnya. Rasanya begitu cepat dan pekerjaan seakan tidak pernah habis.

Aku tidak menikmati betul dua bulan ini. Dan sedikit terasa hambar. Aku bahagia, aku tertawa, aku melakukan apa yang aku suka, tapi juga aku menangis, merasa lelah, kesepian, tidak puas dan kecewa. Seperti sedang berlari dengan kecepatan tinggi tapi tujuanku belum terlihat, masih jauh. Sedangkan energi sudah mulai menipis. Aku kelelahan.

Aku kehilangan ritme yang asyik dalam menjalani hari. Senin sampai sabtu di sekolah. Berangkat pagi pulang menjelang sore. Minggu ada agenda rutin. Begitu seterusnya.
Hari ini harus ini, selesaikan yang ini. Besok harus ke tempat itu, menyelesaikan yang itu. Lusa harus anu, ini, dan itu. Sebelumnya rutinitasku pun seperti itu. Tapi kali ini seperti ada yang hilang. Entah apa, aku juga tidak tau.

Aku selalu gelisah, tidak tenang, tergesa-gesa, dan....
Ah, mengungkapkan apa yang aku rasa pun begitu sulit.
Aku jadi tidak peka. Cuek. Bahkan kepada diri sendiri.

Aku butuh quality time untuk diriku. "Me time" walaupun sejenak, untuk mencoba mengerti diri sendiri. Tenang sejenak. Dan aku sangat butuh itu.

Sabtu, 08 Februari 2014

Gaun Impian...

Di luar hujan turun begitu derasnya. Ditambah suara gemuruh yang hilang timbul. Dan malam sudah mulai larut. Biasanya jam segini kantuk sudah menyerang, tapi kali ini belum.

Ditengah suara gemericik dan gemuruh, aku lantunkan do'a-do'a terbaik. Seperti tak ingin melewati waktu mustajab.

Tiba-tiba saja terlintas sesuatu di benakku. Aku ambil ponsel, menggeser layarnya, mengklik logo Google kemudian aku ketik "wedding dress syar'i". Seketika gambar-gambar muncul. Satu persatu aku perhatikan. Semuanya bagus, cantik, anggun, dan paling penting syar'i karena tidak memperlihatkan lekuk tubuh. Dari sekian banyak gambar, aku suka salah satu gaun warna emas yang aku tambahkan pada postingan kali ini. Desainnya simpel tapi warna emas memberi kesan mewah. Walaupun pernah terpikir olehku, aku ingin menggunakan gaun warna merah marun tapi gaun warna emas ini membuat pilihanku bertambah.
Aku ingin menggunakan dua gaun di hari pernikahanku, gaun warna putih dan merah marun atau emas.

Kenapa dua gaun?
Gaun warna putih untuk akad dan yang kedua untuk resepsi. Gaun yang kedua, kalau tidak berwarna merah marun, berarti emas. Dua gaun cukup karena nanti resepsinya tidak sampai malam.

Aku juga pernah mencoba untuk mendesain sendiri gaun warna putih yang dikombinasikan dengan batik, mungkin lebih tepatnya mencoret-coret karena aku tidak mahir menggambar. Tapi kalau ternyata dananya terbatas, cukup memakai gaun dari perias saja. Yang penting warnanya sesuai dengan yang aku impikan.

Kantukku sudah datang, hujanpun semakin deras, dan aku ingin melantunkan permintaanku kepadaNya dengan penuh kesungguhan. Agar aku dapat segera mengenakan gaun impianku. Aamiin.......

Selasa, 04 Februari 2014

My Father's Day

04 Februari 2014

Hari ini, genap 52 tahun usia ayahku.
Tak ada ucapan istimewa yang terucap langsung dari istri dan anak-anaknya, karena mengucapkan selamat ulang tahun atau merayakannya bukanlah kebiasaan keluarga kami. Tapi, do'a-do'a terbaik meluncur dari kami, istri dan anak-anaknya.

Diantaranya, kami berdo'a:
Semoga ayah sehat selalu agar bisa terus kami peluk.
Semoga ayah selalu dalam lindungan Allah swt.
Semoga umur yang sudah dilalui dan yang akan dilalui berkah.
Semoga ayah selalu diberi rizki yang halal lagi berkah.
Semoga ayah akan selalu ada untuk kami.
Menjadi ayah yang tetap ada saat kami ingin bercanda, yang menemani tidur kami saat kami sakit, yang menjadi tempat untuk kami bertanya dan meminta solusi atau sekedar pendapat.
Semoga yang terbaik selalu untuk ayah.
Aamiin...aamiin.. ya rabbalalamin...





Senin, 06 Januari 2014

Merindukan Sunset Sahara

Pertama kali aku lihat di sebuah acara traveling di salah satu stasiun tv, aku sudah jatuh cinta.

Menapakan dan melangkahkan kaki di atas hamparan pasir lembut nan luas, kemudian membiarkan matahari senja membasuh muka dan menghangatkan seluruh tubuh. Indah sekali.

Sunset di gurun Sahara memang menjanjikan keindahan luar biasa bagi pengunjungnya. Dan aku ingin sekali menjadi salah satu pengunjung tersebut.

Bisa menapakan kaki di sana kemudian duduk berlama-lama sambil mengagumi kebesaranNya. Membaca dzikir sore sambil menikmati matahari terbenam. Semua itu menjadi salah satu mimpi yang akan aku wujudkan. Semakin hari aku semakin rindu untuk segera merasakannya. Serindu aku dengan tanah Haram.

Pagi ini ketika matahari malu-malu menampakkan diri lalu kemudian muncul dengan warna kemerahan yang hangat, membuat aku tidak sabar menantikan senja. Aku ingin menikmatinya. Menikmati dengan penuh khidmat sebagai penawar rindu akan keindahan senja di Sahara.