Bukan itu maksudku,tapi ini
Bukan itu yang aku mau,tapi ini
Bukan itu yang aku harap,tapi ini
Ah...
Andai aku diam
Andai bicaraku dimengerti
Andai maksudku diketahui
Andai aku dipahami
Andai aku tidak berandai-andai
Bukan itu maksudku,tapi ini
Bukan itu yang aku mau,tapi ini
Bukan itu yang aku harap,tapi ini
Ah...
Andai aku diam
Andai bicaraku dimengerti
Andai maksudku diketahui
Andai aku dipahami
Andai aku tidak berandai-andai
Dalam berinteraksi dengan orang lain kita perlu memahami seperti apa orang yang diajak berinteraksi. Supaya paham maka biasanya kita akan menilai orang tersebut karakternya seperti apa. Karena setiap orang mempunyai "cetak biru"nya masing-masing. Tidak ada orang yang sama persis, bahkan dengan saudara kembarnya sekalipun.
Dengan melakukan penilaian diharapkan komunikasi bisa terjalin efektif dan interaksi akan menjadi mudah.
Perkara nilai menilai orang itu butuh keahlian. Harus betul-betul dicermati, jadi tidak asal menilai orang yang sebenarnya belum kita kenal baik. Karena jika seperti itu maka bisa jadi yang ada adalah salah memberikan penilaian. Bukan pemahaman dan komunikasi efektif yang di dapat, melainkan perselisihan tak penting.
Keahlian tersebut harus diasah. Bagaimana? Ya dengan banyak-banyak berinteraksi dengan orang lain. Sehingga semakin banyak karakter orang yang kita jumpai kemudian akhirnya kita bisa menentukan harus bersikap seperti apa kepada orang yang kita ajak berinteraksi. Bisa juga dengan membaca buku-buku yang membahas tentang bagaimana mengenal karakter orang.
Bukan hanya itu, menjadikan diri sendiri sebagai orang yang harus memahami orang lain terlebih dahulu akan sangat membantu jika dibandingkan menuntut orang lain untuk memahami kita terlebih dahulu. Menjadikan kita sebagai penonton, pengamat dari setiap sikap, tingkah laku dan mimik dari orang lain. Selain itu mengenal dan menilai diri sendiri. Bagaimana mengenal orang lain dengan baik jika diri sendiri saja tidak kenal. Bagaimana bisa memberikan penilaian yang baik untuk orang lain jika diri sendiri tidak dinilai dengan baik. Mengapresiasi diri sendiri kemudian mengapresiasi orang lain.
Tapi, meski langkah-langkah seperti yang diuraikan di atas sudah dilakukan, tidak menutup kemungkinan kita masih saja salah menilai orang. Meski sudah bertahun-tahun mengetahui dan berinteraksi, belum tentu kita betul-betul mengenal pribadi lawan kita berinteraksi. Karena hakikat mengenal itu tidak cukup sekali, tidak dibatasi waktu. Selama kita masih berinteraksi dengan seseorang maka selama itu proses saling mengenal dan menilai karakternya dilakukan.
##Tulisan ini bukan berdasarkan data ilmiah, melainkan berdasarkan pada pengalaman pribadi. Maka ketidaksesuaian ataupun ketidakcocokan dengan kondisi masing-masing orang akan sangat mungkin terjadi.
Hanya sekedar berbagi pengalaman.
Lelaki tua dengan kemeja hitam yang sudah tidak bisa lagi disebut hitam karena warnanya memudar. Bahkan kemejanya pun sudah bisa dibilang tua. Tubuhnya kurus, pendek, ditambah pipi yang kempot seakan memperlihatkan secara jelas kondisi dia sebenarnya.
Lelaki tua itu menggelar plastik yang cukup lebar di samping halte yang berada di luar sebuah pusat perbelanjaan. Di samping kirinya terdapat satu karung besar dan dua plastik hitam juga dengan ukuran besar. Dia menarik karung, membuka ikatannya, dan mengeluarkan isinya satu persatu. Mainan anak-anak yang sudah dibungkus dengan plastik seadanya, dia tata di atas plastik yang tadi dia gelar. Dan, bukan hanya mainan. Dia mengeluarkan dua bungkus kerupuk yang biasa dijual di warung-warung dan disimpan di sebuah toples kaleng besar. Dia terus mengeluarkan isi karungnya, dia tata sedemikian rupa. Mungkin pula sambil berdo'a ada yang tertarik dan berniat membeli dagangannya.
Aku terus memperhatikan dia dari dalam angkot yang aku naiki. Kebetulan angkot yang aku tumpangi berhenti cukup lama untuk mencari penumpang. Menperhatikan satu demi satu barang yang dia keluarkan. Memperhatikan dia dengan begitu hati-hati menata dagangannya. Tapi aku tidak tahu apa isi dalam kedua kantong plastik hitam. Belum selesai semua isi dalam karung dikeluarkan, angkot sudah jalan.
Ah, ada rasa menyesal ketika menyadari aku cuma bisa memperhatikan. Tidak turun membeli barang yang dia gelar. Waktunya tidak pas memang. Saat itu sudah masuk maghrib, adzan dari berbagai mesjid sudah terdengar bersahutan dan aku memilih untuk pulang.
Hanya bisa memandanginya dari dalam angkot. Aku belum pernah melihat dia sebelumnya, meski hampir tiap hari aku lewat tempat tadi. Atau mungkin aku tidak sadar keberadaannya yang tertutupi dengan ramainya pengunjung pusat perbelanjaan itu.
Setua itu masih bersusah-susah mencari uang. Dimana anak dan cucunya?
Aku tidak tau kondisi keluarga dia. Tapi selayaknya orang setua itu tidak lagi harus bersusah-susah, berdagang untuk mencari uang. Seharusnya dia berada di rumah saja, melakukan aktivitas yang bukan untuk mencari uang, dimuliakan oleh anak cucunya. Tapi sekali lagi aku tidak tahu dia, tidak tahu apa yang dia butuhkan, tidak tahu alasan mengapa dia sesore itu berada di tempat tadi. Dan pasti dia juga tidak menginginkan hal itu terjadi kalau saja tuntutan hidup tidak memaksanya melakukan itu.
Dan apa yang dilakukannya adalah dalam rangka memenuhi kebutuhan juga memuliakan dirinya. Dia tidak menghinakan dirinya sendiri dengan berkeliling dari rumah ke rumah, atau duduk di pinggir jalan dengan menengadahkan tangan kepada orang lain. Dia tidak memilih itu, walaupun dengan konsekuensi pulang tanpa rupiah sepeserpun.
Jujur,ada ketidaknyamanan setiap kali berada d angkot yang penuh sesak dengan penumpang. Bukan karena tidak leluasa duduk, bukan pula karena bau keringat, bau parfum, dan bau-bau lainnya campur jadi satu. Tapi karena angkot belum ada yang khusus perempuan. Laki-laki dan perempuan campur dalam satu angkot.
Jika kebetulan penumpangnya perempuan semua maka tidak akan menjadi masalah. Tapi saat penumpang beragam, ditambah mendapatkan tempat duduk yang bersebelahan dengan laki-laki, rasa tidak aman itu muncul. Sangat mengerti jika penumpang laki-laki di sampingku tidak akan berbuat macam-macam. Tapi kondisi seperti itu sangat kontras dengan prinsipku. Aku sebisa mungkin menjaga jarak - dalam arti sebenarnya maupun tidak - dengan laki-laki yang bukan muhrim. Takut jika kelak dijilat api neraka karena bersentuhan dengan laki-laki yang bukan muhrim. Tapi di angkot, sulit sekali. Angkot bukan punya pribadi yang dengan leluasa bisa kita atur posisi duduk penumpangnya.
Memilih angkot yang tidak penuhpun bukan hal yang mudah. Jumlah penumpang angkot saat naik sampai turun tidak bisa diprediksi, sama sekali.
Bisa jadi pada saat naik cuma satu dua orang, begitu diperjalanan angkotnya penuh. Karena angkot penuh terus adalah do'a semua sopir angkot.
Belum lagi kondisi angkot yang sepi kadang menimbulkan kecemasan yang berbeda. Banyak berita di berbagai media, terutama televisi, yang memberitakan tentang kejahatan yang dilakukan di dalam angkot. Dan pengalaman pribadi yang pernah satu kali menyaksikan pencopetan di angkot tapi tidak bisa berbuat apa-apa dan dua kali hampir dicopet, beruntung Allah masih melindungi.
Trauma yang membekas menjadikan aku kadang berprasangka buruk jika di angkot sepi dan menemukan penumpang dengan gelagat yang mencurigakan. Biasanya aku menjadi tidak tenang, rasanya ingin cepat sampai. Dan trauma itu yang membuat aku selalu waspada dan lebih berhati-hati di dalam angkot.
Trauma itu tidak menyebabkan aku menjadi kapok untuk menggunakan jasa angkot, karena sampai saat ini aku masih sangat membutuhkan untuk mobilisasi.
Akhirnya hanya bisa berdo'a, semoga Allah mengampuniku dan melindungiku dari segala bentuk kejahatan. Aamiin...
Perkembangan teknologi saat ini sangatlah cepat. Seakan satu kecanggihan demi kecanggihan lainnya muncul tiap hari dan sudah barang tentu sangat mempengaruhi semua hal dalam segala bidang kehidupan.
Telepon selular misalnya, semua produsen berlomba-lomba mengeluarkan seri terbarunya yang didukung oleh fitur-fitur canggih, yang membuat sebuah telepon selular bukan hanya sekedar telepon biasa - hanya dapat digunakan untuk telepon dan sms - yang bisa digunakan untuk mengakses internet, mengabadikan gambar, dan melakukan aktivitas yang biasa dilakukan di depan komputer. Jadi kalau biasanya seseorang membutuhkan 3 barang untuk melakukan komunikasi, mengabadikan sebuah momen dalam gambar atau video, dan mengerjakan kegiatan ketik mengetik, menyelesaikan tugas kantor misalnya. Sekarang cuma butuh satu barang dan itu bisa masuk dalam tas, atau bahkan cuma segenggaman tangan.
Semua serba mudah dan praktis. Tiap orang bisa mengabarkan apa yang sedang dia lakukan dimanapun dan melihat kejadian-kejadian disuatu tempat yang berjarak ribuan kilometer langsung seperti hadir ditempat tersebut.
Kemudahan itupun berlaku dalam hal berkomunikasi. Kalau dulu ada telegram, surat atau kartu pos untuk berkomunikasi jarak jauh. Lebih maju sedikit, telepon baik itu telepon rumah atau ponsel. Sekarang, berbagai macam sosial media dan aplikasi-aplikasi khusus untuk berkomunikasi bermunculan.
Pertama, ada chating lewat internet. Kemudian muncul sosial media. Friendster (ini sosial media pertama yang dikenal penulis), bukan cuma sekedar menuliskan berita tapi bisa disertai gambar. Setelah itu bermunculan yang lainnya, ada facebook, twiter, google +, instagram, path dan lainnya. Fasilitas chating pun lebih canggih lagi, bukan cuma yahoo messanger tapi sudah ada whatsapp, line, we chat, kakao talk, Gtalk, entah apa lagi. Yang bukan hanya menyediakan layanan chating tapi juga telepon.
Hanya saja beberapa orang kurang bijak dalam memanfaatkan kemudahan dan kecanggihan yang ada. Mengumbar apapun tentang dirinya di sebuah sosial media, sehingga untuk mengenal orang cukup dengan melihat akun sosial medianya. Tidak semua memang, tapi kebanyakan seperti itu.
Berlomba-lomba memiliki banyak teman atau follower, entah kenal atau tidak. Efek negatifnya, banyak sekali korban penipuan dan kejahatan lainnya yang pelakunya adalah teman di jejaring sosialnya. Memanfaatkan teknologi bukan pada tempatnya.
Ada lagi fenomena baru yang muncul akibat sosial media dan fasilitas chating yang menjamur. Beberapa organisasi, LSM, pedagang, pejabat publik sampai presiden menggunakan fasilitas itu sebagai media untuk publikasi, sarana informasi atau sekedar membuat pencitraan baik pada semua orang.
Tidak jarang sebuah organisasi,komunitas atau kelompok-kelompok menggunakan sosial media untuk melakukan komunikasi dan koordinasi. Misalnya saja, karena masing-masing susah untuk bertemu langsung maka rapat dilakukan di grup chatting. Atau mengirimkan informasi, sharing bahkan mungkin sampai berdebat lewat sosial media melalui grup-grup tertentu dalam sebuah aplikasi obrolan.
Maka beruntunglah orang yang sering menengok akun sosial medianya atau minimal ponselnya sudah bisa selalu terhubung sehingga selalu mendapatkan pemberitahuan. Maka beruntunglah orang yang ponselnya sudah mendukung untuk mengunduh aplikasi-aplikasi obrolan yang sudah disebutkan di atas, selalu bisa memantau apa yang terjadi dan mendapatkan informasi terbaru.
Tapi akan menjadi orang yang tertinggal informasi jika jarang menengok akun sosial medianya kemudian ponselnya juga tidak mendukung, karena biasanya informasi hanya dibagikan lewat sosial media atau grup tadi. Jadi, seperti kurang bersahabat dengan pengguna ponsel yang cuma bisa telepon dan sms. Saat baru manggut-manggut mengerti, teman-teman yang lain sudah bisa bergerak.
Dalam rapat-rapat pun terkadang hanya membahas ulang apa yang sudah dibahas dalam diskusi grup lewat internet tadi, ada sih sedikit tambahan. Kadang terlalu sedikit sehingga membuat orang yang sudah menyimak sebelumnya malas berlama-lama hadir dalam sebuah rapat nyata, toh dia sudah menyimak di rapat online.
Mungkin fenomena ini hanya terjadi pada sebagian kecil orang, tapi setidaknya bisa menjadi bahan pertimbangan untuk orang lainnya. Bolehlah sesekali memanfaatkan teknologi komunikasi tapi bertemu langsung itu akan lebih baik kan?
Kita bisa melihat ekspresi wajah lawan bicara kita sehingga bisa mengerti maksud yang akan disampaikan.
Jadi biarlah sosial media dan kecanggihan komunikasi menghubungkan kita dengan orang yang benar-benar berjarak dengan kita.
Jangan sampai ungkapan kalau sosial media atau apapun itu bisa mendekatkan yang jauh tapi menjauhkan yang dekat, menjadi benar adanya. Karena komunikasi itu penting dalam interaksi manusia. Gara-gara salah komunikasi hubungan dua orang atau lebih bisa tidak baik. Silaturahim pun terputus.
Sikap bijak kita sebagai pengguna menjadi poin penting.
Bijak menyikapi teknologi. Bijak dalam berkomunikasi.
Jika tidak bijak, maka efek negatif yang didapat. Jika bijak, maka manfaat kemudahan itu akan sangat terasa.
Semua sudah diatur oleh Allah.
Setiap manusia dan apapun di dunia ini,masing-masing sudah dibuatkan skenario terindah oleh Allah. Dan semua tinggal menjalankannya dengan baik
Hari ini mendapatkan cerita dari seorang yang baru saja pulang dari tanah suci, baru pulang dari umroh. Cerita yang sanggup membuatku terus-terusan berdecak kagum, merinding bahkan berkaca-kaca.
Kisah yang beliau ceritakan sungguh membuatku semakin ingin menginjakan kaki di tanah suci.
Beliau bilang, disana panas tapi beliau tidak berkeringat, bisa menatap langsung ka'bah dan bisa shalat langsung di hadapannya, berziarah di makam Rasulullah dan para sahabat, mengunjungi tempat-tempat bersejarah, dan kata beliau langit di sana bersih. Oh Allah...di tempatku sekarang saja aku sudah senang, sangat suka melihat langitMu, apalagi dapat melihat langitMu yang berada tepat di atas ka'bah. Membayangkannya saja aku sudah luar biasa senangnya, apalagi jika Engkau mengizinkannya melihat langsung ya Allah.
Aktivitas-aktivitas di sana yang semuanya harus baik. Harus selalu berpikiran baik, berprasangka baik, dan melakukan kebaikan-kebaikan sekecil apapun.
Do'a-do'a yang tidak hanya di dengar tapi dikabulkan, bahkan langsung. Subhanallah....
Allah...biaya untuk bisa menjadi tamuMu sangatlah besar, tapi jika Engkau sudah memanggil, jika Engkau sudah meridhoi maka semua biaya itu akan menjadi murah, semuanya akan menjadi mudah. Jika kali ini aku, orang tuaku, saudara-saudaraku tidak mampu, maka aku mohon mampukanlah kami semua menjadi tamuMu.
Mampukanlah kami semua untuk bisa merasakan keagunganMu disana sebagaimana orang-orang yang pernah merasakannya.
Aku mohon mampukanlah. Aamiiin....