Minggu, 23 Juni 2013

Lelaki Tua dengan Kemeja Tua

Lelaki tua dengan kemeja hitam yang sudah tidak bisa lagi disebut hitam karena warnanya memudar. Bahkan kemejanya pun sudah bisa dibilang tua. Tubuhnya kurus, pendek, ditambah pipi yang kempot seakan memperlihatkan secara jelas kondisi dia sebenarnya.

Lelaki tua itu menggelar plastik yang cukup lebar di samping halte yang berada di luar sebuah pusat perbelanjaan. Di samping kirinya terdapat satu karung besar dan dua plastik hitam juga dengan ukuran besar. Dia menarik karung, membuka ikatannya, dan mengeluarkan isinya satu persatu. Mainan anak-anak yang sudah dibungkus dengan plastik seadanya, dia tata di atas plastik yang tadi dia gelar. Dan, bukan hanya mainan. Dia mengeluarkan dua bungkus kerupuk yang biasa dijual di warung-warung dan disimpan di sebuah toples kaleng besar. Dia terus mengeluarkan isi karungnya, dia tata sedemikian rupa. Mungkin pula sambil berdo'a ada yang tertarik dan berniat membeli dagangannya.

Aku terus memperhatikan dia dari dalam angkot yang aku naiki. Kebetulan angkot yang aku tumpangi berhenti cukup lama untuk mencari penumpang. Menperhatikan satu demi satu barang yang dia keluarkan. Memperhatikan dia dengan begitu hati-hati menata dagangannya. Tapi aku tidak tahu apa isi dalam kedua kantong plastik hitam. Belum selesai semua isi dalam karung dikeluarkan, angkot sudah jalan.

Ah, ada rasa menyesal ketika menyadari aku cuma bisa memperhatikan. Tidak turun membeli barang yang dia gelar. Waktunya tidak pas memang. Saat itu sudah masuk maghrib, adzan dari berbagai mesjid sudah terdengar bersahutan dan aku memilih untuk pulang.

Hanya bisa memandanginya dari dalam angkot. Aku belum pernah melihat dia sebelumnya, meski hampir tiap hari aku lewat tempat tadi. Atau mungkin aku tidak sadar keberadaannya yang tertutupi dengan ramainya pengunjung pusat perbelanjaan itu.

Setua itu masih bersusah-susah mencari uang. Dimana anak dan cucunya?
Aku tidak tau kondisi keluarga dia. Tapi selayaknya orang setua itu tidak lagi harus bersusah-susah, berdagang untuk mencari uang. Seharusnya dia berada di rumah saja, melakukan aktivitas yang bukan untuk mencari uang, dimuliakan oleh anak cucunya. Tapi sekali lagi aku tidak tahu dia, tidak tahu apa yang dia butuhkan, tidak tahu alasan mengapa dia sesore itu berada di tempat tadi. Dan pasti dia juga tidak menginginkan hal itu terjadi kalau saja tuntutan hidup tidak memaksanya melakukan itu.
Dan apa yang dilakukannya adalah dalam rangka memenuhi kebutuhan juga memuliakan dirinya. Dia tidak menghinakan dirinya sendiri dengan berkeliling dari rumah ke rumah, atau duduk di pinggir jalan dengan menengadahkan tangan kepada orang lain. Dia tidak memilih itu, walaupun dengan konsekuensi pulang tanpa rupiah sepeserpun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar