Baginya, sahabat itu tak perlu banyak ungkapan
tak perlu banyak perhatian, tak umum
tapi memahami, menjaga komunikasi, menjaga perasaan, menjaga rahasia
sedikit perhatian tapi itu yang diperlukan
tau apa yang sahabatnya butuhkan
tulus bukan karena kepentingan
dan selalu mendo'akan tanpa diminta
arti itu yang coba dia ungkapkan
awalnya aku tidak mengerti, tapi perlahan aku mulai merasa
aku tidak mengerti dengan isyarat-isyarat yang dia berikan
kadang perhatian kecilnya pun aku lewatkan
tapi sikapnya, ucapannya selalu membuat aku terkesima
bentuk perhatian luar biasa yang tak pernah aku berikan untuknya
Dia pendengar yang baik untuk aku yang terlalu banyak bicara
pribadi yang bijak untuk aku yang kadang kekanakan
dan sesekali manja untuk menumbuhkan kedewasaanku
dengannya kadang aku seperti tidak punya alasan mengapa aku tersenyum dan menangis
sekarang jarak kita beratus kilometer
kangen pasti memburu tapi seperti biasa dia akan muncul dengan kejutan tak terduga
Sist,
saat kamu kembali, mimpiku sudah terwujud
dan akan kuceritakan padamu, insyaAllah ...^_*
Rabu, 26 Desember 2012
Senin, 10 Desember 2012
Bisnis Akhirat
Aku selalu terkagum-kagum dengan orang yang berwirausaha, aku biasa menyebut mereka pebisnis. Apapun bentuk usahanya. Mereka mempunyai semangat luar biasa, keberanian untuk merugi, jatuh, bangkrut, berhutang ke sana kemari demi menjalankan usahanya. Bergerak memasarkan produk ataupun jasa yang mereka tawarkan, dari mulut ke mulut, lewat media on line, sebar brosur, pasang iklan dan lain sebagainya tanpa ragu dan mengesampingkan rasa malu. Memiliki energi banyak, aku pikir cadangan energi mereka bisa untuk bergerak kapanpun, dimanapun, dan dalam kondisi apapun.
Mereka mengenal lebih banyak orang, bertemu banyak orang dengan berbagai karakter.
Sempat terpikir untuk mengikuti jejak langkah mereka dan aku bersama dua orang temanku pernah mencoba untuk memulai. Waktu itu pernah diajak teman untuk membuka tempat private bimbingan belajar. Tidak tanggung-tanggung, kami tentukan nama lembaga private, menentukan basecamp, no kontak yang bisa dihubungi, salah satu teman kami sudah menyisihkan sebagian uangnya sebagai modal awal dan kami sudah menyebar brosur. Aku yang notabene paling tidak punya nyali untuk menawarkan sesuatu, mencoba untuk menemui ibu-ibu di suatu sekolah untuk menawarkan jasa kami. Sudah ada yang berminat, begitu kurang lebih kata temanku. Tapi karena kesibukan kami bertiga dan yang pasti ketidakseriusan kami untuk menjalankannya akhirnya pelanggan pertama pun kami tolak. Kami putuskan untuk tidak melanjutkan.
Pada dasarnya aku memang tidak berbakat, mungkin. Tidak punya jiwa berdagang, sifat pesimistis yang menempel, dan tidak mau pusing. Makanya, untuk menjadi seorang wiraswasta sangatlah berat. Tapi akhirnya aku ambil keputusan, aku menjadi seorang pebisnis. Bisnis yang aku jalankan adalah Bisnis Akhirat.
Dijalankan di dunia dengan pengorbanan dan lain sebagainya, tapi merasakan keuntungannya kelak di akhirat.
Apa saja bidang bisnisnya, sangat banyak yang bisa dijalankan. Aku hanya menjalankan beberapa saja.
Aku mempunyai sedikit ilmu yang aku bagi di salah satu SMA di kotaku (menjadi guru). Dengan berusaha selalu membangun keikhlasan dan pengharapan akan keridhoan Allah swt aku jalankan bisnis ini dengan lancar, semoga terus berjalan lancar.
Berkontribusi dalam amal-amal baik walaupun sedikit karena keterbatasan, tapi keinginan untuk tetap istiqomah berkontribusi serta sekali lagi sembari membangun keikhlasan semoga ini menjadi bisnis akhiratku juga. Masih banyak lagi hal-hal kecil yang aku kerjakan, yang aku niatkan sebagai bisnis akhirat.
Ada satu bidang lagi yang akan aku jalani, yaitu menjadi istri sholehah bagi suamiku kelak dan ibu terbaik bagi anak-anak ku kelak. Sudah mulai dipersiapkan dari sekarang bekalnya, tinggal dijalankan sebentar lagi.
Aku memang tidak bisa menjalankan bisnis atau menjadi pebisnis dalam artian yang sebenarnya. Tapi aku akan menjalankan bisnis akhiratku sebaik mungkin. Dengan harapan besar kelak aku akan mendapatkan keuntungan besar yaitu satu "kampung" dengan Rasulullah Muhammad saw di surga dan dapat melihat Allah swt, penciptaku, pemilik cintaku, pemilik rindu terbesarku.Aamiin......
Mereka mengenal lebih banyak orang, bertemu banyak orang dengan berbagai karakter.
Sempat terpikir untuk mengikuti jejak langkah mereka dan aku bersama dua orang temanku pernah mencoba untuk memulai. Waktu itu pernah diajak teman untuk membuka tempat private bimbingan belajar. Tidak tanggung-tanggung, kami tentukan nama lembaga private, menentukan basecamp, no kontak yang bisa dihubungi, salah satu teman kami sudah menyisihkan sebagian uangnya sebagai modal awal dan kami sudah menyebar brosur. Aku yang notabene paling tidak punya nyali untuk menawarkan sesuatu, mencoba untuk menemui ibu-ibu di suatu sekolah untuk menawarkan jasa kami. Sudah ada yang berminat, begitu kurang lebih kata temanku. Tapi karena kesibukan kami bertiga dan yang pasti ketidakseriusan kami untuk menjalankannya akhirnya pelanggan pertama pun kami tolak. Kami putuskan untuk tidak melanjutkan.
Pada dasarnya aku memang tidak berbakat, mungkin. Tidak punya jiwa berdagang, sifat pesimistis yang menempel, dan tidak mau pusing. Makanya, untuk menjadi seorang wiraswasta sangatlah berat. Tapi akhirnya aku ambil keputusan, aku menjadi seorang pebisnis. Bisnis yang aku jalankan adalah Bisnis Akhirat.
Dijalankan di dunia dengan pengorbanan dan lain sebagainya, tapi merasakan keuntungannya kelak di akhirat.
Apa saja bidang bisnisnya, sangat banyak yang bisa dijalankan. Aku hanya menjalankan beberapa saja.
Aku mempunyai sedikit ilmu yang aku bagi di salah satu SMA di kotaku (menjadi guru). Dengan berusaha selalu membangun keikhlasan dan pengharapan akan keridhoan Allah swt aku jalankan bisnis ini dengan lancar, semoga terus berjalan lancar.
Berkontribusi dalam amal-amal baik walaupun sedikit karena keterbatasan, tapi keinginan untuk tetap istiqomah berkontribusi serta sekali lagi sembari membangun keikhlasan semoga ini menjadi bisnis akhiratku juga. Masih banyak lagi hal-hal kecil yang aku kerjakan, yang aku niatkan sebagai bisnis akhirat.
Ada satu bidang lagi yang akan aku jalani, yaitu menjadi istri sholehah bagi suamiku kelak dan ibu terbaik bagi anak-anak ku kelak. Sudah mulai dipersiapkan dari sekarang bekalnya, tinggal dijalankan sebentar lagi.
Aku memang tidak bisa menjalankan bisnis atau menjadi pebisnis dalam artian yang sebenarnya. Tapi aku akan menjalankan bisnis akhiratku sebaik mungkin. Dengan harapan besar kelak aku akan mendapatkan keuntungan besar yaitu satu "kampung" dengan Rasulullah Muhammad saw di surga dan dapat melihat Allah swt, penciptaku, pemilik cintaku, pemilik rindu terbesarku.Aamiin......
Latihan Soal UAS Kimia Smtr Ganjil
Kamis, 29 November 2012
untitled
Dia anak dari sepupu ibuku. Hari itu wajahnya begitu berseri-seri. Saat aku jabat tangannya dan mengucapkan selamat sekaligus do'a, dia mencium pipi ku, kanan dan kiri, kemudian memelukku sambil mengucapkan terima kasih dengan senyuman yang begitu merekah.
Kejadian itu berlangsung sekitar 5 bulan yang lalu, saat aku hadir di acara walimatul 'ursy. Aku lihat dia begitu bahagia. Usianya masih sangat muda, aku kurang tahu pasti. Kira-kira 20 atau 21 tahun dia memutuskan untuk menerima pinangan seorang laki-laki baik yang menjadi pilihan hatinya.
Setelah acara itu, aku tidak pernah bertemu lagi dengannya. Aku hanya mendengar kabar, sehari setelah acara walimahan itu suaminya sakit. Awalnya sakit perut luar biasa, kemudian di bawa ke rumah sakit dan di rawat. Setelah itu, aku dengar bahwa kondisi suaminya lemah. Bahkan untuk bangun dari tempat tidurnya saja sulit.
Aku tidak lagi bertemu dia, karena setelah pulang dari rumah sakit dia memutuskan untuk tinggal dengan nenek dari suaminya, suaminya seorang yatim piatu, dengan alasan tidak mau merepotkan orang tuanya.
Pernah sekali waktu ibunya menanyakan tentang kondisinya, karena sejak kecil dia tidak pernah bekerja mengurus pekerjaan rumah tangga, yang dilakukan hanya menyapu lantai. Dan karena alasan itulah ibunya bertanya, tapi jawaban yang dilontarkan bukanlah jawaban dari seorang anak yang manja melainkan jawaban dari seorang perempuan yang beranjak dewasa.
"Gak apa-apa, Mak. Saya sudah menikah dan menjadi istrinya, bagaimanapun kondisi suami saya itu sudah menjadi tanggung jawab saya untuk merawatnya. Susah ataupun senang biar kami sama-sama rasakan. Jadi, biarkan saya mengurusnya sendiri sebagai tanda bakti saya pada suami saya."
Begitu kira-kira jawaban yang dia sampaikan untuk menenangkan hati ibunya, sekaligus menjelaskan statusnya yang sekarang.
Semalam aku bertemu dengannya setelah pertemuan kami yang terakhir itu. Dia menangis dipelukan ibuku dan aku hanya bisa duduk di belakang ibuku sambil tak sanggup menahan air mata yang keluar. Tanpa kata-kata.
Suaminya meninggal sore kemarin.
Tugasnya telah usai untuk merawat, menjaga dan menemani suaminya. Suaminya pergi setelah mendengarkan lantunan Al-Qur'an yang dia bacakan. Dia mengantarkan kepergian suaminya dengan sesuatu yang sangat indah. Dia menangis dan terus menangis, aku yakin bukan karena tidak ikhlas tapi dia tidak sanggup untuk menahan rindu pada kekasihnya.
Semalam, giliran aku yang memeluknya, mencium pipinya dan membisikkan kata-kata yang bisa aku katakan untuk menguatkannya.
Aku tahu hatinya hancur. Dia masih terlalu muda. Dia belum merasakan manisnya pernikahan. Yang dia tahu, dia cinta dan sayang pada suaminya yang mulai hari ini tidak bisa dia pandangi lagi.
Dan aku tahu, perjalanan selama 5 bulan lebih ini mengajarkan kedewasaan kepadanya. Mengajarkan betapa berartinya keberadaan orang yang dicintainya, sebelum dia pergi dan tak mampu lagi membersamainya....T_T
Kejadian itu berlangsung sekitar 5 bulan yang lalu, saat aku hadir di acara walimatul 'ursy. Aku lihat dia begitu bahagia. Usianya masih sangat muda, aku kurang tahu pasti. Kira-kira 20 atau 21 tahun dia memutuskan untuk menerima pinangan seorang laki-laki baik yang menjadi pilihan hatinya.
Setelah acara itu, aku tidak pernah bertemu lagi dengannya. Aku hanya mendengar kabar, sehari setelah acara walimahan itu suaminya sakit. Awalnya sakit perut luar biasa, kemudian di bawa ke rumah sakit dan di rawat. Setelah itu, aku dengar bahwa kondisi suaminya lemah. Bahkan untuk bangun dari tempat tidurnya saja sulit.
Aku tidak lagi bertemu dia, karena setelah pulang dari rumah sakit dia memutuskan untuk tinggal dengan nenek dari suaminya, suaminya seorang yatim piatu, dengan alasan tidak mau merepotkan orang tuanya.
Pernah sekali waktu ibunya menanyakan tentang kondisinya, karena sejak kecil dia tidak pernah bekerja mengurus pekerjaan rumah tangga, yang dilakukan hanya menyapu lantai. Dan karena alasan itulah ibunya bertanya, tapi jawaban yang dilontarkan bukanlah jawaban dari seorang anak yang manja melainkan jawaban dari seorang perempuan yang beranjak dewasa.
"Gak apa-apa, Mak. Saya sudah menikah dan menjadi istrinya, bagaimanapun kondisi suami saya itu sudah menjadi tanggung jawab saya untuk merawatnya. Susah ataupun senang biar kami sama-sama rasakan. Jadi, biarkan saya mengurusnya sendiri sebagai tanda bakti saya pada suami saya."
Begitu kira-kira jawaban yang dia sampaikan untuk menenangkan hati ibunya, sekaligus menjelaskan statusnya yang sekarang.
Semalam aku bertemu dengannya setelah pertemuan kami yang terakhir itu. Dia menangis dipelukan ibuku dan aku hanya bisa duduk di belakang ibuku sambil tak sanggup menahan air mata yang keluar. Tanpa kata-kata.
Suaminya meninggal sore kemarin.
Tugasnya telah usai untuk merawat, menjaga dan menemani suaminya. Suaminya pergi setelah mendengarkan lantunan Al-Qur'an yang dia bacakan. Dia mengantarkan kepergian suaminya dengan sesuatu yang sangat indah. Dia menangis dan terus menangis, aku yakin bukan karena tidak ikhlas tapi dia tidak sanggup untuk menahan rindu pada kekasihnya.
Semalam, giliran aku yang memeluknya, mencium pipinya dan membisikkan kata-kata yang bisa aku katakan untuk menguatkannya.
Aku tahu hatinya hancur. Dia masih terlalu muda. Dia belum merasakan manisnya pernikahan. Yang dia tahu, dia cinta dan sayang pada suaminya yang mulai hari ini tidak bisa dia pandangi lagi.
Dan aku tahu, perjalanan selama 5 bulan lebih ini mengajarkan kedewasaan kepadanya. Mengajarkan betapa berartinya keberadaan orang yang dicintainya, sebelum dia pergi dan tak mampu lagi membersamainya....T_T
Minggu, 25 November 2012
Kerinduan Ini
Kerinduan ini telah membuncah
Mengumpul dan terakumulasi sempurna
Menggelayut dan menghitamkan
Aku rindu menyapa
Menyaksikan senyuman dan muka masam
yang selalu menyambut diriku
Aku rindu membersamai
Anak-anak yang berlari ditengah guyuranku
Senyuman kecil dari mereka
yang menghanyutkan perahu-perahu kertas
Hewan-hewan yang bersenandung
dan pepohonan yang menggelita
Aku rindu mendengarkan
Do'a-do'a indah yang terlantun
dari bibir dari bisikan hari
yang khusyuk dan mengharap pengabulan
Dan hari ini aku datang
melepas kerinduan mendalam
pelan-pelan aku menyapa
Kan kutemani sepanjang hari
dan esok aku akan kembali
Cilegon, 18 November 2012
Mengumpul dan terakumulasi sempurna
Menggelayut dan menghitamkan
Aku rindu menyapa
Menyaksikan senyuman dan muka masam
yang selalu menyambut diriku
Aku rindu membersamai
Anak-anak yang berlari ditengah guyuranku
Senyuman kecil dari mereka
yang menghanyutkan perahu-perahu kertas
Hewan-hewan yang bersenandung
dan pepohonan yang menggelita
Aku rindu mendengarkan
Do'a-do'a indah yang terlantun
dari bibir dari bisikan hari
yang khusyuk dan mengharap pengabulan
Dan hari ini aku datang
melepas kerinduan mendalam
pelan-pelan aku menyapa
Kan kutemani sepanjang hari
dan esok aku akan kembali
Cilegon, 18 November 2012
Kamis, 15 November 2012
Angkot (part 2)
Senin, 12 November 2012
Pagi itu, semua aktivitas dimulai seperti biasanya.
Berangkat pagi ke sekolah seperti biasa menggunakan angkot. Tapi, susah sekali mendapatkan angkot. semua angkot yang lewat hampir penuh. Lama aku berdiri di pinggir jalan sampai aku putuskan untuk menaiki sebuah angkot berwarna biru yang lumayan kosong.
Perjalanan dilalui dengan lancar...
Sampai di depan pos polisi aku memberhentikan angkot untuk kemudian menyambung perjalanan dengan angkot lain yang akan membawaku sampai ke tempat tujuan.
Di dekat pintu ada seorang bapak-bapak yang duduk dengan kaki menghadap pintu. Mau tidak mau aku berjalan keluar angkot dengan posisi mepet ke pintu. Baru melangkahkan kaki kiri, tiba- tiba...Buukk....
Aku terjatuh dengan posisi miring, pinggang sebelah kiri membentur trotoar yang lumayan tinggi, tangan kanan berpegangan di pintu angkot dan kaki kanan tetap di angkot. Seorang ibu dibelakangku menjerit.
"Hati-hati neng!!" kata pak sopir
"ini nyangkut pak, ke pintu" seru ibu yang di belakangku.
Aku cuma meringis, sambil memberikan ongkos kepada sopir.
Perjalanan aku lanjutkan dengan menaiki angkot merah. Saat di angkot aku merasakan kaki kiri ku mulai kesemutan. Aku gerak-gerakkan sedikit dan mengambil posisi duduk nyaman. Tapi, begitu sampai di sekolah, pinggang sebelah kiri mulai terasa sakit. Aku olesi dengan balsem yang aku minta dari seorang teman untuk meredakan rasa sakit. Lumayan reda karena panas yang dihasilkan balsem tadi luar biasa.
Aku mengikuti upacara seperti biasa. Selesai upacara, sakitnya kembali lagi. Kali ini jadi bertambah ngilu. Mungkin karena berdiri selama hampir 40 menit. Aku tetap bertahan, masuk kelas seperti biasa. Menyampaikan materi di dua kelas selesai aku laksanakan. Dan aku, sudah tidak sanggup lagi menahan rasa ngilu di pinggang kiri ku. Setelah salat dzuhur, aku putuskan untuk bergegas pulang.
Sampai di rumah, aku langsung memanggil tukang urut. Sekitar 2 jam aku di urut dan sakitnya sangat luar biasa. Berlanjut sampai esok harinya.
Benturannya sukses membuat aku meringis menahan sakit dan ngilu selama 2 hari.
Kapok banget, gak mau lagi....>_<
Pagi itu, semua aktivitas dimulai seperti biasanya.
Berangkat pagi ke sekolah seperti biasa menggunakan angkot. Tapi, susah sekali mendapatkan angkot. semua angkot yang lewat hampir penuh. Lama aku berdiri di pinggir jalan sampai aku putuskan untuk menaiki sebuah angkot berwarna biru yang lumayan kosong.
Perjalanan dilalui dengan lancar...
Sampai di depan pos polisi aku memberhentikan angkot untuk kemudian menyambung perjalanan dengan angkot lain yang akan membawaku sampai ke tempat tujuan.
Di dekat pintu ada seorang bapak-bapak yang duduk dengan kaki menghadap pintu. Mau tidak mau aku berjalan keluar angkot dengan posisi mepet ke pintu. Baru melangkahkan kaki kiri, tiba- tiba...Buukk....
Aku terjatuh dengan posisi miring, pinggang sebelah kiri membentur trotoar yang lumayan tinggi, tangan kanan berpegangan di pintu angkot dan kaki kanan tetap di angkot. Seorang ibu dibelakangku menjerit.
"Hati-hati neng!!" kata pak sopir
"ini nyangkut pak, ke pintu" seru ibu yang di belakangku.
Aku cuma meringis, sambil memberikan ongkos kepada sopir.
Perjalanan aku lanjutkan dengan menaiki angkot merah. Saat di angkot aku merasakan kaki kiri ku mulai kesemutan. Aku gerak-gerakkan sedikit dan mengambil posisi duduk nyaman. Tapi, begitu sampai di sekolah, pinggang sebelah kiri mulai terasa sakit. Aku olesi dengan balsem yang aku minta dari seorang teman untuk meredakan rasa sakit. Lumayan reda karena panas yang dihasilkan balsem tadi luar biasa.
Aku mengikuti upacara seperti biasa. Selesai upacara, sakitnya kembali lagi. Kali ini jadi bertambah ngilu. Mungkin karena berdiri selama hampir 40 menit. Aku tetap bertahan, masuk kelas seperti biasa. Menyampaikan materi di dua kelas selesai aku laksanakan. Dan aku, sudah tidak sanggup lagi menahan rasa ngilu di pinggang kiri ku. Setelah salat dzuhur, aku putuskan untuk bergegas pulang.
Sampai di rumah, aku langsung memanggil tukang urut. Sekitar 2 jam aku di urut dan sakitnya sangat luar biasa. Berlanjut sampai esok harinya.
Benturannya sukses membuat aku meringis menahan sakit dan ngilu selama 2 hari.
Kapok banget, gak mau lagi....>_<
Selamat Tahun Baru Hijriah 1434
Beribu harapan dan do'a terhimpun dan disampaikan kepada Allah sang Khalik. Semoga Allah:
* selalu membimbing hati ini untuk istiqomah di jalanNya
* mengikuti sunah dan risalah Rasulullah
* menjadikanku manusia yang selalu berusaha menjadi lebih baik
* memberikan keridhoannya selalu kepadaku
* mengabulkan semua do'a-do'aku
Aamiin...Yaa Rabbal 'alamin...^_^
Sa'id bin 'Amir
“Pemilik Kebesaran di balik
Kesederhanaan”
Sa’id adalah satu dari
deretan sahabat Rasulullah yang ditokohkan, meskipun namanya tidak seterkenal
nama-nama lain. Ia teladan dalam ketakwaan yang tidak mau menonjolkan diri.
Ia tidak pernah absen dalam semua
perjuangan dan jihad yang dihadapi Rasulullah saw. Tetapi, itu telah menjadi
pola dasar kehidupan semua orang Islam.
Sa’id
memeluk Islam tidak lama sebelum pembebasan Khaibar. Dan sejak memeluk islam
dan berbai’at kepada Rasulullah saw, seluruh kehidupannya, segala wujud dan
cita-citanya dibaktikan kepada Islam dan Rasulullah. Ketaatan, kezuhudan,
keshalihan, keluhuran, ketinggian, dan semua sifat baik ada pada manusia suci
dan baik ini. Dialah saudara tua kita.
Ketika
mata kita tertuju kepada Sa’id di tengah keramaian, kita tidak akan mendapati
sesuatu yang menarik. Mata kita hanya akan mendapati seorang prajurit yang
lusuh dangan rambut yang tidak terurus. Pakaian dan penampilannya tidak beda
dengan orang-orang miskin lainnya. Jika ini yang kita jadikan pedoman, tentu
kita tidak akan mendapati sesuatu. Kebesaran laki-laki ini lebih sejati
dibandingkan hanya berupa penampilan luar dan kemewahan. Ia jauh tersembunyi di
sana, di balik kesederhanaan dan kesahajaannya. Apakah kalian tahu mutiara yang
terpendam di perut kerang? Nah, keadaannya mirip seperti itu.
Ketika
Khalifah Umar bin Khathab memecat Mu’awiyah dari jabatannya sebagai gubernur
wiyah Syam, ia mencari-cari penggantinya.
Metode
pencarian yang digunakan Khalifah umar sangat hati-hati, karena ia yakin bahwa
apapun kesalahan yang dilakukan oleh pimpinan daerah maka orang yang pertama
kali dimintai pertanggungan jawab oleh Allah adalah pimpinan tertinggi, yaitu
dirinya sendiri. Setelah itu pimpinan daerah. Standar penilaian pun dibuat
sesempurna dan secermat mungkin.
Syam
saat itu adalah wilayah yang sudah maju dan cukup luas. Sementara itu,
kehidupan di sana sebelum datangnya islam mengikuti peradaban yang silih
berganti. Selain itu, Syam merupakan pusat perdagangan yang penting dan tempat
yang tepat untuk bersenang-senang. Syam wilayah yang penuh godaan. Karena itu,
yang cocok menjadi gubernur Syam adalah orang suci yang ditakuti oleh setan apa
pun. Orang suci yang zuhud, ahli ibadah, taat pada agama, dan senantiasa
mendekatkan diri kepada Allah.
Tiba-tiba
umar berseru, “Aku sudah menemukannya! Panggilah Sa’id bin ‘amir.”
Kemudian,
Sa’id menghadap Khalifah, dan ditawari untuk menjadi gubernur Syam yang
berpusat di Hims. Tetapi Sa’id menolak, “Jangan hadapkan aku dengan ujian berat,
wahai Khalifah.”
Dengan
nada keras Umar menjawab, “Demi Allah, kau tidak boleh menolak. Kalian sudah
meletakkan amanah dan tanggung jawab pemerintahan kepadaku, lalu setelah itu
kalian meninggalkan sendiri?”
Sa’id
pun menerima tanggung jawab itu. Dan memang ucapan Khalifah Umar itu layak
mendapatkan hasil yang diharapkan. Sungguh tidak adil bila mereka membebankan
tanggung jawab sebagai Khalifah kepada Umar, lalu mereka meniggalkannya
mengurus pemerintahan sendirian.
Maka
berangkatlah Sa’id ke Hims, dengan ditemani istrinya. Keduanya masih pengantin
baru. Semenjak kecil istrinya adalah wanita yang amat cantik.
Umar
membekali mereka dengan harta yang cukup.
Ketika
keduanya sudah nyaman di Hims, sang istri bermaksud menggunakan harta yang
telah diberikan Khalifah Umar sebagai bekal merka. Ia meminta suaminya untuk
membeli pakaian yang layak dan perlengkapan rumah tangga, lalu menyimpan
sisanya.
Sa’id
berkata, “Maukah kamu aku tunjukkan yang lebih baik dari rencanamu itu? Kita
sekarang berada di suatu negeri yang amat pesat perdagangannya, pasarnya sangat
ramai. Harta ini lebih baik kita serahkan kepada seseorang untuk dijadikan
modal dagang sehingga harta kita akan berkembang.”
Sang
istri bertanya, “Bagaimana jika rugi?”
Sa’id
menjawab, “Aku akan sediakan jaminan.”
“Baiklah
kalau begitu,” kata sang istri menyetujui.
Kemudian
Sa’id pergi membeli sebagian keperluan hidup dari jenis yang amat bersahaja.
Lalu uang lainnya dibagi-bagikannya kepada orang-orang miskin dan yang
membutuhkan.
Hari-hari
pun berlalu. Dari waktu ke waktu sang istri menanyakan perdagangan mereka dan
sudah berapa keuntungannya.
Sa’id
menjawab, “Bisnisnya lancar, dan keuntungannya terus meningkat.”
Suatu
hari, sang istri mengajukan pertanyaan serupa di hadapan seorang kerabat yang mengetahui
permasalahan yang sebenarnya. Laki-laki itu tersenyum lalu tertawa, sehingga
sang istri pun curiga. Ia mendesak Sa’id untuk menceritakan yang sebenarnya.
Sa’id
berkata, “Semua harta kita aku sedekahkan.”
Wanita
itu pun menangis. Ia menyesal karena ia tidak jadi membeli keperluannya, dan
harta itu pun tidak tersisa.
Sa’id
memandangi istrinya yang sedang menangis. Tetes air mata yang membasahi pipi,
manambah kecantikan wajang sang istri. Sebelum ia terlena oleh kecantikan sang
istri yang benar-benar mempesona, ia mengalihkan pandangannya ke surga. Di
sana, rekan-rekannya sudah menikmati apa yang tersedia di surga.
Ia
berkata,”Rekan-rekanku telah mendahuluikumenemui Allah. Aku tidak ingin
menyimpang dari jalan mereka, walaupun ditukar dengan dunia dan segala isinya.”
Karena
takut akan tergoda oleh kecantikan istrinya itu, maka ia berkata yang
seolah-olah ditujukan kepada dirinya yang sedang berhadapan dengan istrinya.
“Dik,
kau kan tahu bahwa di surga terdapat bidadari-bidadari cantik yang bermata
jeli. Andai saja satu dari mereka menampakkan wajahnya di muka bumi, maka akan
terang-benderanglah seluruh bumi. Cahayanya mengalahkan sinar matahari dan
bulan. Mengorbankan dirimu demi untuk mendapatkan mereka, tentu lebih utama
dariapada mengorbankan mereka demi untuk menuruti kemauanmu.”
Pembicaraan
itu pun berakhir seperti saat sebelum dimulai, tenang, penuh senyum dan
kerelaan. Sang istri sadar bahwa tiada yang lebih utama baginya kecuali
mengikuti jalan yang ditempuh suaminya: zuhud dan ketakwaan.
*****
Suatu
ketika, saat Khalifa Umar berkunjung ke Hims, ia bertanya kepada penduduk hims
yang sedang berkumpul, “Bagaimana pendapat kalian tentang Sa’id?”
Beberapa
orang mengemukakan beberapa keluhan. Rupanya keluhan itu berbalik menjadi sisi
positif Sa’id. Ada sisi keagungan yang terungkap. Sungguh ajaib.
Khalifah
umar meminta agar mereka mengemukakan keluhan mereka satu demi satu. Maka, atas
nama kelompok tersebut, seorang laki-laki tampil bicara,
“Kami
mengeluhkan 4 perkara:pertama, ia
baru keluar menemui rakyatnya setelah hari sudah siang; kedua, ia tidak melayani seorang pun di malam hari; ketiga, setiap bulan ada dua hari di
mana ia tidak melayani rakyatnya, dan kami tidak melihatnya sama sekali; dan,
ada satu lagi yang sebetulnya bukan kesalahannya tapi mengganggu kami (keempat), yaitu sewaktu-waktu ia jatuh
pingsan.” Lalu laki-laki itu duduk.
Khalifah
Umar menunduk sebentar dan berbisik memohon kepada Allah, “ Ya Allah, aku tahu
bahwa ia adalah hamba-Mu yang terbaik, maka jangan Engkau belokkan firasatku
ini.”
Lalu
Sa’id dipersilahkan untuk membela dirinya. Ia berkata,
“Mengenai
keluhan mereka bahwa aku tidak keluar menemui mereka kecuali hari sudah siang,
demi Allah, sebetulnya aku tidak ingin menyebutkannya. Kami tidak punya
pembantu, maka akulah yang membuat roti; dari mengaduk tepung hingga roti itu
siap dimakan. Setelah itu aku berwudhu, dan shalat dhuha. Setelah itu, aku
keluar menemui mereka.”
Wajah
Umar berseri-seri, dan ia mengucapkan, “Alhamdulillah. Lalu yang kedua?”
Sa’id
melanjutkan pembicaraannya,
“Adapun
keluhan mereka bahwa akut tidak melayani mereka di malam hari, maka demi
Allahaku benci menyebutkan sebabnya. Aku telah menyediakan siang hari untuk
mereka, sedangkan malam hari untuk Allah.”
“Mengenai
keluhan mereka bahwa dua hari setiap bulan di mana aku tidak menemui mereka,
sebabnya adalah aku tidak mempunyai pembantu yang mencucikan pakaianku, dan
pakaianku tidak banyak. Aku tidak bisa berganti pakaian dengan leluasa. Aku
mencucinya lalu menunggu sampai kering, hingga baru aku bisa keluar menemui
mereka di sore hari.”
“Tentang
keluhan mereka bahwa aku sering jatuh pingsan, sebabnya adalah ketika di Mekah
dulu, aku melihat langsung bagaimana Khubaib al-Anshari tewas. Tubuhnya
disayat-sayat. Orang-orang kafir Quraisy itu bertanya, ‘Maukah jika Muhammad
menggantikanmu, dan kamu bebas?’ Khubaib menjawab, ‘Demi Allah, aku tidak ingin
berada di rumah bersama anak dan istriku menikmati kesehatan dan kelezatan
hidup, sementara Rasulullah terkena musibah walau hanya tetusuk duri.’ Saat itu
aku, aku masih kafir. Aku menyaksikan dengan mata kepala, dan aku tidak
bergerak sedikit pun untuk menolong Khubaib. Karena itu, aku sangat takut akan
siksa Allah kelak, hingga aku jatuh pingsan.”
Selesai
sudah pembelaan Sa’id. Kedua pipinya basah oleh air mata.
Khalifah
umar tidak bisa menahan rasa harunya. Ia berseru dengan gembira,
“Alhamdulillah, firasatku tidak meleset.” Lalu Ia merangkul Sa’id, dan mencium
keningnya yang bercahaya.
*****
Sebagai
gubernur, tentu gaji yang diterimanya juga banyak. Akan tetapi, yang diambilnya
hanyalah sekadar keperluan diri dan istrinya, selebihnya dibagikan kepada
orang-orang miskin.
Suatu
ketika, ada yang memberi nasihat, “Berikanlah kelebihan harta ini untuk
keperluan keluargamu dan keluarga istrimu.”
Sa’id
menjawab, “Mengapa keluargaku dan keluarga istriku? Demi Allah, aku tidak akan
melepas keridhaan Allah hanya demi mementingkan kerabatku.”
Seringkali
orang menasihati, “Berikanlah jatah belanja yang cukup untuk dirimu dan
keluargamu. Nikmatilah hidup ini.”
Tetapi
ia selalu menjawab dengan ucapan berikut.
“Aku
tidak ingin tertinggal oleh rombongan pertama. Aku pernah mendengar Rasulullah
saw. bersabda, ‘Allah ‘Azza wa Jalla akan menghimpun manusia untuk dihadapkan
ke pengadilan. Maka orang-orang miskin dari orang-orang mukmin berdesak-desakan
maju ke depan tak ubahnya bagaikan burung merpati. Lalu, ada yang berseru
kepada mereka, “Berhentilah kalian untuk menghadapi perhitungan.” Mereka
menjawab, “Kami tidak mempunyai apa-apa untuk dihisab.” Maka Allah berfirman,
“Hamba-hamba-Ku ini benar.” Mereka masuk ke surga sebelum orang-orang lain
masuk.’”
*****
Dan
pada tahun 20 Hijriah, Sa’id menghadap Tuhannya dengan lembaran yang paling
bersih, dengan hati yang paling suci dan dengan kehidupan yang paling cemerlang.
Telah
lama rindunya terpendam untuk menyusul “Rombongan Pertama”. Hidupnya telah
dicurahkan untuk menjaga janjinya dan mengikuti langkah mereka.
Sungguh,
ia sangat merindukan berkumpul kembali dengan Rasulullah; gurunya, dan
rekan-rekannya. Semuanya berkumpul dengan membawa lembaran suci.
Hari
ini, ia akan menemui mereka dengan hati tengang, jiwa yang tentram dan beban
yang ringan. Tiada sedikit pun kekayaan dunia yang membebani punggungnya. Ia
hanya membawa keshalihan, kezuhudan, ketakwaan, dan akhlak mulia. Ia hanya
membawa keutamaan-keutamaan yang memberatkan timbangan kebaikannya, dan tidak
memberatkan punggungnya. Ia membawa keistimewaan yang menggoncangkan dunia, dan
sama sekali tidak tertipu.
*****
Salam
sejahtera untuk Sa’id bin ‘Amir.
Salam
sejahtera untuknya, dikala hidup dan sesudah mati.
Salam
sejahtera dan beribu salam sejahtera untuk perjalanan hidupnya yang harum.
Salam
sejahtera untuk generasi terbaik,generasi pendamping Rasulullah.
## diambil dari buku "60 Sirah Sahabat Rasulullah" karya Khalid Muhammad Khalid, dengan pengeditan seperlunya
Selasa, 06 November 2012
ANGKOT (part 1)
Sebagai "angkoters" sejati, banyak kejadian yang aku alami selama menjadi penumpang setia angkutan umum ini. Mulai dari pelajaran-pelajaran kecil, kekesalan, perasaan jengkel, kekaguman, bahkan tidak jarang olah raga jantung pun aku alami.
Dimulai dari cerita kekagumanku pada seorang ibu dan 2 orang anaknya, yang beberapa kali bersamaku dalam satu angkot.
Hari itu, perjalananku ke sekolah terasa singkat. Aku sibuk memperhatikan seorang ibu dan dua orang anaknya yang sedang asyik. Anak perempuannya tanpa dikomando langsung mengambil buku dalam tas kemudian membukanya, seketika ia sibuk membaca buku yang diambilnya, diam-diam aku lirik sampul bukunya. Oh, pelajaran IPA untuk SD kelas 4. Rupanya anak perempuan ibu ini anak kelas 4 SD. Mulutnya komat-kamit menghafalkan kalimat demi kalimat. Mau ulangan harian sepertinya.
Sedangkan sang ibu sibuk mengajari anak laki-laki kecilnya membaca buku Iqro. Sambil dipangku, si anak fasih melafalkan tiap kata yang tertulis dalam buku tersebut, sambil sesekali diperbaiki oleh ibunya. Beberapa lembar buku Iqro dibaca oleh anak itu. Setelah selesai, sang ibu menanyakan beberapa do'a harian kepada si anak. Dengan sangat mudah anaknya menjawab semua do'a yang diminta.
Beberapa hari berikutnya, aku kembali bertemu mereka di angkot. Mereka melakukan aktivitas yang hampir sama seperti pertemuan sebelumnya. Keluarga kecil ini bersemangat sekali sepertinya, diselingi dengan candaan kecil yang kadang tanpa sadar membuat aku ikut tersenyum. Serta pujian kecil yang dilontarkan sang ibu untuk kedua anaknya.
Tidak ada raut ketidaksukaan terpancar pada wajah kedua anak ibu itu. Mereka berdua seperti menikmati kegiatan mereka di angkot, yang mungkin hampir setiap pagi dilakukan.
Kebiasaan belajar giat, kebiasaan memanfaatkan waktu yang diajarkan sang ibu kepada kedua anaknya membuat aku kagum. Sang Ibu membuat anaknya menyadari dan memahami apa yang diajarkan sehingga mereka melakukannya tanpa paksaan, melakukannya dengan senang hati.Kekaguman muncul.. salut luar biasa untuk ibu itu yang mampu mengajarkan kebiasaan baik untuk anak-anaknya.
***Kegiatan kecil yang baik, yang dilakukan berulang-ulang akan menjadi kebiasaan baik dan kemudian akn menjadi kebutuhan.
Dimulai dari cerita kekagumanku pada seorang ibu dan 2 orang anaknya, yang beberapa kali bersamaku dalam satu angkot.
Hari itu, perjalananku ke sekolah terasa singkat. Aku sibuk memperhatikan seorang ibu dan dua orang anaknya yang sedang asyik. Anak perempuannya tanpa dikomando langsung mengambil buku dalam tas kemudian membukanya, seketika ia sibuk membaca buku yang diambilnya, diam-diam aku lirik sampul bukunya. Oh, pelajaran IPA untuk SD kelas 4. Rupanya anak perempuan ibu ini anak kelas 4 SD. Mulutnya komat-kamit menghafalkan kalimat demi kalimat. Mau ulangan harian sepertinya.
Sedangkan sang ibu sibuk mengajari anak laki-laki kecilnya membaca buku Iqro. Sambil dipangku, si anak fasih melafalkan tiap kata yang tertulis dalam buku tersebut, sambil sesekali diperbaiki oleh ibunya. Beberapa lembar buku Iqro dibaca oleh anak itu. Setelah selesai, sang ibu menanyakan beberapa do'a harian kepada si anak. Dengan sangat mudah anaknya menjawab semua do'a yang diminta.
Beberapa hari berikutnya, aku kembali bertemu mereka di angkot. Mereka melakukan aktivitas yang hampir sama seperti pertemuan sebelumnya. Keluarga kecil ini bersemangat sekali sepertinya, diselingi dengan candaan kecil yang kadang tanpa sadar membuat aku ikut tersenyum. Serta pujian kecil yang dilontarkan sang ibu untuk kedua anaknya.
Tidak ada raut ketidaksukaan terpancar pada wajah kedua anak ibu itu. Mereka berdua seperti menikmati kegiatan mereka di angkot, yang mungkin hampir setiap pagi dilakukan.
Kebiasaan belajar giat, kebiasaan memanfaatkan waktu yang diajarkan sang ibu kepada kedua anaknya membuat aku kagum. Sang Ibu membuat anaknya menyadari dan memahami apa yang diajarkan sehingga mereka melakukannya tanpa paksaan, melakukannya dengan senang hati.Kekaguman muncul.. salut luar biasa untuk ibu itu yang mampu mengajarkan kebiasaan baik untuk anak-anaknya.
***Kegiatan kecil yang baik, yang dilakukan berulang-ulang akan menjadi kebiasaan baik dan kemudian akn menjadi kebutuhan.
Minggu, 30 September 2012
Mimpi, Pagi, dan Sebuah Keyakinan
“Kuberi tahu satu rahasia padamu, Kawan
Buah paling manis dari berani bermimpi
Adalah kejadian-kejadian menakjubkan
Dalam perjalanan menggapainya” (Andrea Hirata)
Kata-kata itu bisa menjadi minyak untuk menyalakan
keberanian dalam bermimpi. Tidak perlu takut karena bermimpi itu gratis. Kau hanya
perlu menyusun mimpi-mimpi itu mulai dari yang terkecil sampai yang terbesar,
mulai dari jangka pendek sampai dengan jangka panjang. Setelah itu, buat peta
konsep hidupmu. Susun rencana untuk menyusuri jalan-jalan yang akan mengantarmu
sampai ke mimpi itu.
Setelah semua dbuat, mulailah perjalanan
menggapainya. Nikmati setiap detail dari kejadian-kejadian yang ada. Jika tidak
pernah sampai pada mimpi yang kau tuju, maka berbahagialah karena kau telah
menyusunnya dengan baik. Karena kau telah menjumpai kejadian-kejadian luar
biasa. Jadi, tetaplah menikmatinya seperti pada saat kau memulai.
Bandingkan dengan orang-orang yang menjalani hidup
tanpa sebuah mimpi sekalipun. Kebanyakan mereka tidak sadar telah melewati
kejadian-kejadian luar biasa dalam perjalanan hidupnya. Mereka hanya menjalani
hidup mereka sekedar saja, semuanya mereka anggap sebagai sebuah kebetulan atau
malah berpikir memang itulah yang seharusnya mereka jalani. Itulah takdirnya.
Jika hari ini mimpimu belum ada, sudah ada tapi
belum menyusun rencana untuk mengejarnya. Esok, ketika kau memulai hari buatlah
semuanya. Niatkan dan siapkan diri untuk bertemu dengan kejadian menakjubkan,
keajaiban dan semua yang indah dalam perjalanan mimpimu.
Tanamkan sebuah keyakinan dalam diri bahwa semua
itu akan terwujud. Cepat atau lambat bergantung pada daya yang kau berikan,pada
usaha yang kau lakukan.
Tak perlu malu menyampaikan ke semua orang,karena
semakin banyak orang tau maka semakin dekat jarak mimpi itu dengan
keterwujudan. Ibarat sebuah karya, tidak akan menjadi sebuah karya jika tidak
ditujnjukan kepada orang lain, tidak diapresiasi orang lain.
Perlu diingat bahwa Allah tidak akan merubah
kondisi hambanya yang tidak mau berubah
sendiri.
Ingat juga bahwa Allah maha pemurah,”berdo’alah maka do’amu akan ku kabulkan”.
Kurang lebih seperti itu janjiNya. Jadi, kenapa masih ragu??
Bermimpi yuk…!!!!...^-^
Minggu, 23 September 2012
Minggu, 16 September 2012
Format Penetapan KKM kimia
PENETAPAN KKM
1. Menjelaskan sifat- sifat koligatif larutan
non-elektrolit dan elektrolit
Kompetensi Dasar dan
Indikator
|
KKM
|
|||
Kriteria Penetapan
Ketuntasan
|
Nilai KKM
|
|||
Kompleksitas
|
Daya dukung
|
Intake
|
||
1.1 Menjelaskan penurunan tekanan uap,
kenaikan titik didih, penurunan titik beku larutan, dan tekanan osmosis
termasuk sifat koligatif larutan
§ Menghitung
konsentrasi suatu larutan (kemolalan dan fraksi mol)
§ Menjelaskan pengertian sifat koligatif
larutan non elektrolit (hukum Raoulth) dan larutan elektrolit
§ Menjelaskan
pengaruh zat terlarut yang sukar menguap terhadap tekanan uap pelarut
§ Menghitung
tekanan uap larutan berdasarkan data percobaan
§ Mengamati
penurunan titik beku suatu zat cair akibat penambahan zat terlarut melalui
percobaan
§ Menghitung
penurunan titik beku larutan
elektrolit dan non elektrolit berdasarkan data percobaan
§ Mengamati
kenaikan titik didih suatu zat cair akibat penambahan zat terlarut melalui
percobaan
§ Menghitung
kenaikan titik didih larutan elektrolit dan non elektrolit berdasarkan data
percobaan
§ Menganalisis
diagram PT untuk menafsirkan penurunan
tekanan uap, penurunan titik beku dan kenaikan titik didih larutan
§ Menjelaskan
pengertian osmosis dan tekanan osmosis serta terapannya
§ Menghitung tekanan osmosis larutan
elektrolit dan non elektrolit
|
||||
Trip 100ribu
Tidak pernah terpikir sebelumnya untuk melakukan perjalanan, dikarenakan kondisi perekonomian yang sangat tidak memungkinkan. Tapi kejenuhan memaksa untuk melarikan diri sejenak dari rutinitas selama ini.
Berawal dari ide adik-adikku untuk pergi ke Jakarta, akhirnya rencana untuk refreshingpun disusun.
Sekitar pukul 8.30 wib aku beserta 10 orang saudaraku (adik&sepupu) berangkat dari rumah menuju terminal. Perjalanan dimulai....
Menaiki bus umu menuju Jakarta dengan jumlah rombongan yang hampir mirip tim sepakbola sangatlah menyenangkan. Ribet saat harus ongkos karena dikoordinir oleh satu orang, soal tempat duduk yang tidak mau berjauhan satu sama lain, sampai cara bagaimana mengatasi agar salah seorang sepupuku tidak mabuk perjalanan.
Sampai terminal Kalideres pukul 11.00, perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan KOPAJA. Lagi-lagi kehebohan terjadi, ini adalah kali pertama bagi sebagian besar anggota rombongan menaiki angkutan umum itu. Bangku dari plastik yang kurang nyaman, suara knalpot yang dikeluarkan dan bus yang sebentar-sebentar berhenti untuk mencari penumpang menjadi bahan obrolan yang lebih tepat disebut dengan keluhan. Padahal mereka semua sering menaiki angkutan umum.
Hanya 15 menit menaiki KOPAJA kami sampai di sebuah halte Busway di depan Mall Taman Anggrek. Bus way yang akan kami naiki cukup langka aku pikir, karena kami harus menunggu sampai 30 menit sampai bus berwarna abu-abu itu muncul di hadapan kami.
Tujuan pertama kami Kota Tua, dan memang itu adalah satu-satunya tempat yang kami rencanakan untuk dikunjungi.
Panas matahari siang itu ditambah dengan orang-orang yang begitu banyak, membuat kepalaku cenat-cenut.Jelas saja, waktu menunjukkan pukul 13.00 wib saat kami sampai di museum Falatehan setelah beristirahat sejenak.
Mulai malas aku melangkahkan kaki, panas, keringat bercucuran, harus jalan lagi, dan banyak orang semua komplit membuat penat. Tapi, begitu melihat barisan sepeda ontel warna-warni langsung membuat semangat. Perasaan langsung berubah 180derajat, panas terikpun tidak diperdulikan.
Kami mulai memilih sepeda yang akan disewa, dengan 20ribu rupiah sebuah sepeda tandem kami sewa.
Berdua dengan adikku, kami mengelilingi pelataran museum Falatehan dengan sepeda. Aku mengayuh dibelakang, menyenangkan...
Hampir satu jam kami bersepedah, tapi rasanya begitu cepat.Dilanjutkan berkeliling ke sudut-sudut Kota Tua sambil sesekali bergaya untuk mengabadikan momen perjalanan kami.
Rasa lapar mengantarkan kami ke sebuah meja di barisan para pedagang. Ketoprak, mie ayam, es buah, dan minuman teh dalam botol menjadi pilihan. Semuanya ringan menurut kami, karena kami akan melanjutkan ke tujuan berikutnya untuk berkuliner di sebuah Mall.
Kami sampai di sebuah cafe di dalam sebuah mall, daftar menu dibolak-balik tapi pilihan tetap jatuh pada salah satu makanan yang memang sudah direncanakan sebelumnya. Semangkuk ramen dan es lemon tea.
Ramennya mantap, semangkuk besar aku habiskan dalam sekejap. Selesai melahap semua makanan, acara dilanjutkan dengan berjalan-jalan mengitari mall.
Tak terasa, hari sudah mulai gelap. Kami putuskan untuk mengakhiri semuanya. Kelelahan karena harus bergonta-ganti angkutan, berjalan kaki semuanya terbayarkan dengan keseruan yang terjadi.
Mulai dari bersepeda di tengah terik matahari, bergaya ala foto model amatir, sampai salah antri di halte busway akan menjadi pengalaman tersendiri bagi kami.
Dan buatku yang paling menakjubkan dari semua itu adalah, aku hanya perlu mengeluarkan uang sekitar 100ribu rupiah untuk ongkos, sewa sepeda dan makan. Hemat euy...
Tak pernah terbayangkan bisa refreshing keluar kota semurah itu. Memang ada sedikit subsidi dari salah seorang sepupuku, tapi judulnya perjalanan ini : murah, seru, dan menyenangkan.
Senin, 06 Agustus 2012
Silahkan Pilih, Menjadi Ikan atau Mutiara??
Berawal dari obrolan ringan dengan seorang pelajar, tapi semakin seru ketika aku coba tanya pendapatnya tentang kondisi remaja sekarang.
Menurutnya, remaja sekarang dari segi moral pada umumnya sudah tidak bisa dikatakan baik, akhlaknya dan keimanannya semakin menurun, perilakunya kadang sudah melewati batas kewajaran.
Mimik wajah gadis itu semakin bersemangat saat ia menyampaikan kalimat-kalimat berikutnya.
"Juga tentang pacaran, teh. dengan gampangnya seseorang bisa digandeng, dipegang. Padahal kita tuh sebagai wanita sangat mahal. Kita itu mutiara yang disimpan di etalase yang untuk memilikinya butuh harga yang mahal, tidak murah. Tidak seperti ikan di pasar, yang bisa dipegang, dipilih-pilih. Tidak suka bisa diletakkan kembali, kalau suka dbawa dengan harga yang murah."
Dengan tersipu, ia mengakhiri paparannya dengan pengakuan bahwa dulu juga ia pernah terjebak dalam pacaran, walaupun sebentar dan yang paling penting sekarang ia menyesal.
Apa yang disampaikan gadis itu menggelitik, sepertinya remaja sekarang (ataupun yang sudah bukan remaja) banyak yang lebih memilih menjadi ikan yang murahan. Dengan begitu bangga memperkenalkan pacarnya, menganggap kalau tidak pacaran itu tidak gaul dan lain sebagainya. Rela melakukan apa saja demi pacarnya, menangis meraung-raung sampai kejang ketika diputusin sama pacarnya. Bahkan mungkin ada yang nekad mengakhiri hidupnya.
Kondisinya bahkan lebih ditambah parah dengan oarang tua yang juga merasa bangga kalau anaknya punya pacar, mereka pikir anaknya "laku". Astaghfirullah... anak ibu/bapak itu bukan barang dagangan. Tapi begitulah kondisi sekarang.
Pembicaraan kami saat itu adalah gambaran umum, tidak semua remaja seperti itu (salah satunya yang sedang aku ajak diskusi). Masih ada remaja yang memilih menjadi "luar biasa" diantara kondisi yang biasa.
Harapannya masih banyak dan akan bertambah banyak lagi yang menyadari bahwa pilihan ada di tangan kita masing-masing. Terutama sebagai seorang wanita, maka kehormatan itu harus benar-benar dijaga. Yang kelak akan diberikan, dimiliki dan dijaga oleh laki-laki terbaik. Yang akan menganggap diri seorang wanita itu lebih berharga bahkan jika dibandingkan dengan mutiara.
Menurutnya, remaja sekarang dari segi moral pada umumnya sudah tidak bisa dikatakan baik, akhlaknya dan keimanannya semakin menurun, perilakunya kadang sudah melewati batas kewajaran.
Mimik wajah gadis itu semakin bersemangat saat ia menyampaikan kalimat-kalimat berikutnya.
"Juga tentang pacaran, teh. dengan gampangnya seseorang bisa digandeng, dipegang. Padahal kita tuh sebagai wanita sangat mahal. Kita itu mutiara yang disimpan di etalase yang untuk memilikinya butuh harga yang mahal, tidak murah. Tidak seperti ikan di pasar, yang bisa dipegang, dipilih-pilih. Tidak suka bisa diletakkan kembali, kalau suka dbawa dengan harga yang murah."
Dengan tersipu, ia mengakhiri paparannya dengan pengakuan bahwa dulu juga ia pernah terjebak dalam pacaran, walaupun sebentar dan yang paling penting sekarang ia menyesal.
Apa yang disampaikan gadis itu menggelitik, sepertinya remaja sekarang (ataupun yang sudah bukan remaja) banyak yang lebih memilih menjadi ikan yang murahan. Dengan begitu bangga memperkenalkan pacarnya, menganggap kalau tidak pacaran itu tidak gaul dan lain sebagainya. Rela melakukan apa saja demi pacarnya, menangis meraung-raung sampai kejang ketika diputusin sama pacarnya. Bahkan mungkin ada yang nekad mengakhiri hidupnya.
Kondisinya bahkan lebih ditambah parah dengan oarang tua yang juga merasa bangga kalau anaknya punya pacar, mereka pikir anaknya "laku". Astaghfirullah... anak ibu/bapak itu bukan barang dagangan. Tapi begitulah kondisi sekarang.
Pembicaraan kami saat itu adalah gambaran umum, tidak semua remaja seperti itu (salah satunya yang sedang aku ajak diskusi). Masih ada remaja yang memilih menjadi "luar biasa" diantara kondisi yang biasa.
Harapannya masih banyak dan akan bertambah banyak lagi yang menyadari bahwa pilihan ada di tangan kita masing-masing. Terutama sebagai seorang wanita, maka kehormatan itu harus benar-benar dijaga. Yang kelak akan diberikan, dimiliki dan dijaga oleh laki-laki terbaik. Yang akan menganggap diri seorang wanita itu lebih berharga bahkan jika dibandingkan dengan mutiara.
Senin, 06 Februari 2012
Notes Teman
Malam ini begitu buka FB, ada notif di tag sebuah note sama teman. Isinya bagus menurut saya. Begini isinya:
Man Jadda Wa Jadda Hidupku selama ini membuat aku insaf u/menjinakan badai hidup. "Mantra" Man Jadda Wa Jadda saja ternyata tidak cukup sakti. Antara sungguh2&sukses itu tidak bersebelahan, tapi ada jarak. Jarak ini bisa hanya 1 cm, tapi bisa juga dengan ribuan km. Jarak ini bisa ditempuh dalam hitungan detik tapi juga bisa puluhan tahun. Jarak antara sungguh2&sukses hanya bisa diisi sabar, Sabar yang gigih, sabar yang tidak menyerah,sabar yang penuh dari pangkal sampai ujung yang paling ujung. Sabar yang bisa membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Bahkan seakan-akan itu sebuah keajaiban&keberuntungan. Padahal keberuntungan adalah hasil kerja keras, do'a&sabar yang berlebih-lebih. Bagaimanapun tingginya impian, dia tetap wajib dibela habis2an walau hidup sudah digelung oleh nestapa akut. Hanya dengan sungguh2lah jalan sukses terbuka. Tapi hanya dengan sabarlah takdir itu terkuak menjadi nyata. Dan Allah selalu memilihkan yang terbaik&paling kita butuhkan...Itulah hadiah Allah untuk hati yang kukuh&sabar. Sabar itu awalnya terasa pahit..tetapi akhirnya manis daripada madu. Dan Alhamdulillah saya akan segera mereguk madu itu. Man Shabara Zhafira . Siapa yg sabar akan beruntung ^-^
Ada perasaan kagum punya teman yang luar biasa. Bisa menghasilkan kata-kata indah seperti itu.
Ada perasaan sedih, karena saya tidak bisa seperti dia yang memiliki kesabaran berlebih.
Tapi ada semangat luar biasa yang muncul untuk mewujudkan mimpi, untuk menghadapi ujian, untuk mengurai benang kusut kehidupan, untuk menjadi seorang dengan predikat "PEKERJA KERAS & PENYABAR"
Rabb..Maha pemilik segalanya
Ku mohonkan kekuatan luar biasa untukku
Ku mohonkan keridhoan-Mu untukku
Amiiinnn...
Minggu, 29 Januari 2012
Belajar dari Kegagalan
Siapapun manusianya, ketika gagal atau berada dalam kondisi yang tidak sesuai harapan/keinginan pasti merasakan sedih, sakit, kecewa atau apapun itu namanya. Namun setiap kita pun seharusnya bisa mengambil pelajaran dari kondisi tersebut. Karena sebenarnya perasaan tersebut akan hilang seiring berjalannya waktu, digantikan dengan kejadian-kejadian lain yang lebih menyenangkan atau lebih menyedihkan. Tentu tidak hilang seluruhnya, tapi sedikit demi sedikit akan terkikis.
Belajarlah dari kegagalan, dari ketidaknyamanan karena itu akan membuat kita menjadi hebat, menjadi besar, menjadi lebih bijak dan menjadi lebih baik.
Berapa lama kesedihan/kekecewaan menetap dalam diri tergantung diri kita. Kita yang menentukan, mau tetap bertahan dengan kesedihan atau move on dan bersyukur masih menikmati "kejadian luar biasa" yang kemudian akan mendapatkan nikmat yang terbaik. Karena tidak ada perkara dari seorang muslim yang sia-sia. Karena tidak ada satu hal pun yang ditakdirkan oleh-Nya yang merupakan kesia-siaan. Ada "sesuatu" di balik semua itu. Dan kembali kepada diri manusianya masing-masing, mau tidak melihat lebih dalam. Melihat lebih baik dari sisi positif.
Dan belajarlah dari kegagalan, maka kau akan mendapatkan kejutan-kejutan yang telah disiapkan oleh Sang Pemilik Hidup...^_^
Belajarlah dari kegagalan, dari ketidaknyamanan karena itu akan membuat kita menjadi hebat, menjadi besar, menjadi lebih bijak dan menjadi lebih baik.
Berapa lama kesedihan/kekecewaan menetap dalam diri tergantung diri kita. Kita yang menentukan, mau tetap bertahan dengan kesedihan atau move on dan bersyukur masih menikmati "kejadian luar biasa" yang kemudian akan mendapatkan nikmat yang terbaik. Karena tidak ada perkara dari seorang muslim yang sia-sia. Karena tidak ada satu hal pun yang ditakdirkan oleh-Nya yang merupakan kesia-siaan. Ada "sesuatu" di balik semua itu. Dan kembali kepada diri manusianya masing-masing, mau tidak melihat lebih dalam. Melihat lebih baik dari sisi positif.
Dan belajarlah dari kegagalan, maka kau akan mendapatkan kejutan-kejutan yang telah disiapkan oleh Sang Pemilik Hidup...^_^
Langganan:
Postingan (Atom)
