Kamis, 15 November 2012

Sa'id bin 'Amir


“Pemilik Kebesaran di balik Kesederhanaan”

Sa’id adalah satu dari deretan sahabat Rasulullah yang ditokohkan, meskipun namanya tidak seterkenal nama-nama lain. Ia teladan dalam ketakwaan yang tidak mau menonjolkan diri.
                Ia tidak pernah absen dalam semua perjuangan dan jihad yang dihadapi Rasulullah saw. Tetapi, itu telah menjadi pola dasar kehidupan semua orang Islam.
                Sa’id memeluk Islam tidak lama sebelum pembebasan Khaibar. Dan sejak memeluk islam dan berbai’at kepada Rasulullah saw, seluruh kehidupannya, segala wujud dan cita-citanya dibaktikan kepada Islam dan Rasulullah. Ketaatan, kezuhudan, keshalihan, keluhuran, ketinggian, dan semua sifat baik ada pada manusia suci dan baik ini. Dialah saudara tua kita.
                Ketika mata kita tertuju kepada Sa’id di tengah keramaian, kita tidak akan mendapati sesuatu yang menarik. Mata kita hanya akan mendapati seorang prajurit yang lusuh dangan rambut yang tidak terurus. Pakaian dan penampilannya tidak beda dengan orang-orang miskin lainnya. Jika ini yang kita jadikan pedoman, tentu kita tidak akan mendapati sesuatu. Kebesaran laki-laki ini lebih sejati dibandingkan hanya berupa penampilan luar dan kemewahan. Ia jauh tersembunyi di sana, di balik kesederhanaan dan kesahajaannya. Apakah kalian tahu mutiara yang terpendam di perut kerang? Nah, keadaannya mirip seperti itu.
                Ketika Khalifah Umar bin Khathab memecat Mu’awiyah dari jabatannya sebagai gubernur wiyah Syam, ia mencari-cari penggantinya.
                Metode pencarian yang digunakan Khalifah umar sangat hati-hati, karena ia yakin bahwa apapun kesalahan yang dilakukan oleh pimpinan daerah maka orang yang pertama kali dimintai pertanggungan jawab oleh Allah adalah pimpinan tertinggi, yaitu dirinya sendiri. Setelah itu pimpinan daerah. Standar penilaian pun dibuat sesempurna dan secermat mungkin.
                Syam saat itu adalah wilayah yang sudah maju dan cukup luas. Sementara itu, kehidupan di sana sebelum datangnya islam mengikuti peradaban yang silih berganti. Selain itu, Syam merupakan pusat perdagangan yang penting dan tempat yang tepat untuk bersenang-senang. Syam wilayah yang penuh godaan. Karena itu, yang cocok menjadi gubernur Syam adalah orang suci yang ditakuti oleh setan apa pun. Orang suci yang zuhud, ahli ibadah, taat pada agama, dan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah.
                Tiba-tiba umar berseru, “Aku sudah menemukannya! Panggilah Sa’id bin ‘amir.”
                Kemudian, Sa’id menghadap Khalifah, dan ditawari untuk menjadi gubernur Syam yang berpusat di Hims. Tetapi Sa’id menolak, “Jangan hadapkan aku dengan ujian berat, wahai Khalifah.”
                Dengan nada keras Umar menjawab, “Demi Allah, kau tidak boleh menolak. Kalian sudah meletakkan amanah dan tanggung jawab pemerintahan kepadaku, lalu setelah itu kalian meninggalkan sendiri?”
                Sa’id pun menerima tanggung jawab itu. Dan memang ucapan Khalifah Umar itu layak mendapatkan hasil yang diharapkan. Sungguh tidak adil bila mereka membebankan tanggung jawab sebagai Khalifah kepada Umar, lalu mereka meniggalkannya mengurus pemerintahan sendirian.
                Maka berangkatlah Sa’id ke Hims, dengan ditemani istrinya. Keduanya masih pengantin baru. Semenjak kecil istrinya adalah wanita yang amat cantik.
                Umar membekali mereka dengan harta yang cukup.
                Ketika keduanya sudah nyaman di Hims, sang istri bermaksud menggunakan harta yang telah diberikan Khalifah Umar sebagai bekal merka. Ia meminta suaminya untuk membeli pakaian yang layak dan perlengkapan rumah tangga, lalu menyimpan sisanya.
                Sa’id berkata, “Maukah kamu aku tunjukkan yang lebih baik dari rencanamu itu? Kita sekarang berada di suatu negeri yang amat pesat perdagangannya, pasarnya sangat ramai. Harta ini lebih baik kita serahkan kepada seseorang untuk dijadikan modal dagang sehingga harta kita akan berkembang.”
                Sang istri bertanya, “Bagaimana jika rugi?”
                Sa’id menjawab, “Aku akan sediakan jaminan.”
                “Baiklah kalau begitu,” kata sang istri menyetujui.
                Kemudian Sa’id pergi membeli sebagian keperluan hidup dari jenis yang amat bersahaja. Lalu uang lainnya dibagi-bagikannya kepada orang-orang miskin dan yang membutuhkan.
                Hari-hari pun berlalu. Dari waktu ke waktu sang istri menanyakan perdagangan mereka dan sudah berapa keuntungannya.
                Sa’id menjawab, “Bisnisnya lancar, dan keuntungannya terus meningkat.”
                Suatu hari, sang istri mengajukan pertanyaan serupa di hadapan seorang kerabat yang mengetahui permasalahan yang sebenarnya. Laki-laki itu tersenyum lalu tertawa, sehingga sang istri pun curiga. Ia mendesak Sa’id untuk menceritakan yang sebenarnya.
                Sa’id berkata, “Semua harta kita aku sedekahkan.”
                Wanita itu pun menangis. Ia menyesal karena ia tidak jadi membeli keperluannya, dan harta itu pun tidak tersisa.
                Sa’id memandangi istrinya yang sedang menangis. Tetes air mata yang membasahi pipi, manambah kecantikan wajang sang istri. Sebelum ia terlena oleh kecantikan sang istri yang benar-benar mempesona, ia mengalihkan pandangannya ke surga. Di sana, rekan-rekannya sudah menikmati apa yang tersedia di surga.
                Ia berkata,”Rekan-rekanku telah mendahuluikumenemui Allah. Aku tidak ingin menyimpang dari jalan mereka, walaupun ditukar dengan dunia dan segala isinya.”
                Karena takut akan tergoda oleh kecantikan istrinya itu, maka ia berkata yang seolah-olah ditujukan kepada dirinya yang sedang berhadapan dengan istrinya.
                “Dik, kau kan tahu bahwa di surga terdapat bidadari-bidadari cantik yang bermata jeli. Andai saja satu dari mereka menampakkan wajahnya di muka bumi, maka akan terang-benderanglah seluruh bumi. Cahayanya mengalahkan sinar matahari dan bulan. Mengorbankan dirimu demi untuk mendapatkan mereka, tentu lebih utama dariapada mengorbankan mereka demi untuk menuruti kemauanmu.”
                Pembicaraan itu pun berakhir seperti saat sebelum dimulai, tenang, penuh senyum dan kerelaan. Sang istri sadar bahwa tiada yang lebih utama baginya kecuali mengikuti jalan yang ditempuh suaminya: zuhud dan ketakwaan.
*****
                Suatu ketika, saat Khalifa Umar berkunjung ke Hims, ia bertanya kepada penduduk hims yang sedang berkumpul, “Bagaimana pendapat kalian tentang Sa’id?”
                Beberapa orang mengemukakan beberapa keluhan. Rupanya keluhan itu berbalik menjadi sisi positif Sa’id. Ada sisi keagungan yang terungkap. Sungguh ajaib.
                Khalifah umar meminta agar mereka mengemukakan keluhan mereka satu demi satu. Maka, atas nama kelompok tersebut, seorang laki-laki tampil bicara,
                “Kami mengeluhkan 4 perkara:pertama, ia baru keluar menemui rakyatnya setelah hari sudah siang; kedua, ia tidak melayani seorang pun di malam hari; ketiga, setiap bulan ada dua hari di mana ia tidak melayani rakyatnya, dan kami tidak melihatnya sama sekali; dan, ada satu lagi yang sebetulnya bukan kesalahannya tapi mengganggu kami (keempat), yaitu sewaktu-waktu ia jatuh pingsan.” Lalu laki-laki itu duduk.
                Khalifah Umar menunduk sebentar dan berbisik memohon kepada Allah, “ Ya Allah, aku tahu bahwa ia adalah hamba-Mu yang terbaik, maka jangan Engkau belokkan firasatku ini.”
                Lalu Sa’id dipersilahkan untuk membela dirinya. Ia berkata,
                “Mengenai keluhan mereka bahwa aku tidak keluar menemui mereka kecuali hari sudah siang, demi Allah, sebetulnya aku tidak ingin menyebutkannya. Kami tidak punya pembantu, maka akulah yang membuat roti; dari mengaduk tepung hingga roti itu siap dimakan. Setelah itu aku berwudhu, dan shalat dhuha. Setelah itu, aku keluar menemui mereka.”
                Wajah Umar berseri-seri, dan ia mengucapkan, “Alhamdulillah. Lalu yang kedua?”
                Sa’id melanjutkan pembicaraannya,
                “Adapun keluhan mereka bahwa akut tidak melayani mereka di malam hari, maka demi Allahaku benci menyebutkan sebabnya. Aku telah menyediakan siang hari untuk mereka, sedangkan malam hari untuk Allah.”
                “Mengenai keluhan mereka bahwa dua hari setiap bulan di mana aku tidak menemui mereka, sebabnya adalah aku tidak mempunyai pembantu yang mencucikan pakaianku, dan pakaianku tidak banyak. Aku tidak bisa berganti pakaian dengan leluasa. Aku mencucinya lalu menunggu sampai kering, hingga baru aku bisa keluar menemui mereka di sore hari.”
                “Tentang keluhan mereka bahwa aku sering jatuh pingsan, sebabnya adalah ketika di Mekah dulu, aku melihat langsung bagaimana Khubaib al-Anshari tewas. Tubuhnya disayat-sayat. Orang-orang kafir Quraisy itu bertanya, ‘Maukah jika Muhammad menggantikanmu, dan kamu bebas?’ Khubaib menjawab, ‘Demi Allah, aku tidak ingin berada di rumah bersama anak dan istriku menikmati kesehatan dan kelezatan hidup, sementara Rasulullah terkena musibah walau hanya tetusuk duri.’ Saat itu aku, aku masih kafir. Aku menyaksikan dengan mata kepala, dan aku tidak bergerak sedikit pun untuk menolong Khubaib. Karena itu, aku sangat takut akan siksa Allah kelak, hingga aku jatuh pingsan.”
                Selesai sudah pembelaan Sa’id. Kedua pipinya basah oleh air mata.
                Khalifah umar tidak bisa menahan rasa harunya. Ia berseru dengan gembira, “Alhamdulillah, firasatku tidak meleset.” Lalu Ia merangkul Sa’id, dan mencium keningnya yang bercahaya.
*****
                Sebagai gubernur, tentu gaji yang diterimanya juga banyak. Akan tetapi, yang diambilnya hanyalah sekadar keperluan diri dan istrinya, selebihnya dibagikan kepada orang-orang miskin.
                Suatu ketika, ada yang memberi nasihat, “Berikanlah kelebihan harta ini untuk keperluan keluargamu dan keluarga istrimu.”
                Sa’id menjawab, “Mengapa keluargaku dan keluarga istriku? Demi Allah, aku tidak akan melepas keridhaan Allah hanya demi mementingkan kerabatku.”
                Seringkali orang menasihati, “Berikanlah jatah belanja yang cukup untuk dirimu dan keluargamu. Nikmatilah hidup ini.”
                Tetapi ia selalu menjawab dengan ucapan berikut.
                “Aku tidak ingin tertinggal oleh rombongan pertama. Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Allah ‘Azza wa Jalla akan menghimpun manusia untuk dihadapkan ke pengadilan. Maka orang-orang miskin dari orang-orang mukmin berdesak-desakan maju ke depan tak ubahnya bagaikan burung merpati. Lalu, ada yang berseru kepada mereka, “Berhentilah kalian untuk menghadapi perhitungan.” Mereka menjawab, “Kami tidak mempunyai apa-apa untuk dihisab.” Maka Allah berfirman, “Hamba-hamba-Ku ini benar.” Mereka masuk ke surga sebelum orang-orang lain masuk.’”
*****
                Dan pada tahun 20 Hijriah, Sa’id menghadap Tuhannya dengan lembaran yang paling bersih, dengan hati yang paling suci dan dengan kehidupan yang paling cemerlang.
                Telah lama rindunya terpendam untuk menyusul “Rombongan Pertama”. Hidupnya telah dicurahkan untuk menjaga janjinya dan mengikuti langkah mereka.
                Sungguh, ia sangat merindukan berkumpul kembali dengan Rasulullah; gurunya, dan rekan-rekannya. Semuanya berkumpul dengan membawa lembaran suci.
                Hari ini, ia akan menemui mereka dengan hati tengang, jiwa yang tentram dan beban yang ringan. Tiada sedikit pun kekayaan dunia yang membebani punggungnya. Ia hanya membawa keshalihan, kezuhudan, ketakwaan, dan akhlak mulia. Ia hanya membawa keutamaan-keutamaan yang memberatkan timbangan kebaikannya, dan tidak memberatkan punggungnya. Ia membawa keistimewaan yang menggoncangkan dunia, dan sama sekali tidak tertipu.
*****
                Salam sejahtera untuk Sa’id bin ‘Amir.
                Salam sejahtera untuknya, dikala hidup dan sesudah mati.
                Salam sejahtera dan beribu salam sejahtera untuk perjalanan hidupnya yang harum.
                Salam sejahtera untuk generasi terbaik,generasi pendamping Rasulullah.

## diambil dari buku "60 Sirah Sahabat Rasulullah" karya Khalid Muhammad Khalid, dengan pengeditan seperlunya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar