Dia anak dari sepupu ibuku. Hari itu wajahnya begitu berseri-seri. Saat aku jabat tangannya dan mengucapkan selamat sekaligus do'a, dia mencium pipi ku, kanan dan kiri, kemudian memelukku sambil mengucapkan terima kasih dengan senyuman yang begitu merekah.
Kejadian itu berlangsung sekitar 5 bulan yang lalu, saat aku hadir di acara walimatul 'ursy. Aku lihat dia begitu bahagia. Usianya masih sangat muda, aku kurang tahu pasti. Kira-kira 20 atau 21 tahun dia memutuskan untuk menerima pinangan seorang laki-laki baik yang menjadi pilihan hatinya.
Setelah acara itu, aku tidak pernah bertemu lagi dengannya. Aku hanya mendengar kabar, sehari setelah acara walimahan itu suaminya sakit. Awalnya sakit perut luar biasa, kemudian di bawa ke rumah sakit dan di rawat. Setelah itu, aku dengar bahwa kondisi suaminya lemah. Bahkan untuk bangun dari tempat tidurnya saja sulit.
Aku tidak lagi bertemu dia, karena setelah pulang dari rumah sakit dia memutuskan untuk tinggal dengan nenek dari suaminya, suaminya seorang yatim piatu, dengan alasan tidak mau merepotkan orang tuanya.
Pernah sekali waktu ibunya menanyakan tentang kondisinya, karena sejak kecil dia tidak pernah bekerja mengurus pekerjaan rumah tangga, yang dilakukan hanya menyapu lantai. Dan karena alasan itulah ibunya bertanya, tapi jawaban yang dilontarkan bukanlah jawaban dari seorang anak yang manja melainkan jawaban dari seorang perempuan yang beranjak dewasa.
"Gak apa-apa, Mak. Saya sudah menikah dan menjadi istrinya, bagaimanapun kondisi suami saya itu sudah menjadi tanggung jawab saya untuk merawatnya. Susah ataupun senang biar kami sama-sama rasakan. Jadi, biarkan saya mengurusnya sendiri sebagai tanda bakti saya pada suami saya."
Begitu kira-kira jawaban yang dia sampaikan untuk menenangkan hati ibunya, sekaligus menjelaskan statusnya yang sekarang.
Semalam aku bertemu dengannya setelah pertemuan kami yang terakhir itu. Dia menangis dipelukan ibuku dan aku hanya bisa duduk di belakang ibuku sambil tak sanggup menahan air mata yang keluar. Tanpa kata-kata.
Suaminya meninggal sore kemarin.
Tugasnya telah usai untuk merawat, menjaga dan menemani suaminya. Suaminya pergi setelah mendengarkan lantunan Al-Qur'an yang dia bacakan. Dia mengantarkan kepergian suaminya dengan sesuatu yang sangat indah. Dia menangis dan terus menangis, aku yakin bukan karena tidak ikhlas tapi dia tidak sanggup untuk menahan rindu pada kekasihnya.
Semalam, giliran aku yang memeluknya, mencium pipinya dan membisikkan kata-kata yang bisa aku katakan untuk menguatkannya.
Aku tahu hatinya hancur. Dia masih terlalu muda. Dia belum merasakan manisnya pernikahan. Yang dia tahu, dia cinta dan sayang pada suaminya yang mulai hari ini tidak bisa dia pandangi lagi.
Dan aku tahu, perjalanan selama 5 bulan lebih ini mengajarkan kedewasaan kepadanya. Mengajarkan betapa berartinya keberadaan orang yang dicintainya, sebelum dia pergi dan tak mampu lagi membersamainya....T_T
Tidak ada komentar:
Posting Komentar