Senin, 14 April 2014

Angkot (part 7)

Hari pertama menjadi panitia Ujian Nasional cukup melelahkan. Lelah karena sebagian besar waktuku cuma menunggu. Setelah pengawas masuk ruangan dan ujian dimulai, praktis aku tidak punya kegiatan berarti. Hanya diisi dengan berbincang (lebih tepatnya basa-basi) dengan pengawas independen, ngobrol kesana kemari dengan sesama panitia, dan berkutat dengan hp.

Lelahku tambah lengkap dengan cuaca panas saat pulang. Sebuah angkot berhenti di depanku, ternyata aku kurang beruntung. Kaca angkot terang benderang jadi sinar matahari leluasa memenuhi angkot bagian dalam. Debu jalanan masuk melewati jendela yang terbuka. Oke, ini dilema. Kalau jendela dibuka debunya masuk tapi kalau ditutup maka angkot jadi pengap. Tapi akhirnya aku pilih opsi yang kedua karena debu dari luar tidak bisa diajak kompromi.

Angkot yang aku naiki tidak terlalu penuh. Cuma ada aku, ibu dengan dua orang anaknya, dan ibu lainnya dengan satu orang anaknya. Dan keseruan dimulai. Ketika ibu pertama mulai menimpali obrolan ibu kedua dengan anaknya yang sedang membahas tentang sekolah. Dan entah bagaimana ceritanya, kedua ibu itu saling berbagi cerita walaupun tidak kenal satu sama lain. Mulai dari membahas sekolah sampai dengan masalah keluarga. Mereka asyik bercurhat ria sampai akhirnya harus diakhiri karena ibu yang kedua turun lebih dulu.

Ini hal seru lainnya dari naik angkot. Sesi curhat sering terjadi antara dua orang atau lebih padahal belum sama sekali saling mengenal. Cerita mengalir begitu saja seperti bercerita dengan seorang teman. Dan biasanya diakhiri dengan salam perpisahan seperti "saya duluan.." ditambah senyuman sebagai pelengkap.

Apa aku pernah berada di posisi seperti itu?
Jawabannya adalah pernah, tapi lebih kepada pendengar yang baik. Aku tidak pernah bisa bercerita begitu saja dengan orang yang baru pertama bertemu dan tidak ada rencana untuk berkenalan. Bukan sekali aku menemui penumpang yang curhat atau sekedar mengajak ngobrol. Dan kalau sudah seperti itu, aku siap menjadi pendengar yang baik. Menanggapi seperlunya. Berusaha ramah karena sebenarnya aku agak risih dengan orang yang sok akrab atau lebih kerennya SKSD (Sok Kenal Sok Dekat) padahal baru bertemu. Entah kenapa tapi itu sulit untuk dihilangkan.

Aku lebih suka memperhatikan dan mendengarkan penumpang lain. Banyak pelajaran yang bisa aku ambil. Contohnya hari ini. Bahwa rasa nyaman ketika berbicara dengan seseorang akan membuat kita begitu saja bercerita panjang kali lebar bahkan sampai curhat bahkan dengan orang yang belum dikenal atau baru pertama bertemu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar