Rabu, 20 November 2013

Angkot (part 5) "Sebuah Kenangan"

Menikmati perjalanan ke Serang sendiri dengan angkutan umum, seperti membangkitkan kembali memori saat SMA.

Setiap pagi, kurang lebih pukul 06.00 hampir setiap hari kecuali minggu sudah berdiri di depan jalan, menunggu angkot ke arah serang. Waktu itu angkot masih lumayan jarang, jadi menunggu angkot kosong pagi hari bisa sampai 10 menit. Tidak seperti sekarang, belum nyebrang saja sudah ditunggu. Kalau sudah di angkot, posisi paling favorit adalah pojok. Sepanjang perjalanan mata tak pernah lepas dari pemandangan yang ada di sepanjang jalan. Untuk orang lain, perjalanan Cilegon-Serang tidak ada yang menarik. Tidak ada pemandangan indah, yang ada hanya rumah-rumah, tanah kosong atau ruko.Tapi tidak bagiku. Sepanjang perjalanan selalu ada yang menarik. Entah itu suatu tempat yang selalu aku lewati atau orang-orang yang aku lihat selama perjalanan.

Mulai dari setelah perempatan Serdang, tepatnya mulai memasuki Toyomerto, di sebelah kiri jalan terhampar tanah kosong dan persawahan. Luas seakan tak berujung. Dari jalan aku bisa melihat samar-samar mobil yang melintas di jalan tol Merak-Jakarta. Kalau lewat tempat ini tuh seperti di pedesaan, apalagi musim padi sudah mulai agak besar, hijau sampai ujung. Hanya beberapa menit aku bisa memandangi pemandangan itu, setelahnya berganti deretan kios-kios bunga dan tanaman yang seakan mempercantik jalan.

Pejaten, biasanya disini ada satu temanku yang naik, Mas Munyus-aku biasa memanggilnya seperti itu. Tegur sapa sebentar dengan dia lalu kembali fokus karena aku tidak mau tertinggal satu momen yang aku tunggu. Sebuah rumah di sisi kiri jalan di sebelah jembatan. Aku selalu menunggu untuk bisa memandangi rumah itu dari dalam angkot. Rumahnya kecil, sederhana dan selalu sepi dengan pohon mangga di depannya. Ada apa dengan rumah ini? Ah cukup aku saja yang tau. Biar menjadi rahasia saja.

Lewat Kramat Watu, di daerah Taman sebelum gerbang komplek kopasus. Tempat ini masih bagian komplek kopasus, ada sebuah rawa tapi mungkin lebih tepat kalau disebut kubangan karena kecil. Biarpun kecil, tapi buatku rawa ini indah. Setiap hari teratai-teratai di rawa itu tidak pernah absen memekarkan bunganya yang berwarna merah muda. Indah. Diantara hijau rumput dan pepohonan di kanan kiri, tersembul warna merah muda.

Setelah Taman, perjalananku hampir sampai di pemberhentian pertama. Tidak ada tempat yang aku tunggu untuk aku lihat, semua serba biasa. Biasanya aku mulai meladeni obrolan teman satu sekolah yang juga kebetulan satu angkot. Atau bahkan aku mulai sadar akan sesuatu. Misalnya saja, saat air minum yang ku bawa tumpah. Aku baru sadar beberapa menit sebelum sampai di Pocis, tempat pemberhentian pertama. Rok sudah basah, apalagi buku-buku dalam tas, semuanya sudah terbanjiri air. Tinggal aku yang panik bukan kepalang. Bukan cuma soal buku, tapi dengan rok yang basah hampir di seluruh bagian. Malunya minta ampun. Sampai di sekolah, aku seperti orang yang baru dari kamar kecil, pipis dan tersebor air.

Perjalanan selama 3 tahun itu penuh cerita dan kenangan.

Dan kali ini aku kembali menyusuri jalan yang sama, tapi semuanya sudah berubah. Tidak ada lagi sawah dan tanah kosong karena sudah dibangun perumahan. Rumah kecil itu semakin sepi, meski sudah mengalami perbaikan tapi tetap selalu sepi seperti dulu. Tidak ada lagi teratai di rawa, bahkan rawanya sudah terlihat. Sudah terlalu banyak bangunan baru, perumahan baru, dan ruko-ruko baru. Hampir semua berubah seperti kondisiku yang juga banyak berubah. Tapi, tiap kali melewati jalan yang sama, masih ada kesenangan dan kenangan yang tiba-tiba saja muncul.


20 Oktober 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar