Rabu, 17 April 2013

Penipu oh penipu

Jam dinding menunjukan pukul 03.00 saat pintu depan rumah diketuk berulang kali dengan terburu-buru. Ayahku yang membuka pintu dan mendapati uwa,kakak dari ibuku yang terlihat panik. Dengan intonasi yang berantakan dan tubuh gemetar,uwa mulai menjelaskan suatu hal yang membawanya harus datang ke rumahku dini hari.

"Jen dibawa polisi,katanya ketangkep karena disaku celananya ada narkoba,terus diminta untuk transfer uang 30juta sebagai tebusan biar prosesnya ga lanjut. Terus gimana nih?"jelas uwaku masih dengan nafas memburu.

Jen adalah panggilan untuk pamanku,adik dari ibuku yang bekerja di sebuah pabrik di daerah Anyer.
Dan narkoba,itu tidak mungkin karena kami sekeluarga tau siapa dan bagaimana pamanku. Satu hal yang ada dipikiran kami, pamanku dijebak.
Ayahku cuma diam,kaget sekaligus tidak percaya dengan apa yang didengar. Ayahku mulai menanyakan ini itu,kronologi jelasnya. Sambil juga terus bingung,tertangkap dimana,apa pamanku kerja shift malam,tapi kok tidak mampir ke rumah. Karena kebiasaan dari pamanku sebelum berangkat kerja malam mampir di rumah terlebih dahulu sambil menunggu mobil jemputannya datang.

Uwa meminta ayah menghubungi salah satu teman ayah yang menjadi TNI,tapi ayah ragu harus menghubungi siapa. Akhirnya ayah memintaku untuk membangunkan adik laki-laki ku dan memintanya untuk mengecek keberadaan pamanku di rumahnya. Ayah menduga,mungkin ini penipuan.
Sebelumnya,terlintas dalam pikirku untuk menghubungi ponsel pamanku. Setelah dihubungi ternyata tidak ada jawaban dan aku berinisiatif mengecek nomor ponsel yang menghubungi uwaku. Dan yang lebih memperkeruh suasana,ponsel uwaku mati. Sibuklah kita mencari charger. Setelah dihidupkan,barulah bisa dilihat nomor terakhir yang menghubungi uwaku. Nomornya asing,semakin kuat dugaan kami kalau ini penipuan. Tinggal menunggu kabar dari adikku yang sedang ke rumah paman.

Selang beberapa menit,karena memang rumah pamanku tidak jauh dari rumahku,adikku bilang kalau paman lagi tidur dan akan segera menyusul ke rumah. Pada saat menanyakan keberadaan paman ke istrinya adikku bilang kalau ada masalah dengan listrik dirumah. Dia tidak mau istri pamanku panik,jadi menggunakan alasan masalah listrik karena itu salah satu alasan kami jika membangunkan paman tengah malam atau pagi-pagi buta seperti kali ini.

Seisi rumah sudah mulai tenang,yang ada kami semua tertawa menyadari apa yang barusan terjadi. Menyadari sedikit kebodohan kami yang begitu panik,sampai harus berdebat ini itu untuk mencari solusi sebelum mengambil tindakan untuk menghubungi ponsel pamanku atau mengecek keberadaannya dirumahnya.

Penipu oh penipu
Mereka sangat tau bagaimana cara membuat panik si korban dengan menggunakan saudara,anak atau orang-orang yang dicintai sebagai trik. Karena rasa sayang itu dan kondisi panik sehingga banyak yang tidak berpikir jernih dan akhirnya mau mengikuti keinginan si penipu untuk mentransfer sejumlah uang.
Dan hampir saja keluarga kami menjadi korban,kami panik,kami tidak mengerti prosedur kepolisian soal tangkap menangkap karena kami tidak pernah berurusan dengan polisi kecuali untuk urusan SIM. Tapi untungnya, Allah masih melindungi kami dari kejahatan dunia. Alhamdulillah..

Subuh ini lumayan seru,kami semua diberi "kuliah subuh" tentang bagaimanapun kondisinya, pikiran dan hati kita harus tetap jernih agar tidak mengambil keputusan yang tidak benar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar