Perjalanan dengan angkot ke Bojonegara siang tadi disuguhi cerita menarik (buatku) dari 2 orang ibu-ibu. Mau tidak mau aku ikut mendengarkan sampai cerita habis. Lebih tepatnya sampai aku turun.
Kedua ibu itu sama-sama pulang dari pasar dengan belanjaan yang luar biasa banyak dan memaksa pak sopir mengangkut hanya 4-5 orang di bangku belakang, satu orang di bangku depan samping sopir itupun penumpang masih harus mengangkat kaki karena terdapat belanjaan di bagian pijakan kaki. Mereka bertetangga kampung, dan ternyata teman ibu A masih saudara dengan ibu B. Jadilah obrolan itu mengalir begitu panjang.
Mereka bercerita tentang diri masing-masing yang ternyata punya kesamaan yaitu sama-sama menikah di usia muda.
Ibu A yang duduk di sebelahku bercerita kalau dia menikah satu tahun setelah lulus SMP, mungkin di usia sekitar 16-18 tahun. Dijodohkan orang tuanya. Sebetulnya dia ingin melanjutkan sekolah,tapi karena keterbatasan biaya akhirnya putus sampai SMP. Ayahnya sakit-sakitan. Dengan alasan,khawatir tidak berumur panjang dan supaya ayahnya masih bisa menikahkannya maka dia dijodohkan dengan seorang pria. Awalnga dia menolak,tapi ibunya mengancam. Kalau dia tidak mau berarti dia harus pergi dari rumah. Karena itu berarti dia tidak nurut orang tua. Dengan alasan patuh sama orang tua,akhirnya dia menerima perjodohan itu. Sekarang dia sudah mempunyai dua orang anak. Anak pertamanya kelas 6 SD, sedangkan adiknya masih berumur 3 tahunan.
Hem...menarik.
Lanjut ke ibu B, ceritanya tidak jauh berbeda. Dia menikah dua tahun setelah lulus SMP. Dijodohkan juga. Ibu B tidak banyak bercerita, dia sekedar mengiyakan apa yang ibu A ceritakan. Terlalu banyak bilang, "Ya, sama saya juga"
Ini yang menarik, begitu suami masing-masing bertanya pada mereka, apa mereka cinta sama sang suami?. Mereka memiliki jawaban yang sama, "cinta aja, wong udah nikah. Udah jadi suami-istri, ya harus cinta dong"
Ya, mereka tak perlu melewati masa-masa pacaran yang terlalu membuang waktu. Hanya calon suami mereka yang mencoba mengenal mereka, datang ke rumah mereka, berbincang dengan orang tua mereka. Mencari tahu seperti apa mereka, kemudian meminta baik-baik kepada orang tua mereka.
Mereka mengenal sang calon suami dari cerita orang tua, mengenal lebih jauh setelah menikah. Tapi, mereka dan suami mereka masing-masing memiliki komitmen untuk menjaga "ikatan" itu sampai akhir.
Orang tua dulu pada umumnya memang begitu, tapi mereka bisa menjaga pernikahan mereka sampai masing-masing tutup usia. Dan dua orang ibu itu tidak bisa disebut orang dulu, karena mungkin usianya tidak berbeda jauh denganku.
Begitulah sebenarnya islam mengajarkan dalam hal mencari jodoh. Tidak ada pacaran, dengan alasan atau modua apapun.
Dalam islam adanya ta'aruf. Saling mengenal antara laki-laki dan perempuan lewat perantara. Baik itu orang tua, saudara, guru atau siapapun yang dipercaya. Tidak ada dua-duaan atau interaksi tak penting sebelum menikah. Masing-masing menjaga diri.
Ta'aruf yang benar-benar jujur, terbuka satu sama lain. Diharapkan kedepannya tidak ada kekecewaan.
Banyak yang bilang, "emang bisa menikah ga pacaran?"
Jawabnya, bisa dong...sudah banyak contoh.
Allah akan memudahkan jika menurutNya saat itu telah tiba.
Kapanpun, dengan siapapun, dan dengan cara apapun. Jadi, tunggu saja janjiNya sambil terus memperbaiki diri.
Karena laki-laki yang baik, untuk perempuan yang baik. Begitupun sebaliknya....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar