Sekolah
di Indonesia tuh kurang menekankan pendidikan moral dalam pembelajarannya,
dalam kurikulumnya. Walaupun sekarang pendidikannya dikatakan berkarakter tapi
tetap saja ajaran moral seperti dipisahkan dari aspek kognitif. Bagaimana
tidak, dari ketiga ranah penilaian (kognitif, psikomotor, dan afektif) yang
menjadi indikator ketercapaian kompetensi ataupun standar kelulusan tetap saja
ranah kognitif yang utama. Patokannya nilai UN, UAS, KKM, kalau tidak sesuai
tidak lulus. Kalau tidak mencapai KKm remedial. Remedial dan remedial lagi
samapai bosan (gurunya pun bosan). Seakan-akan mereka hanya dituntut untuk
mendapatkan nilai bagus saja. Caranya bagaimana, terserah.
Urusan
moral seperti cenderung diserahkan kepada guru Pendidikan Agama. Walaupun pada
saat di perkuliahan, para guru sudah mendapat penjelasan bahwa setiap pelajaran
harus terintegrasi satu sama lain, pada prakteknya banyak yang tidak demikian. Tetap
fokus pada materi pelajarnnya. Namun, tidak sedikit juga guru-guru yang tetap
berperan sebagai pendidik yang sebenarya, tidak hanya mengajarkan materi tapi
juga menyampaikan dan memberi contoh moral yang baik. Hanya saja karena tidak
semua seperti itu atau mungkin juga jarang, maka biasanya respon
siswa pun kadang nyeleneh. Misalnya saja pernah ada guru matematika tingkat SMA
yang menghabiskan waktu hampir 15 menit untuk menyampaikan pesan moral dan
beberapa petuah, diakhir kalimatnya dia mendapatkan komentar yang kurang
diharapkan seperti ini misalnya, “Ini jadwal pelajaran matematika kan bu, bukan
agama?”
Kalau
cuma guru agama yang boleh menyampaikan apa bisa mencapai tujuan pendidikan
nasioanal? Pelajaran agama di sekolah itu Cuma 2x45 menit, belum lagi kalau
gurunya absen, belum lagi waktu-waktu mendekati UN yang semua jam pelajaran
yang tidak termasuk dalam UN diambil atau diisi oleh mata pelajaran yang di UNkan.
Dan agama tidak masuk ke dalam mata pelajaran UN. Kalau ada jam tambahan di
sekolah pasti diserahkan ke mata pelajaran yang di UN kan (walaupun guru agama
yang terlebih dahulu meminta). Apalagi ditambah orang tua di rumahnya juga cuek
dengan anaknya. Apa bisa menghasilkan lulusan yang tidak hanya pintar dalam ranah
kognitif saja?. Sudah gitu, kegiatan rohis dibatasi atau lebih parahnya lagi
beranggapan rohis itu tidak perlu. Terus mereka mau dapat “suplemen” moral dari
mana? Dari TV, internet, majalah?
Maka
tidak berlebihan rasanya jika moral dan mental kebanyakan orang Indonesia itu “jauh”.
Kurang disiplin, tidak menghargai waktu, egois yang melebihi batas normal,
bukan pekerja keras, kurang menghargai orang lain dll.
Ups,
tidak semua orang Indonesia kok. Gambaran di atas hanya untuk mereka-mereka
yang “merem” (baca: belum peduli). Yang “melek” juga tidak kalah banyak. Tapi mungkin
karena jumlahnya sedikit atau mungkin juga tidak eksis makanya seperti
tertutup. PR untuk semua orang-orang yang “melek”, yang peduli akan pentingnya
pendidikan lebih dari sekedar menyampaikan materi pelajaran. PR untuk para
pemegang kebijakan, untuk para pemimpin dari tingkat atas sampai bawah, untuk
para guru, untuk para orang tua, dan pelajar yang mau berubah mejadi lebih baik
Tidak ada komentar:
Posting Komentar