Kamis, 14 Februari 2013

curhat tentang pendidikan


Sekolah di Indonesia tuh kurang menekankan pendidikan moral dalam pembelajarannya, dalam kurikulumnya. Walaupun sekarang pendidikannya dikatakan berkarakter tapi tetap saja ajaran moral seperti dipisahkan dari aspek kognitif. Bagaimana tidak, dari ketiga ranah penilaian (kognitif, psikomotor, dan afektif) yang menjadi indikator ketercapaian kompetensi ataupun standar kelulusan tetap saja ranah kognitif yang utama. Patokannya nilai UN, UAS, KKM, kalau tidak sesuai tidak lulus. Kalau tidak mencapai KKm remedial. Remedial dan remedial lagi samapai bosan (gurunya pun bosan). Seakan-akan mereka hanya dituntut untuk mendapatkan nilai bagus saja. Caranya bagaimana, terserah.

Urusan moral seperti cenderung diserahkan kepada guru Pendidikan Agama. Walaupun pada saat di perkuliahan, para guru sudah mendapat penjelasan bahwa setiap pelajaran harus terintegrasi satu sama lain, pada prakteknya banyak yang tidak demikian. Tetap fokus pada materi pelajarnnya. Namun, tidak sedikit juga guru-guru yang tetap berperan sebagai pendidik yang sebenarya, tidak hanya mengajarkan materi tapi juga menyampaikan dan memberi contoh moral yang baik. Hanya saja karena tidak semua seperti  itu  atau mungkin juga jarang, maka biasanya respon siswa pun kadang nyeleneh. Misalnya saja pernah ada guru matematika tingkat SMA yang menghabiskan waktu hampir 15 menit untuk menyampaikan pesan moral dan beberapa petuah, diakhir kalimatnya dia mendapatkan komentar yang kurang diharapkan seperti ini misalnya, “Ini jadwal pelajaran matematika kan bu, bukan agama?”

Kalau cuma guru agama yang boleh menyampaikan apa bisa mencapai tujuan pendidikan nasioanal? Pelajaran agama di sekolah itu Cuma 2x45 menit, belum lagi kalau gurunya absen, belum lagi waktu-waktu mendekati UN yang semua jam pelajaran yang tidak termasuk dalam UN diambil atau diisi oleh mata pelajaran yang di UNkan. Dan agama tidak masuk ke dalam mata pelajaran UN. Kalau ada jam tambahan di sekolah pasti diserahkan ke mata pelajaran yang di UN kan (walaupun guru agama yang terlebih dahulu meminta). Apalagi ditambah orang tua di rumahnya juga cuek dengan anaknya. Apa bisa menghasilkan lulusan yang tidak hanya pintar dalam ranah kognitif saja?. Sudah gitu, kegiatan rohis dibatasi atau lebih parahnya lagi beranggapan rohis itu tidak perlu. Terus mereka mau dapat “suplemen” moral dari mana? Dari TV, internet, majalah?

Maka tidak berlebihan rasanya jika moral dan mental kebanyakan orang Indonesia itu “jauh”. Kurang disiplin, tidak menghargai waktu, egois yang melebihi batas normal, bukan pekerja keras, kurang menghargai orang lain dll.

Ups, tidak semua orang Indonesia kok. Gambaran di atas hanya untuk mereka-mereka yang “merem” (baca: belum peduli). Yang “melek” juga tidak kalah banyak. Tapi mungkin karena jumlahnya sedikit atau mungkin juga tidak eksis makanya seperti tertutup. PR untuk semua orang-orang yang “melek”, yang peduli akan pentingnya pendidikan lebih dari sekedar menyampaikan materi pelajaran. PR untuk para pemegang kebijakan, untuk para pemimpin dari tingkat atas sampai bawah, untuk para guru, untuk para orang tua, dan pelajar yang mau berubah mejadi lebih baik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar