Perkembangan teknologi saat ini sangatlah cepat. Seakan satu kecanggihan demi kecanggihan lainnya muncul tiap hari dan sudah barang tentu sangat mempengaruhi semua hal dalam segala bidang kehidupan.
Telepon selular misalnya, semua produsen berlomba-lomba mengeluarkan seri terbarunya yang didukung oleh fitur-fitur canggih, yang membuat sebuah telepon selular bukan hanya sekedar telepon biasa - hanya dapat digunakan untuk telepon dan sms - yang bisa digunakan untuk mengakses internet, mengabadikan gambar, dan melakukan aktivitas yang biasa dilakukan di depan komputer. Jadi kalau biasanya seseorang membutuhkan 3 barang untuk melakukan komunikasi, mengabadikan sebuah momen dalam gambar atau video, dan mengerjakan kegiatan ketik mengetik, menyelesaikan tugas kantor misalnya. Sekarang cuma butuh satu barang dan itu bisa masuk dalam tas, atau bahkan cuma segenggaman tangan.
Semua serba mudah dan praktis. Tiap orang bisa mengabarkan apa yang sedang dia lakukan dimanapun dan melihat kejadian-kejadian disuatu tempat yang berjarak ribuan kilometer langsung seperti hadir ditempat tersebut.
Kemudahan itupun berlaku dalam hal berkomunikasi. Kalau dulu ada telegram, surat atau kartu pos untuk berkomunikasi jarak jauh. Lebih maju sedikit, telepon baik itu telepon rumah atau ponsel. Sekarang, berbagai macam sosial media dan aplikasi-aplikasi khusus untuk berkomunikasi bermunculan.
Pertama, ada chating lewat internet. Kemudian muncul sosial media. Friendster (ini sosial media pertama yang dikenal penulis), bukan cuma sekedar menuliskan berita tapi bisa disertai gambar. Setelah itu bermunculan yang lainnya, ada facebook, twiter, google +, instagram, path dan lainnya. Fasilitas chating pun lebih canggih lagi, bukan cuma yahoo messanger tapi sudah ada whatsapp, line, we chat, kakao talk, Gtalk, entah apa lagi. Yang bukan hanya menyediakan layanan chating tapi juga telepon.
Hanya saja beberapa orang kurang bijak dalam memanfaatkan kemudahan dan kecanggihan yang ada. Mengumbar apapun tentang dirinya di sebuah sosial media, sehingga untuk mengenal orang cukup dengan melihat akun sosial medianya. Tidak semua memang, tapi kebanyakan seperti itu.
Berlomba-lomba memiliki banyak teman atau follower, entah kenal atau tidak. Efek negatifnya, banyak sekali korban penipuan dan kejahatan lainnya yang pelakunya adalah teman di jejaring sosialnya. Memanfaatkan teknologi bukan pada tempatnya.
Ada lagi fenomena baru yang muncul akibat sosial media dan fasilitas chating yang menjamur. Beberapa organisasi, LSM, pedagang, pejabat publik sampai presiden menggunakan fasilitas itu sebagai media untuk publikasi, sarana informasi atau sekedar membuat pencitraan baik pada semua orang.
Tidak jarang sebuah organisasi,komunitas atau kelompok-kelompok menggunakan sosial media untuk melakukan komunikasi dan koordinasi. Misalnya saja, karena masing-masing susah untuk bertemu langsung maka rapat dilakukan di grup chatting. Atau mengirimkan informasi, sharing bahkan mungkin sampai berdebat lewat sosial media melalui grup-grup tertentu dalam sebuah aplikasi obrolan.
Maka beruntunglah orang yang sering menengok akun sosial medianya atau minimal ponselnya sudah bisa selalu terhubung sehingga selalu mendapatkan pemberitahuan. Maka beruntunglah orang yang ponselnya sudah mendukung untuk mengunduh aplikasi-aplikasi obrolan yang sudah disebutkan di atas, selalu bisa memantau apa yang terjadi dan mendapatkan informasi terbaru.
Tapi akan menjadi orang yang tertinggal informasi jika jarang menengok akun sosial medianya kemudian ponselnya juga tidak mendukung, karena biasanya informasi hanya dibagikan lewat sosial media atau grup tadi. Jadi, seperti kurang bersahabat dengan pengguna ponsel yang cuma bisa telepon dan sms. Saat baru manggut-manggut mengerti, teman-teman yang lain sudah bisa bergerak.
Dalam rapat-rapat pun terkadang hanya membahas ulang apa yang sudah dibahas dalam diskusi grup lewat internet tadi, ada sih sedikit tambahan. Kadang terlalu sedikit sehingga membuat orang yang sudah menyimak sebelumnya malas berlama-lama hadir dalam sebuah rapat nyata, toh dia sudah menyimak di rapat online.
Mungkin fenomena ini hanya terjadi pada sebagian kecil orang, tapi setidaknya bisa menjadi bahan pertimbangan untuk orang lainnya. Bolehlah sesekali memanfaatkan teknologi komunikasi tapi bertemu langsung itu akan lebih baik kan?
Kita bisa melihat ekspresi wajah lawan bicara kita sehingga bisa mengerti maksud yang akan disampaikan.
Jadi biarlah sosial media dan kecanggihan komunikasi menghubungkan kita dengan orang yang benar-benar berjarak dengan kita.
Jangan sampai ungkapan kalau sosial media atau apapun itu bisa mendekatkan yang jauh tapi menjauhkan yang dekat, menjadi benar adanya. Karena komunikasi itu penting dalam interaksi manusia. Gara-gara salah komunikasi hubungan dua orang atau lebih bisa tidak baik. Silaturahim pun terputus.
Sikap bijak kita sebagai pengguna menjadi poin penting.
Bijak menyikapi teknologi. Bijak dalam berkomunikasi.
Jika tidak bijak, maka efek negatif yang didapat. Jika bijak, maka manfaat kemudahan itu akan sangat terasa.
Yup..positif dari kecanggihan komunikasi dapat dengan mudah menghubungkan qta dg orng2, tapi jangan sampe menjauhkankan yg dekat, bnyk rekan2 ku yg memanfaatkan fasilitas ini dg sangat mudah mereka berkomunikasi, berdiskusi, informasi sangat cepat sampai..tapi bagaimana dengan rekan2 yang belum diberikan fasilitas tersebut..mungkin belum mampu untuk memebeli alat komunikasi dengan berbagai kecanggihannya...lebih anehnya lagi rekan2 yang memiliki fasilitas tersebut terkadang tidak memberikan informasi, tidak mengajak diskusi..bahkan terkadang informasi pekananpun lewat fasilitas tersebut...alhasil tidak datang rekan yang tidak memiliki kecanggihan alat komunikasi tersebut...aku sepakat dengan penulis, alangkah bijaknya jika diskusi, informasi disampaikan tidak hanya lewat online tapi lewat pertemuan langsung sehingga bisa melihat ekspresi wajah dari rekan2 yang datang..yang bisa jadi kalo lewat online ada yang salah tangkep, salah faham...so..bijak menyikapi tekhnologi, bijak berkomunikasi....^-^
BalasHapus